
Sam masuk ke kamar dan melihat Viana sedang menidurkan kedua anak tirinya. Melihat itu, Sam sangat bahagia. Ia merasa sangat beruntung bisa memiliki istri yang mampu menyayangi anak-anaknya itu.
Sam ikut bergabung dengan mereka dan membaringkan tubuhnya di samping Viana. Dielusnya rambut hitam sang istri dengan penuh kasih sayang. Merasa ada yang menyentuhnya, Viana membuka matanya.
"tidurlah" pinta Sam
"aku masih penasaran Sam. Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa tiba-tiba mereka kesini?" tanya Viana
"mantan istriku meninggal" ucap Sam menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Viana.
"apa?? kamu gak salah denger kan?"
"ssttt... jangan berisik nanti mereka bangun"
"lalu?" tanya Viana lagi
"mmm...Louisa dan Lucy akan tinggal disini." ucap Sam ragu "boleh kan?" ucapnya meminta izin.
Viana diam sejenak. Ia memikirkan betapa malangnya nasib mereka. Di usia yang masih sangat kecil mereka harus kehilangan kasih sayang seorang ibu. Viana tidak bisa membayangkan jika hal ini terjadi pada anaknya. Entah kepada siapa anak-anaknya akan berlindung.
Berbeda dengan Sam, keterdiaman Viana membuat Sam semakin yakin bahwa istrinya mungkin tidak setuju dengan usul itu. Sam jadi khawatir dengan kedua anaknya jika Viana keberatan mereka tinggal seatap.
"kamu tolong ajari mereka bahasa Indonesia ya biar aku bisa lebih mudah komunikasi dengan mereka"
Sayangnya apa yang difikirkan Sam salah besar. Tidak perduli anak siapa, Viana memiliki jiwa kasih sayang yang besar jika itu menyangkut dengan anak kecil.
Jawaban Viana sontak membuat Sam kegirangan. Akhirnya ia bisa mengurus anak-anaknya dengan tangannya sendiri. Jujur saja Sam sangat rindu dengan darah dagingnya.
"makasih sayang" satu kecupan mendarat di kening Viana.
Berani menikahi Sam sama artinya berani menanggung segala konsekuensinya. Dan inilah yang harus Viana tanggung. Mengurus, mendidik, merawat, dan membesarkan kedua anak tirinya. Tapi Viana tidak keberatan. Ia berharap kehadiran kedua malaikat kecil ini bisa mengusir rasa sepinya yang mana ia dilarang Sam untuk bekerja.
Viana harap mereka bisa menerima calon adik kembar mereka seperti ia menerima mereka dengan tangan terbuka. Bermain bersama, bercanda bersama dan bahagia bersama adalah harapan terbesar Viana pada anak-anaknya kelak. Viana jadi tidak sabar untuk menanti kelahiran darah dagingnya sendiri.
Sore hari, Viana dan Sam berencana pergi ke supermarket untuk membeli semua kebutuhan Lucy dan adiknya mulai dari peralatan mandi, pakaian, camilan, dan mainan. Viana memanfaatkan kesempatan ini untuk jajan di pinggir jalan.
Setelah membawa sate ayam, bakso cuanki, tahu gejrot, getuk, dan belanjaan untuk Lucy dan Louisa, Viana akhirnya mau diajak pulang karena sedari tadi ia enggan untuk pulang sebelum mendapatkan bakso cuanki sehingga mereka harus menyusuri setiap jalanan demi mendapatkan bakso itu.
Jika berhadapan dengan Sam, watak Viana seperti anak kecil. Tapi jika berhadapan dengan anak kecil, Viana bisa bersikap dewasa. Dan inilah yang membuat Sam tidak bisa marah padanya.
Sesampainya di rumah, Viana dan Sam melihat kedua anaknya sedang bermain dengan Ira di depan rumah. Mereka nampaknya sudah mandi dan berganti pakaian dengan pakaian yang mereka bawa di dalam tas ranselnya.
"daddy" panggil Lucy dan Louisa berbarengan
"apa? daddy?" tanya Ira karena belum tau bahwa mereka adalah anak Sam.
"jadi mereka anak kamu Sam?" lanjut Ira mengusir rasa penasarannya. Dan Sam mengangguk.
"pantes mukanya mirip" komen Ira.
"lo yang mandiin mereka?" tanya Viana
"iya habisnya gue gemes liat anak-anak lucu gitu. Mana cantik lagi. Lo cium aja mereka udah wangi kayak gue" ucap Ira menyombongkan diri.
"percuma kalo wangi tapi belum ada yang lamar" cibir Viana
"rese lo" umpat Ira dan Viana terkekeh.
"oh iya Vi, elo kan bentar lagi jadi keluarga besar ni. Gimana kalo gue pindah aja. Gue gak mau repotin elo" ucap Ira meminta izin
"enak aja... elo mau menghindar dari tugas elo?" sentak Viana
"huh? tugas apa?"
"tugas bantuin gue ngurusin mereka lah. Beberapa bulan lagi kan gue lahiran dan pasti bakal repot banget. Elo tega ninggalin gue ngurus empat anak sendirian?" sewot Viana yang sebenarnya tak rela ditinggal Ira.
"elo kan bisa nyewa jasa babysitter" usul Ira
"gak!! pokoknya elo gak boleh pergi kecuali elo udah nikah" tolak Viana mentah-mentah. Dan Ira hanya bisa mengalah. Ia tahu Viana tidak rela dengan kepergiannya. Baiklah... Ira angkat tangan untuk sekarang ini.