
Hari Viana terasa begitu indah. Tak sedetik pun ia lewati harinya tanpa memikirkan Sam. Rasanya ia ingin bertemu Sam tiap waktu tapi itu tidak mungkin karena mereka berdua memiliki kesibukan masing-masing.
Apa yang Viana rasakan juga dirasakan oleh Ira. Ia selalu terbayang dengan Jojo. Sikapnya yang tidak bisa ditebak membuat Ira semakin penasaran dengan lelaki itu. Andai saja tidak ada hari libur pasti Ira bisa melihat Jojo setiap hari.
Kedua sahabat ini jatuh cinta di waktu bersamaan. Bagaikan kuncup bunga yang baru bermekaran, hati mereka dihiasi warna-warni bunga yang begitu indah. Cinta terkadang membuat orang bahagia tak terkira namun tak jarang pula cinta membuat orang merana tak terhingga. Siapapun yang barani jatuh cinta maka harus berani pula menanggung konsekuensinya. Entah berakhir manis atau tragis.
Di lain tempat, Sam mengantar Dinand, Gofar, dan Hilmaz ke Bandara karena mereka akan berlibur ke Jogjakarta sedangkan Sam lebih memilih tetap tinggal di Jakarta demi Viana. Sam sama sekali tidak ingin jauh dari Viana.
------------
Semenjak kejadian di pesta, hubungan Viana dan Sam semakin lengket. Ini karena Viana sudah membuka hati untuk Sam. Setiap hari mereka selalu menyempatkan waktu untuk bertemu selepas kerja.
"nonton yuk" ajak Sam pada gadis cantik yang digandengnya.
"yuk" jawabnya dengan senyum sumringah.
"tapi aku mau makan dulu.. laper" lanjut Viana dengan nada manja sambil mengelus perut datarnya.
"ya udah" jawab Sam sambil mengeratkan gandengannya di tangan Viana.
Keromantisan mereka berdua seperti pasangan yang baru saja jadian. Padahal Viana belum menjawab pernyataan cinta Sam. Namun dari sikap yang ditunjukan Viana terlihat jelas bahwa gadis itu memiliki perasaan lebih dari sekedar partner kerja.
"Sam aku mau nikmatin kota Jakarta di malam hari" ujar Viana
"kan sekarang kita lagi menikmatinya sayang"
"maksudnya aku pengen nikmatin suasana Jakarta sambil jalan kaki" terang Viana
Pria bule ini memang selalu bisa membuat Viana bahagia dengan caranya. Apapun yang Viana mau pasti ia turuti. Viana dan Sam keluar mall dengan masih bergandengan tangan.
Mereka berdua menyusuri kota Jakarta. Langkah keduanya beriringan sambil menikmati suasana dengan pemandangan gedung pencakar langit yang membuat Viana takjub. Salah satu alasannya karena ia juga bisa menikmatinya dengan orang yang dicintai.
Viana berlari kecil saking senangnya. Tak perlu untuk berlari juga bagi Sam yang berkaki jenjang. Cukup melebarkan langkahnya ke depan maka ia bisa menyusul Viana yang terus berlari kecil seperti anak-anak yang kegirangan diajak jalan-jalan orang tuanya.
"aku mau itu!" tunjuk Viana pada pedagang tahu gejrot yang ada di seberang. Tanpa menunggu persetujuan dari Sam gadis itu langsung menyebrang jalan menghampiri pedagang tahu gejrot. Sam menyusul dari belakang mengikuti langkah Viana.
Bruuuukkkkk
Suara keras benda jatuh yang dibarengi klakson panjang dari mobil membuat suasana menjadi riuh. Viana yang penasaran hendak bertanya pada Sam penyebabnya. Namun seseorang yang dimaksud tidak ada.
Viana mencari sosok Sam namun tidak juga ia temukan. Matanya melihat ada kerumunan orang di tengah jalan. Entah apa yang terjadi namun Viana mendekati kerumunan tersebut karena penasaran.
"ketabrak mobil" Viana mendengarnya dari orang di kerumunan itu. Viana menerobos agar ia bisa melihat siapakah gerangan.
Namun dadanya begitu sesak saat ia melihat korban kecelakaan adalah orang yang dikenalnya. Ah... ia sungguh tidak menyangka. Matanya panas dan lututnya begitu lemas.
"Sam!!!!" teriak Viana yang tangisnya pecah sambil merangkul kepala Sam ke pangkuannya.
"tolong panggilkan ambulan cepat!!" pinta Viana pada orang-orang yang ada disana.
Darahnya terus mengucur dari kepala hingga pakaian Viana bersimba darah.
"Sam... bangun" pinta Viana memegang pergelangan tangan Sam yang denyut jantungnya kian melemah. Tak kuasa menerima kenyataan yang ada di depannya, Viana tidak sadarkan diri. Tubuhnya tumbang saat itu juga.