
"oh ya.. cewe yang tadi siapa?" tanya Liana yang sudah memasuki apartemen Aldo
"hmm...itu tunangan gue" jawab Aldo berat. Liana menoleh ke arah Aldo.
"udah tunangan ya?" tanyanya memastikan dengan nada getir.
"ya. 4 minggu lagi gue nikah" jawab Aldo. Entah kenapa hatinya begitu bimbang. Ia masih mencintai Liana tapi ia juga mencintai Viana. Keduanya sama-sama tidak ingin Aldo lepaskan. Alasan yang Liana jelaskan membuat hati Aldo terenyuh tapi disisi lain ia juga sadar ada gadis lain yang hatinya harus ia jaga. Aldo terjebak diatara dua pilihan.
"selamat ya" ucap Liana dengan menyunggingkan bibirnya meskipun begitu terlihat jelas raut kesedihannya. Aldo tidak tega melihatnya.
"minggu depan lo pindah apartemen. Jangan khawatir nanti gue beliin. Lo juga bisa ajak adik lo tinggal di apartemen baru lo nanti" lanjut Aldo
"pasti apartemen ini buat lo tinggal bareng istri lo nanti ya?" tanya Liana memastikan
"hemm" jawab Aldo yang hatinya merasa tidak enak. "lo istirahat aja dulu. Gue masih ada urusan" ucap Aldo. Liana lalu menghampirinya kemudian memeluknya seolah menganggap bahwa Aldo masih kekasihnya. Aldo membalas pelukan Liana dan mengelus punggungnya.
*****
"jadi dia siapa?" tanya Viana dengan tatapan mengintimidasi.
"te..temen" jawab Aldo tanpa mau memandang Viana
"JAWAB YANG JUJUR!!" bentak Viana merasa Aldo menutupi sesuatu darinya.
"oke gue jawab jujur tapi lo jangan marah" pinta Aldo sambil memegang tangan Viana
"sayang... jangan gitu donk" bujuk Aldo
"udah sekarang jujur dia siapa? mantan?" sergah Viana yang tak sabar.
"iya" jawab Aldo pelan. Viana lalu bertepuk tangan.
"hahaha" tawa Viana yang membuat Aldo bingung. Namun bisa Aldo liat ada cairan bening yang hendak keluar dari sudut mata indahnya "bagus... satu bulan lagi nikah dan mantan lo balik" lanjut Viana.
"gue tetep mau lanjutin pernikahan kita. Dia cuma mantan" jelas Aldo
"tapi lo masih suka kan?" tanya Viana
"gak... gue udah gak suka. Bagi gue masa lalu tetep masa lalu dan itu udah gak penting" jawab Aldo berbohong tak ingin menyakiti hati Viana. Entah kenapa jawaban Aldo tidak membuat hati Viana puas. Ia merasa Aldo menutupi sesuatu.
"sekali gue liat elo ketemu dia lagi, gue gak akan pikir kedua kali buat batalin pernikahan kita!" ancam Viana serius. Aldo menelan salivanya. Bagaimana jika Viana tau kalau Aldo membiarkan Liana tinggal di apartemennya? Jantung Aldo berdetak kencang.
"sayang..." panggil Aldo mencoba mencairkan suasana. "makan yuk biar ada tenaganya buat marah-marah. Nanti habis itu kita shopping" ajak Aldo lalu menggandeng tangan Viana dan Viana tidak menolaknya.
Mendengar kata shopping sulit bagi Viana untuk menolak. Aldo yang sudah belajar dari kesalahan kemarin tau obat jika Viana ngambek adalah shopping. Karena seberapa keras Aldo membujuk atau berkata manis, itu tidak akan bereaksi apa-apa bagi Viana. Hanya shopping yang menjadi obat mujarab baginya.
Setelah makan malam dan shopping berbagai macam belanjaan, Viana kembali bersikap mesra pada Aldo. Meski hati Viana belum sepenuhnya mencintai Aldo tapi ia tidak ingin cinta Aldo terbagi dua apalagi hubungannya harus hancur karena orang ketiga. Viana benar-benar takut kehilangan Aldo setelah ia kehilangan Sam. Ia tidak ingin merasa kehilangan untuk yang kedua kalinya.
"pulang dari sini, gue mau mampir ke apartemen kita sekalian mau gue tata belanjaan-belajaan ini disana" ajak Viana yang sontak membuat jantung Aldo berpacu cepat melebihi cepatnya denyutan jantung para pelari maraton.