Betrayal Of Love

Betrayal Of Love
Sakit



"Ra...Ira..." Panggil Viana lirih di tengah malam.


"Ira....ambilin selimut" Ucap Viana lirih namun ira tetap nyenyak dalam tidurnya. Ia merasakan kakinya dingin dan badannya panas. Viana ingin sekali mengambil selimut karen tubuhnya sangat dingin namun ia tidak mampu karena kakinya begitu lemas.


Tubuhnya menggigil manahan dingin. Tangannya memegang jidat untuk mengecek suhu tubuhnya. "Panas sekali " Gumamnya pelan. Dilihatnya lampu kamarnya namun ia melihatnya tidak seterang biasanya. Bahkan ia melihat lampu itu seakan remang-remang dan hampir redup. Viana hanya bisa berdo'a dalam hati semoga pagi ini ia akan segera baikan.


Sudah hampir 2 jam Viana terjaga. Matanya enggan untuk terlelap. Kemudian sayup-sayup ia mendengar suara adzan subuh. Viana mencoba beranjak dari tempat tedurnya. Ia ingin pergi ke kamar mandi untuk menunaikam sholat. Baru tiga langkah tubuh ya ambruk di lantai.


Ira yang mendengar seperti ada benda jatuh langsung bangun. Diliriknya ranjang Viana yang sudah tak berpenghuni. Ia pikir Viana ada di kamar mandi.


Ira yang sudah mengubah posisinya duduk di tepi ranjang melihat Tubuh Viana tergolek di lantai. "ini bocah tidur malah di lantai" batin Ira dan mencoba membangunkan Viana.


Saat tangannya menyentuh tubuh Viana, matanya terbelalak karena suhu tubuhnya begitu panas. Dilihatnya muka Viana yang pucat pasi membuat Ir semakin khawatir.


Ira langsung menggelar kasur lantai simpanannya dan meletakkan bantal Viana di kasur lantai. Ira memindahkan Viana ke kasur lantai karena tidak mampu membopong tubuh Viana ke ranjangnya.


Ira mengolesi minyak kayu putih ke hidung, dada, tangan, dan kaki Viana agar cepat sadar. Ira juga mengompres Viana agar suhu tubuhnya menurun.


Namun sudah 30 menit belum ada tanda-tanda Viana sadar ataupun suhu panasnya turun. Ira semakin panik. Pikirannya buntu. Ira sangat bingung apa yang harus ia lakukan.


Diambilnya ponsel miliknya sendiri dan mencari kontak bernama pak Aldo.


nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi.


"sial!! pake dimatiin segala hpnya" gerutu Ira di tengah kekhawatirannya. Berkali-kali ia hubungi Aldo namun hasilnya nihil.


"halo.... apa ini Sam?" kata Ira di ponselnya


"iya ada apa Vi pagi-pagi begini" kata Sam diseberang sana


"ini Ira temennya Viana yang kemarin. Viana pingsan badannya panas. Bisa tolong antar ke rumah sakit atau telfonin ambulance ke sini" pinta Ira


"apa???" Sam terkejut "kamu kirim alamatnya segera. Saya akan segera kesana"


"alamatnya di *************"


"baik. Saya berangkat sekarang. Tolong jaga Viana" Sam menutup telfon.


Ira merasa sedikit lega. Tapi rasa khawatirnya belum juga hilang. Ia takut terjadi apa-apa dengan Viana. "Vi bangun" ucap Ira menepuk pipi Viana pelan. Namun Viana tetap menutup matanya.


Selang 30 menit kemudian Sam dan sopir pribadinya sampai di depan kosan Viana. Ira yang menyadari ada mobil datang langsung berhambur keluar dan mengajak Sam untuk masuk.


Tanpa ba bi bu Sam langsung membopong Viana ke dalam mobil.


"Sam tolong kamu antar Viana dulu ke rumah sakit nanti aku nyusul. Aku mau siapin keperluan Viana dulu sekalian aku juga mau cuci muka. Kamu kasih tau di rumah sakit mananya" Kata Ira


"ok" Saut Sam


Sam membawa Viana ke rumah sakit terdekat atas saran sopirnya. Beruntung perjalanannya tidak macet karena masih pagi sehingga mereka bisa sampai rumah sakit tepat waktu.