
Sam dan Viana sudah sampai di lobby Mall grand Indonesia sedangkan Mang Asep melanjutkan mobilnya untuk mencari parkiran dan menunggu majikannya disana. Suasana Mall ini selalu ramai dikunjungi oleh pengunjung.
Sam dan Viana berjalan mengelilingi lantai satu. Belum lama melihat-lihat Viana sudah mengajak Sam masuk ke toko baju bermerk yang harganya pun diatas 500 ribu. Selesai memilih baju dan membayarnya mereka berdua mencari restoran khas Indonesia sebelum melanjutkan kegiatan shopping di lantai selanjutnya.
Selang 45 menit, mereka pergi ke lantai 3 atas permintaan Viana yang ingin membeli perhiasan. Mereka berdua pergi kesana dengan menaiki lift yang jaraknya tidak jauh dari restoran yang mereka pilih.
Sesampainya di lantai 3 Viana melihat banyak sekali perhiasan yang memukau matanya yang dijajakan oleh penjual-penjual yang berbeda. Jiwa matre Viana pun muncul. Ia mencari-cari kalung berlian sambil menanyakan harga-harganya pada mba-mba yang jaga disana.
Saat Viana sedang asyik memilih perhiasan, mata Sam menangkap seorang wanita yang belum lama ia kenal dan jaraknya tidak jauh dari Sam menunggu Viana.
"sayang aku mau bicara sama temen aku dulu ya. Ini penting. Kamu pegang kartu aku... belanja aja sepuasnya" ucap Sam sembari memberi kartu BRI Wonderful Indonesia. Viana menerima kartu Sam tanpa banyak tanya dan melanjutkan kegiatannya memilih-milih perhiasan yang cocok dengan seleranya.
Sam buru-buru menghampiri Indah yang sedang berjalan menuju eskalator.
"Indah" panggil Sam dengan suara nyaring agar di dengar orang si pemilik nama.
"loh... Sam?" Indah berbalik badan menengok ke sumber suara dan mendapati sosok Sam yang tak jauh dari tempatnya. Indah mengurungkan niatnya menaiki eskalator.
"kamu ko ada disini?" tanya Indah tak percaya bisa bertemu dengan Sam di mall.
"aku mau bicara sama kamu" ucap Sam sambil mengatur nafasnya.
"tentang apa?" tanya Indah mulai GE-ER.
"waktu itu... apa yang terjadi antara aku dan kamu?" tanya Sam to the point. Bukannya menjawab Indah malah tertawa. Entah apa yang lucu hingga Sam pun bingung dengan ekspresi yang indah tunjukan saat ini.
"kamu mau ngomong sama aku cuma bahas itu?" Indah balik bertanya dengan kekehan kecil. Ya ampun Indah terlihat sangat manis saat tertawa.
"ok... sebelumnya gue minta maaf sama kamu Sam" ucap Indah mendekatkan dirinya lebih dekat dengan Sam. "kamu ingatkan waktu aku kasih minuman ke kamu?" tanya Indah dan Sam mengangguk.
"nah minuman kita itu ketuker. Jus yang kamu minum ada obat tidurnya dan seharusnya itu buat aku karena aku menderita insomnia...." ucap Indah menerangkan namun Sam tidak sabar pada intinya.
"lalu?" sela Sam
"nah pas aku udah nyampe kamar aku denger keributan di luar terus aku liat kamu tidur di lantai depan pintu kamar sebelah kamar aku. Sebelum kamu ketiduran kamu nabrak OB yang lagi bawa ember berisi air penuh. Jadi pakaian kamu basah semua" Ucap Indah panjang lebar.
"karena aku gak tau nomor kamar kamu jadi aku minta OB itu buat bopong kamu ke kamar aku sekalian lepasin pakaian kamu karena kamu basah kuyup waktu itu." lanjutnya.
"terus kamu?" tanya Sam
"aku tidur di kamar temen aku. Dan jam 5 pagi aku cek out dari hotel karena bokap udah nelfon tadi malem. Pas aku ambil koper aku di kamar, kamu masih tidur nyenyak. Aku gak tega buat bangunin kamu" terang Indah
Mendengar cerita Indah akhirnya Sam bisa bernapas lega. Syukurlah tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Indah. Jika hal itu sampai terjadi, Sam tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
"maaf udah ngrepotin kamu" Kata Sam
"kamu pasti mikir yang gak-gak malam itu, iya kan?" tanya Indah sambil memukul lengan Sam pelan. Sam hanya menggarukkan kepalanya yang tidak gatal karena malu.
"lagian aku juga gak mau ngelakuin itu tanpa dasar suka sama suka" lanjut Indah dan Sam hanya menanggapinya dengan senyum.
Karena saking penasarannya dengan cerita Indah, Sam sampai melupakan istrinya yang sedari tadi memperhatikannya dari jarak jauh. Wajah Viana sudah memerah dengan sorot mata yang tajam memperhatikan suaminya dan wanita lain berbincang dengan akrabnya. Nafasnya tersengal menahan amarah yang siap meledak.