
Aldo termenung dengan pemandangan laut di depannya. Ia berfikir kerasa kesalahan apa saja yang sudah ia perbuat hingga Viana tega meninggalkannya dan menikah dengan lelaki lain. Aldo sadar kesalahannya dengan Liana memang sulit untuk dimaafkan tapi tidak ingatkah Viana jika ia dan Aldo juga hampir melakukan hal yang sama malam itu? jadi apa bedanya? Aldo masih berfikir keras dengan hati yang hancur berkeping-keping.
Masih adakah kesempatan Aldo untuk meminta maaf dan mendapatkan Viana kembali? tapi tunggu. Bukannya Aldo sudah menyetujui akan menikahi Liana? Shit! umpatnya frustasi. Kisah cintanya memang sangat rumit.
Sebuah taksi berhenti tepat di belakang Aldo. Seorang wanita keluar dari taksi dan mendekati Aldo lalu duduk di sampingnya tanpa permisi. Aldo menoleh pada orang yang duduk di sebelahnya. Wanita itu tersenyum manis ke arah Aldo lalu kembali menatap hamparan laut biru di depan matanya.
"yang lalu biarlah berlalu" wanita itu tetap menatap ke depan saat menasehati Aldo
"hmm" antara malas dan sedih menjadi satu maka muncullah jawaban sesingkat itu dari mulut Aldo.
"masih banyak gadis yang mau sama elo Al" lagi-lagi wanita yang duduk di samping Aldo menaruh harap agar Aldo mau membuka hati untuknya.
"akan gue coba" sahut Aldo yang membuat kedua bibir Meli mengembang ke samping.
Kemudian Meli menghapus sisa airmata Aldo dengan tissue yang ada dalam tasnya. Aldo diam saja tak merespon. Hatinya bertanya-tanya sejak kapan Meli jadi selembut ini melebihi lembutnya sutra. Aldo menikmati setiap inci wajah Meli yang sedang fokus membersihkan sisa airmatanya. "cantik" batin Aldo menilai rupa wanita di sampingnya. Aldo menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Meli ke telinga wanita itu. Meli yang sadar sedang diperhatikan Aldo jadi salah tingkah.
Tatapan keduanya saling bertemu dan saling pandang dengan mulut terbungkam. Sepersekian detik Aldo mengalihkan pandangannya dan Meli terlihat gugup. Dasar cowok! baru aja sakit hati masih aja main mata dengan cewek lain. Author jadi sebel liatnya.
*****
Sam bertambah bangga dengan istrinya yang mampu menjalani bisnis ini sendirian. Hanya akunnya saja yang dikelola Ira. Selebihnya Viana handle sendiri. Sam mengecup kening Viana karena rasa bangga dan senangnya dengan skill Viana di dunia bisnis.
Tak terasa usia pernikahan mereka menginjak tiga minggu. Viana semakin sibuk hingga ia selalu pergi pagi pulang malam setiap harinya. Sam yang merasa jadi terabaikan hendak membicarakan hal ini dengan istrinya.
"mulai besok kamu diem aja di rumah ya?" pinta Sam yang berarti perintah
"aku kan harus kerja sayang" Viana menolak Sam halus
"kamu jangan terlalu capek. Biar aku aja yang ambil alih. Kamu duduk manis di rumah ya?" Sam mengelus pipi Viana agar bujukannya mempan.
"aku sih gak keberatan. Tapi aku gak mau sendirian terus di rumah" Viana bergelayut di lengan Sam manja.
Setelah bermusyawarah cukup lama akhirnya kesepakatan sudah mereka setujui. Mereka berdua akan merekrut orang untuk menjalankan bisnisnya. Tugas Viana dan Sam hanya memantau berkembangan bisnisnya tanpa perlu capek-capek turun tangan sendiri. Malam ini mereka tutup musyawarah dengan berolahraga di ranjang. Maklum pengantin baru, jadi lagi panas-panasnya.
Suara desahan memenuhi kamar mereka dan saling sahut menyahut antara keduanya. Gempuran yang Sam berikan membuat Viana kelimpungan dan tak bisa mengimbangi. Tapi justru inilah yang Sam sukai. Suami bule Viana ini merasa menang jika mendominasi setiap permainan ranjangnya. Sam merasa ia menjadi lelaki yang paling gagah jika sudah berhasil membuat Viana kalah telak dalam setiap ronde yang ia berikan. Pada akhirnya mereka berdua terkulai lemas dengan nafas ngos-ngosan dan sprei yang sudah tak karuan.