Betrayal Of Love

Betrayal Of Love
Extra Part 11



Ke-esokan harinya, Viana dan Sam sudah bersiap siap untuk olahraga jalan santai di depan komplek perumahan elit mereka. Karena hari ini adalah hari minggu, banyak orang-orang yang berolahraga sambil menikmati pemandangan laut sebagai pemandangan utama mereka.


Ira pun tidak mau kalah dengan Viana dan Sam. Ia sudah bersiap dengan sepatu sneaker hitamnya dan sekarang tinggal menunggu kedatangan Aldo yang sudah mengajaknya olahraga bersama di car free day.


Sebenarnya Viana ingin jogging mengelilingi sepanjang jalan komplek perumahan elitnya yang juga ditumbuhi pohon palm sehingga membuat pemandangannya semakin cantik dan asri tapi karena ia sedang hamil trimester ke-2 jadi tidak memungkinkan untuknya berjogging. Dan satu hal lagi, bisa-bisa Viana tidak mendapat uang belanja selama satu bulan jika ia memaksa jogging saat perutnya sudah membuncit itu karena Sam pasti melarang keras. Mencari aman dan sehat, jalan santai adalah satu-satunya olahraga yang tepat untuknya.


Jalanan sudah mulai ramai dengan orang-orang yang berolahraga. Dari anak-anak hingga orang tua, dari lelaki hingga wanita, dari yang single dan sudah menikah, mereka berolahraga dengan sekedar jalan santai, jogging, senam dan juga berduaan di pinggir jalan dapat Viana lihat.


Ditemani Sam, Viana berjalan santai tanpa melepaskan rangkulan tangannya dari lengan Sam. Takut jika ada gadis yang menggoda suaminya. Berjalan rangkulan saja banyak gadis yang mengerlingkan mata ke suaminya, apalagi jika Sam sendiri, bisa-bisa banyak gadis yang mengerubungi suami bulenya.


Ingin rasanya Viana memaki cewek-cewek centil itu yang berani senyam-senyum ke arah Sam sambil mengedipkan satu matanya. Jika tangannya tidak digenggam oleh Sam, bisa dipastikan jika Viana sudah menjambak rambut cewek-cewek itu. Tidak bisakah mereka lihat bahwa istrinya sedang hamil? Ah mereka sepertinya memiliki bakat untuk menjadi pelakor, batin Viana dalam hati.


Setelah satu jam berjalan santai, Viana dan Sam memutuskan untuk pulang ke rumah. Lagian Viana juga tidak tahan dengan godaan cewek-cewek terkutuk itu kepada suaminya.


Sesampainya di rumah, Viana merebahkan tubuhnya di sofa ruangan keluarga. Ia menyalakan televisi sambil menikmati sarapan yang barusaja diantar bi Ida ke hadapannya. Sedangkan Sam, ia memilih masuk ke kamarnya untuk mandi dan setelah itu bergabung dengan istrinya di ruang keluarga.


Dengan berselonjor kaki, Viana menikamti acara televisi masha and the bear. Persis seperti anak kecil, acara tersebut menjadi acara favoritnya semenjak hamil. Bi Ida yang tau kebiasaan majikannya hanya menggeleng-geleng kepala melihat nyonya besarnya menyukai acara televisi anak-anak.


Sam yang barusaja turun dari lantai dua terkekeh geli melihat tayangan tv yang ditonton istrinya. Ia lalu duduk di samping kaki Viana yang selonjoran di sofa panjangnya dan merebut toples kacang Almond dari tangan Viana.


"sam...." protes Viana. Ia lalu bangun dan menenggak jus alpukat yang tersedia di meja di depannya.


"kemarin nonton ini, sekarang nonton ini, sejak kapan kamu suka tayangan anak-anak?" tanya Sam tak mengindahkan protesan Viana yang sudah merebut toples kacangnya.


"udah sarapan?" tanya Sam lagi dan Viana mengangguk.


"kenapa gak bareng sih?" Sam merajuk. Ia meletakkan toples kacang almond ke meja kemudian melipat kedua tangannya di depan dada.


Ya Tuhan, ngapain juga sih Sam merajuk gini? gak ngaca apa dia udah mau punya anak 4 dan tingkahnya tak jauh beda dengan Louisa. Melihat Sam merajuk Viana jadi tak enak. Ia meminta bi Ida mengantarkan sarapan untuk suaminya. Setelah itu Viana menyuapi Sam sebagai permohonan maafnya.


Yes! Sam berhasil menggoda Viana! Ia tertawa dalam hati melihat air muka Viana yang merasa bersalah. Tak apa kan sekali-kali Sam mengerjai istrinya dan bermanja-manja padanya? Sam juga ingin dimanja, bukan hanya Viana.


Di suapan terakhirnya, Viana dan Sam mendengar bunyi bel berkali-kali.


"berisik! siapa sih yang bertamu pagi-pagi gini?" protes Viana lalu bangkit dari duduknya.


"biar aku aja yang buka pintu" tawar Sam lalu melangkah menuju pintu.


Tangan Sam sudah berada digagang pintu bersiap untuk membukanya.


Ceklek


Mata Sam membulat lebar tak percaya melihat ketiga tamunya di ambang pintu. Jantungnya berpacu cepat dengan napas tercekat.


"daddy" ucap Louisa dan Lucy berbarengan lalu berhambur memeluk kaki Sam karena tubuh mereka yang masih kecil sehingga belum bisa meraih tubuh ayahnya yang tinggi.