
Sam khawatir karena Viana belum juga kembali. Matanya mencari-cari keberadaan Viana namun belum ia temukan sosok yang membuat hatinya risau. Dinand, Gofar, dan Hilmaz saling pandang karena tingkah sahabatnya tersebut. Sedangkan Rendi tadi sudah pamit menemui tamu-tamu lainnya.
"kamu kenapa Sam?" tanya Gofar melihat kecemasan sahabatnya
"Viana kenapa lama banget di toilet" kata Sam yang matanya masih terus mencari keberadaan Viana.
"baru ditinggal segitu aja udah khawatir, gimana nanti kalo kamu balik ke Peranciz dan gak bisa ketemu dia?" timpal Gofar dan membuat mata Sam berhenti mencari Viana sejenak.
"masalahnya dia udah 20 menit belum juga balik kesini" kata Sam. Ia kemudian membuka ponselnya untuk menghubungi Viana. Kemudian ia melihat pesan Viana yang mengirim lokasi. "apa mungkin Viana nyasar dan minta di samperin?" tanya Sam pada diri sendiri.
Tanpa berkata apa-apa Sam langsung pergi meninggalkan ketiga sahabatnya dan menuju ke lokasi yang Viana kirimkan ke ponselnya.
------
Rendi meraih tali yang sedari tadi sudah ia siapkan di samping tempat tidur. Tubuhnya menindih tubuh Viana hingga gadis itu tak mampu bergerak.
"lepaskan aku brengsek!" pinta Viana dengan mata yang sudah berkaca-kaca namun Rendi tidak memperdulikannya. Ia terus mengikat kedua tangan Viana ke ujung ranjang kanan kiri.
"toloooooonggggg...." teriak Viana berharap seseorang di luar mendengarnya
"berisik!!!!!" kata Rendi menampar pipi kiri Viana dengan keras. Viana meringis kesakitan. Disudut bibirnya ada darah segar yang keluar.
"tolong lepaskan aku" Viana memohon berharap Rendi mendengarkannya. Rendi tidak menggubris Viana. Ia ingin segera melaksanakan aksi bejatnya.
Rendi ******* bibir Viana. Tangannya bergerilya di kaki Viana yang sengaja tidak ia ikat. Perlahan tangannya menyibak gaun Viana hingga paha mulusnya terpampang jelas di mata Rendi.
Mendapat perlakuan tersebut, Viana berusaha memberontak meskipun ia tau usahanya akan sia-sia tapi ia harus mempertahankan kehormatannya.
Braaaaakkkk!!!!!
Pintu terbuka lebar. Rendi menghentikan aktivitasnya saat seseorang mendobrak pintu kamarnya. Sam langsung mendekati Rendi dan menyeret tubuhnya hingga keluar ruangan. Pukulan keras mendarat di pipi Rendi tanpa ampun.
Sam juga menghujani tubuh Rendi dengan tendangan-tendangan sebagai pelampiasan amarahnya karena sudah berbuat macam-macam pada orang yang dicintainya.
Setelah Rendi babak belur dan darah bercucuran di wajahnya, Sam meninggalkan Rendi yang sudah terkapar dan menghampiri Viana yang sudah tidak karuan dengan tubuh hampir setengah telanjang.
Sam melepaskan ikatan di tangan Viana dan Menutupi tubuhnya dengan jas yang ia pakai.
"tenang ya... kamu udah aman" Sam menenangkan Viana yang menangis tersedu-sedu dan memeluknya erat.
"kita pulang ya sayang" ajak Sam sambil mengelus kepala Viana tanpa melepaskan pelukannya.
Viana lega karena bisa terlepas dari Rendi. Namun ia masih trauma dengan pelecehan yang baru saja ia alami. Untung ada Sam yang datang tepat waktu sehingga kehormatan Viana bisa terselamatkan.
Viana memeluk Sam erat di tengah tangisnya. Andaikan Sam tidak datang, Viana tidak bisa membayangkan masa depannya di renggut oleh lelaki ******** seperti Rendi.
Sam membopong Viana menuju mobilnya. Di dalam mobil Sam terus menenangkan Viana yang masih menangis.
"gak apa-apa sayang. sekarang kamu aman" kata Sam merangkul Viana
"makasih Sam" ucap Viana lirih sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sam. Sam melingkarkan tangannya ke tubuh Viana erat. Perlahan Viana memejamkan matanya dan ia terlelap di dekapan Sam.