
"cukup Sam! kamu jangan main-main dengan perasaan orang" terang Hilmaz mengingatkan Sam agar tidak bertindak lebih jauh dengan Viana.
"Benar apa kata Hilmaz" dukung Dinand pada temannya yang pendiam itu
"aku tidak pernah main-main dengan gadis itu!" ketus Sam
"sadar... kamu ada istri dan anak. Bagaimana kalo dia tau kamu sudah berkeluarga?" peringat Hilmaz lagi
"kamu cuma akan menyakiti hati dia aja Sam" kini Gofar angkat bicara
Mendengar kata-kata tiga sahabatnya tersebut Sam terdiam memikirkan sesuatu.
"aku benar-benar mencintai dia. Dari awal aku tidak mencintai istriku" kata Sam lirih sambil tertunduk "kalian tau itu" sambung Sam lagi
"lalu bagaimana jika gadis itu tau status kamu?" tanya Dinand
"aku gak tau. Yang pasti aku tidak bisa berpisah dengan Viana" Sam menghela nafas panjang. Rasanya berat sekali jika membayangkan harus berpisah dengan Viana, gadis yang kini sudah memiliki hatinya
"apa dia juga punya perasaan yang sama ke kamu?" tanya Hilmaz yang membuat muka Sam tersenyum getir.
"aku tidak bisa memastikan" saut Sam
"tidak masalah. Lagi pula dia tau kalo aku tidak pernah mencintainya" jawab Sam santai.
"bagaimanapun juga dia istri mu" Hilmaz memperingatkan sekali lagi.
"I KNOW... I KNOW!!" kata Sam dengan nada tinggi "tapi kalian tau kan selama ini aku belum pernah mendapatkan cinta seperti kalian. Kalian tidak akan pernah paham berada di posisi aku menikahi orang yang tidak aku cintai. Ya, karena kalian menikah atas dasar cinta. Sedangkan aku? DI JODOHKAN!" Sambungnya lagi sedikit emosi.
"aku cuma ingin mencintai dan dicintai itu saja" Sam menghela nafas kasar. "meskipun Haura memberi ku perhatian dan cinta, tapi aku tidak bisa menikmatinya karena aku tidak mencintai istriku!" Kata Sam sambil berlalu meninggalkan ketiga temannya yang masih duduk di balkon apartemen sewaan mereka.
Sam ingin menenangkan diri. Pikirannya jadi semrawut. Ia sama sekali tidak masalah jika istrinya tau dia mencintai gadis lain, tapi yang Sam khawatirkan bagaimana jika Viana tau tentang statusnya.
"kenapa aku gak ketemu Viana dari dulu aja?" rutuk Sam pada diri sendiri seolah menyalahkan takdir.
"andaikan kita dipertemukan sebelum aku menikah dengan istriku, pasti aku akan menikahi kamu dan hidup bahagia bersama kamu Vi" gumam Sam sambil matanya memandangi bunga-bunga yang bermekaran.
Saat melihat bunga, Sam seakan sedang memandang Viana. Ya karena gadis itu memang sangat menyukai bunga. Baru saja Ia menemukan kebahagiaannya, namun harapannya seolah siap-siap pupus untuk merengguk kebahagiaan itu sepenuhnya.
Sam tidak pernah merasakan kebahagiaan ini dengan istrinya. Meskipun ia mencoba untuk membuka hati, namun tetap saja hatinya tak mampu menerima cinta istrinya. Hatinya dulu begitu hampa sebelum bertemu Viana. Tapi sekarang, setiap harinya ia merasakan hari-hari sangat indah apalagi jika ada Viana di sisinya.
Entah sejak kapan Sam jatuh cinta dengan Viana, tapi gadis itu mampu memberi kebahagiaan di hati Sam. Memiliki harta yang berlimpah, anak yang sehat, dan istri yang setia masih belum lengkap bagi Sam karena dia belum mempunyai Cinta. Tapi sekarang, dia sudah menemukan cintanya, Viana Putri Pertiwi.