
"Viana!!" panggil Sam dengan nada emosi melihat Viana sedang bersama Aldo.
"kamu? ngapain kamu kesini?" tanya Viana kaget sekaligus marah karena mengingatkan akan kebohongan Sam.
"heh mau apa lagi elo kesini?!" tanya Aldo melipat lengannya siap memberikan bogem mentah ke arah Sam jika saja Viana tidak segera meraih tangan Aldo.
"ayo kita pulang" perintah Sam sambil menarik tangan Viana tanpa aba-aba. Mendapat perlakuan itu, Viana memutar badannya dan melihat kearah Aldo meminta bantuannya agar bisa lepas dari Sam yang memegang tangannya kuat.
Melihat gadis yang dicintainya dibawa paksa pria lain, Aldo tidak tinggal diam. Ia mengejar Sam lalu menarik kerahnya dan...
BUG.....
Sebuah pukulan keras mendarat di pipi putih Sam yang ditumbuhi jambang tipis. Pukulan itu mampu membuat Sam meringis namun tidak jera. Sam membalasnya dengan memberikan tendangan di betis Aldo hingga tersungkur.
"aaaaa" teriak Viana menyaksikan kedua pria di depannya beradu pukulan seperti jagoan. Viana mencoba melerai dengan menarik Aldo yang posisinya berada di atas perut Sam sambil terus melayangkan bogem mentahnya.
"hey kalian apa-apaan?" teriak Ira seperti pahlawan kesiangan yang datang saat perkelahian tersebut hampir usai. Kedatangan Ira diikuti para pengunjung lainnya karena kegaduhan yang dibuat Aldo dan Sam "kenapa Sam ada disini?" tanya Ira yang melihat Sam masih terkapar lemah dengan darah yang mengucur dari sudut bibirnya.
Lutut Viana terasa lemas. Airmatanya terus mengalir melihat Sam bersimba darah dan Aldo yang babak belur. Tak dipungkiri Viana masih menyimpan rasa pada Sam dan ia juga merasa tak tega dengan wajah Aldo yang penuh dengan memar.
Namun begitu, Viana lebih memilih tidak menolong keduanya dan pergi meninggalkan mereka berdua dengan diikuti oleh Ira.
"Viana besok aku akan kembali ke Prancis" lanjut Sam lagi. Mendengar itu airmata Viana bertambah banjir. Sam bangkit dengan bersusah payah dan menghampiri Viana yang berjarak 10 meter darinya.
"maafkan aku Vi" sesal Sam yang kembali tersungkur menahan sesak di dadanya.
"Sam..." Viana mendekati Sam refleks dan menopang tubuh Sam. Tau bahwa Viana masih perhatian padanya, bibir Sam pun mengembang. Balutan kasih sayang Viana mampu meredam rasa sakitnya.
"ini mungkin pertemuan terakhir kita" kata pria bule itu lagi dan kata-katanya mampu meluruhkan kemarahan Viana.
"Sam..." hanya itu yang keluar dari bibir Viana sambil menggelengkan kepalanya seolah tidak mengizinkan Sam untuk pergi.
Viana sesenggukan dalam tangisnya. Ia seakan tak rela ditinggal selamanya oleh Sam tapi ia juga sadar Sam tidak mungkin menjadi miliknya.
Sam merasa lebih aman dan nyaman berada dipangkuan Viana walau penglihatannya sedikit demi sedikit mulai kabur karena terhalang airmata yang sudah tak terbendung. Tangannya mengusap airmata di pipi mulus Viana.
Kedua sejoli ini sedang meratapi pertemuan terakhir mereka. Kisah cinta yang tak mungkin menjadi nyata berakhir dengan seribu luka. Meskipun hati tak ingin berpisah namun takdir sudah menciptakan dinding pemisah. Pada akhirnya cinta mereka terhalang dinding kaca.
Disisi lain, meskipun cemburu Aldo tetap menahan emosinya. Ia berfikir tak apa membiarkan Viana dengan Sam hanya untuk kali ini. Toh untuk besok dan selanjutnya hanya ia yang akan mengisi hari-hari Viana tanpa kehadiran Sam sebagai penghalang untuk mendapatkan Viana kembali. Aldo tersenyum smirk.