Betrayal Of Love

Betrayal Of Love
Extra Part 19



Sinar rembulan yang masuk melalui celah gorden yang terbuka menyinari bola mata cantik Viana sehingga sang pemilik mengerjapkan alat penglihatannya. Di kamarnya yang masih sangat gelap karena lampu yang belum dinyalakan Viana meraba tembok mencari-cari alat pemutus dan pengalir listrik.


Dengan jari tengahnya ia menekan saklar dan kini teranglah seluruh kamar Viana dengan cahaya listrik yang lumayan besar. Dengan penglihatan seterang ini ekor matanya menangkap sosok pria tampan yang sedang menggeliat saat wajahnya di terangi lampu yang Viana nyalakan tadi.


Sejak kapan Sam tidur dengannya? batin Viana.


Tunggu, kenapa tubuh Viana terasa dingin? Padahal AC di kamarnya tidak ia nyalakan. Kedua matanya ia alihkan melihat ke seluruh tubuhnya. Ya tuhan! sejak kapan Viana telanjang? Viana lalu teringat terakhir kali saat ia ketiduran adalah berendam di dalam bathub. Dan ia sudah bisa menebak pasti Sam yang memindahkannya tidur di ranjang. Tapi kenapa Sam tidak sekalian memakaikan ia pakaian atau setidaknya piyama tidur yang biasa ia pakai.


Aish! Viana mendengus kesal. Ia lalu membuka lemari pakaiannya untuk memakai piyama tidurnya. Saat ia akan mengikat piyamanya dengan pita, dua tangan kekar menyibak piyama bagian atasnya sehingga kedua pundak Viana terlihat. Dirabanya kedua pundak itu sebelum sebuah kecupan mendarat halus dipermukaannya.


Tidak! Viana sudah bertekad ia tidak akan berbicara dengan Sam apa lagi terbuai dengan permainannya. Biarkan saja malam ini Sam bermain solo. Katakanlah Viana sedang menghukum suaminya yang sudah mengacuhkannya tadi siang. Siapa suruh Sam berani bercanda dengan wanita lain di depan matanya. Sudah tau Viana tipe istri yang protektif dan cemburuan.


Merasa diabaikan, kedua tangan Sam melingkar memeluk tubuh Viana dari belakang dan menyandarkan janggutnya di pundak Viana. Viana hanya mematung tak merespon. Ia masih jengah dengan Sam.


Karena tak kunjung usai memeluk tubuhnya, Viana menyingkirkan kedua tangan Sam lalu kakinya melangkah keluar kamar. Satu demi satu anak tangga ia pijak. Langkahnya terhenti saat di meja makan. Hidangan malam sudah tersaji dengan rapi disana. Aromanya pun begitu menyeruak hidung Viana. Dengan cepat kilat, Viana langsung menyajikan nasi dan lauk-lauk untuk ia santap. Masa bodoh dengan Sam. Yang terpenting kedua calon bayinya tidak kelaparan diperutnya.


"aku minta maaf ya" ucap Sam mengagetkan Viana karena kedatangannya yang tiba-tiba duduk di samping Viana tanpa ada suara langkah atau apapun.


Masih diam tak menjawab, Viana terus memasukan makanan dipiringnya. Kehadiran Sam seperti tak dianggap olehnya. Sedangkan Sam, Ia yang diacuhkan Viana sadar diri karena ini semua adalah ulahnya. Sam nampak berfikir, otaknya sedang bekerja mencari ide bagaimana meruntuhkan tembok amarah istrinya.


Lima detik kemudian, Sam mengambil alih sendok yang dipegang Viana. Ia berniat menyuapi istrinya tapi sayang mulut Viana tertutup rapat. Ia enggan menerima suapan dari suaminya. Bahkan kini Viana menatap Sam tajam sebelum kemudian ia melengos ke lawan arah tak ingin memandang wajah suaminya. Sumpah demi langit dan bumi, lebih baik Sam melihat hantu daripada menghadapi Viana yang sedang marah karena tingkat keangkerannya lebih tinggi daripada melihat seluruh makhluk halus sekalipun.


Oke. Langkah pertaman gagal! Sepertinya Sam harus langsung mengeluarkan jurus pamungkasnya untuk merayu Viana agar mau memaafkannya.


Gagal


"shit!!!" Sam menghentakan kakinya ke lantai. Jurus pamungkasnya tidak mempan merayu istrinya. Dan sejak kapan Viana tidak tertarik dengan shopping? bukankah segala kemarahannya akan runtuh seketika saat Viana mendengar ajakan shopping? Sam buru-buru mengejar langkah kaki istrinya menuju ke kamar.


"dia pikir gue cewek matre apa?" umpat Viana pada dirinya sendiri sembari menutup pintu kamarnya kasar. Tidak sadar dengan kematreannya selama ini, Viana terus mengoceh tak jelas di dalam kamarnya.


Setelahnya, Viana merasakan perutnya melilit. Ia memegangi perutnya yang sakit lalu merebahkan tubuhnya berharap rasa sakitnya mereda. Tapi bukannya reda, ia justru merasakan perutnya semakin sakit hingga wajahnya meringis.


"kamu kenapa?" buru-buru Sam menghampiri istrinya yang memegangi perut dan wajah yang meringis menahan sakit.


"perut aku sakit" adu Viana. Akhirnya ego Viana runtuh juga.


"kita ke rumah sakit sekarang" Viana merasakan tubuhnya melayang di udara saat Sam membopongnya dengan wajah penuh kekhawatiran.


"bi, tolong kemasi beberapa pakaian istri saya dan langsung susul saya ke mobil" perintah Sam pada Bi Ina yang berpapasan dengannya di tangga.


"baik tuan" sahut Bi Inah dengan gerak cepat.


"kamu akan baik-baik aja" Sam berusaha menenangkan Viana saat mendudukan istrinya ke dalam mobil. Wajah Viana sudah dipenuhi oleh keringat dingin. Sam menyandarkan kepala Viana ke bahunya sambil mengusap perut istrinya.


"bibi ikut kita ke rumah sakit" perintah Sam lagi dan mobil melaju dengan cepat setelah bi Ina duduk di kursi depan disamping mang Asep.