Betrayal Of Love

Betrayal Of Love
Sebuah Rencana



Flashback On


Sam memegang pipi Viana lalu ditepis gadis yang sedang menyuapinya. Viana menghentikan aktifitasnya menyuapi Sam karena sejujurnya hatinya masih sakit dengan semua kebohongan Sam.


"jaga batasan kamu!" protes Viana. Aldo yang melihat dan mendengarnya merasa puas dengan respon yang diberikan Viana.


"mungkin ini jadi pertemuan terakhir kita" ucap Sam yang membuat jantung Viana berdesir jika mendengar perkataan pertemuan terakhir. Sungguh, Viana benci perpisahan.


"mungkin lebih baik begitu" jawab Viana berusaha tegar meski hatinya tidak setegar itu.


"maafkan aku Vi" ucap Sam penuh penekanan


"sudah aku maafkan" respon Viana enggan melihat ke arah Sam. Sam mencoba meraih tangan Viana namun gadis itu menghindar.


"gak usah cari-cari kesempatan" umpat Aldo yang langsung menghalau tangan Sam.


"udah..udah.. kalian jangan berantem" kata Ira melerai agar tak terjadi pertengkaran antara kedua pria itu.


Ponsel Aldo berdering. Aldo melihat layar ponselnya malas. Tertera nomor baru yang tidak dikenalnya lalu memasukan kembali ke saku celananya tanpa niat mengangkat panggilan tersebut.


"kenapa gak diangkat?" tanya Viana


"gak penting" jawab Aldo singkat


"oh" jawab Viana tak kalah singkat


"hanya oh?"


"terus?"


"dasar gak peka!" tegas Aldo dan Viana tak ambil pusing.


"elo gak pulang?" tanya Viana pada Aldo sambil menyodorkan sebotol minuman untuk mencairkan suasana


"nungguin calon istrilah" jawab Aldo girang mendapat perhatian Viana


"Ira?" tanya Viana pura-pura tak faham.


"iya" jawab Aldo menggoda dan Viana langsung menatapnya sinis.


"dasar buaya darat" umpat Viana pelan namun masih bisa didengar oleh penghuni ruangan tersebut. Ira yang mendengarnya terkekeh.


**Flashback Off


----------**


Aldo memang tak pernah suka dengan Meli. Jangankan suka bahkan tertarik pun tidak. Ya, hatinya memang tak pernah mau membuka ruang untuk Meli karena sudah dipenuhi dengan nama Viana di setiap ruang hatinya.


Aldo mengambil remote lalu mengatur suhu AC kamarnya. Ia memejamkan matanya melepas penat sekaligus memulihkan tenaganya yang sudah terkuras cukup banyak setelah berkelahi dengan Sam.


Tok....tok...tok....


Seseorang mengetuk pintu kamarnya namun Aldo tetap cuek dengan posisi yang masih sama. Ia seolah tak mendengar ketukan tersebut.


"Aldo" panggil Meli dari luar kamar. Aldo tetap diam enggan menjawab. "ayo kita makan. Tante Nita udah nungguin kamu di bawah" lanjutnya namun Aldo tetap enggan bersuara.


"Aldo..." panggil Meli sekali lagi


"makan duluan aja. Gue capek mau tidur" saut Aldo dengan mata yang masih terpejam.


"tapi..."


"gue udah makan" sela Aldo agar Meli segera pergi dan tidak mengganggu waktu istirahatnya.


"kenapa susah banget sih dapetin cowo yang satu ini? kurang gue apa coba? cantik iya, seksi iya, tajir iya. Mau dia apa sih? gue harus gimana lagi?" celetuk Meli dalam hati dengan perasaan kesal.


"Aldo gak mau gabung tante" adu Meli pada Nita


"loh kenapa?"


"katanya dia udah makan"


"ya udah kita makan berdua aja sayang"


"mmmm... gak usah tante. Meli langsung pulang aja" tolak Meli merasa usahanya sia-sia.


"tapi kamu belum makan sayang"


"gak apa-apa tante. Meli bisa makan di rumah aja"


"maafin sikap Aldo ya" ucap Nita tak enak


"ya udah Meli pulang dulu tante" pamit Meli sambil mencium punggung Nita.


"hati-hati sayang" pesan Nita dan Meli membalas dengan senyum manisnya.


"kita liat aja nanti" ucap Meli dalam hati merencanakan sesuatu yang tidak baik.


Love ;-*