
#maafkan author yang baru bisa up hari ini. Kemungkinan sabtu-minggu author hiatus lagi karena mau Q-time bareng suami ๐ (yang jomblo harap bersabar). Jangan lupa tekan bintang, jempol, dan hati kecilnya untuk novel ini ๐๐. Jangan lupa komennya juga ya. Makasih atas partisipasinya. Satu lagi..... jaga kesehatan kalian ditengah keadaan genting akibat virus korona yang semakin meluas. Semoga kita semua diberikan kesehatan selalu ๐คฒ aaaamiiiin...
Baiklah... happy reading guys๐งก๐#
-------
Ponsel Aldo di saku celananya bergetar. Ia melepaskan cengkraman tangannya dari tangan Viana dan merogoh kantong celananya. Diraihnya benda pipih persegi panjang itu. Pesan masuk dari Liana rupanya. Aldo memfokuskan matanya dan membalas pesan gadis disana.
Viana bernapas lega setelah lepas dari Aldo. Mungkin hanya beberapa saat. Tapi ia sangat bersyukur karena Aldo mengurungkan niatnya saat ini. Entah selanjutnya akan seperti apa tapi ia harap emosi Aldo menurun hingga lelaki itu tak berbuat nekat pada Viana.
Viana turun dari ranjang. Ia tak sudi berada di ranjang bekas Liana dan Aldo. Viana menepuk-nepuk seluruh tubuhnya seolah ada debu yang menempel. Aldo mengamati sikap Viana.
"kenapa? elo jijik disentuh gue?" Aldo sepertinya sudah berubah. Viana sama sekali tidak mengenali sifat Aldo sekarang. Aldo lebih dominan egois dan tempramental.
"iya gue jijik sama elo. Gue juga gak sudi nyentuh ranjang bekas elo sama ja**** itu" saut Viana menghina Aldo.
"gue bisa jelasin semua. Itu semua tidak seperti yang elo liat" sergah Aldo berusaha mengendalikan emosinya. "Liana jebak gue dan dia nglakuin itu karena disuruh Rendi. Elo harus percaya sama gue" jelas Aldo tertunduk. Ada penyesalan yang begitu besar di wajahnya. Viana bisa melihat itu tapi hatinya masih belum menerima. Viana benar-benar kecewa. Hanya ada titik hitam besar dihatinya untuk Aldo sehingga ia sulit sekali memaafkan mantan tunangannya itu.
"gue gak perduli!" ucap Viana ketus kemudian berlari ke arah pintu. Shit! Viana lupa Aldo mengunci pintu kamarnya.
"lo mau lari dari gue?" Aldo mendekati Viana dengan menunjukkan senyum licik dari bibirnya.
"gue mau pulang. Sam pasti udah nungguin gue di rumah" pinta Viana sambil memainkan slot pintu.
"please... gue mau pulang" kini Viana memohon berharap Aldo berbelas kasihan padanya.
"jangan harap! elo akan jadi milik gue. SELAMANYA" Ucap Aldo penuh penekanan.
Mendengar kata-kata Aldo membuat perut Viana terasa mual. Harus dengan cara apa lagi Viana membujuk Aldo. Belum sempat berfikir, Aldo sudah membopong tubuhnya dan merebahkannya di ranjang. Tanpa basa-basi Aldo menarik dress yang dikenakan Viana hingga robek. Terpampanglah tubuh Viana yang hanya dibalut bra dan lingerine.
Viana spontan menutupi dada dan kemaluannya sebisa mungkin agar tak terekspose. Jantungnya berdetak cepat. Belum sempat memberontak Aldo menarik kedua tangan Viana yang menutupi dada dan kemaluannya.
Aldo menciumi leher Viana dengan rakus. Bulu kuduk Viana berdiri mendapat serangan mendadak dari Aldo. "brengsek!" umpat Viana ditengah cumbuan Aldo. Tak ingin mendengar umpatan lagi Aldo kini ganti mengerang kedua bibir Viana sambil tangannya meremas gunung kembar yang masih terhalang bra renda berwarna hitam.
Viana merasa mual yang semakin menjadi-jadi. Rasanya ia ingin muntah. Viana tidak bisa menahannya lagi. Dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh Aldo yang berada diatasnya hingga tubuh jangkung itu terpental ke belakang.
Viana berlari ke kamar mandi dan memuntahkan segala isi di perutnya ke dalam closet. Kini pusing bersarang di kepalanya. Viana duduk menyender ke tembok. Ia merasa tubuhnya sangat lemas.
Aldo segera menyusul ke kamar mandi. Ia melihat muka Viana berubah pucat. Diraihnya handuk yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri dan menutupi tubuh Viana dengan handuk itu. Ia menggendong gadisnya dan membaringkannya di ranjang.
Mata Viana masih terpejam. Ia seakan kehabisan tenaga setelah memuntahkan isi perutnya. Sedangkan Aldo, ia jadi merasa bersalah. Ditutupinya tubuh Viana dengan selimut lalu mengelus-elus perut Viana yang datar. Aldo berharap sakit Viana segera mereda.
Viana merasa tenang mendapat perlakuan lembut dari Aldo. Tapi sungguh, ia tak mengharapkan ini semua. Viana hanya berharap Sam kini berada disampingnya tapi itu semua mustahil. Aldo tidak akan membiarkannya menemui Sam lagi. Aldo benar-benar brengsek!