
Viana, Sam, Ira duduk di ruang makan sedang menyantap makan malam mereka. Viana dan Sam saling suap menyuapi. Mereka berdua sangat romantis hingga membuat Ira iri dan hanya bisa menonton adegan romantis kedua pengantin baru ini.
"makanya nikah biar jadi pemeran bukan jadi penonton" sindir Viana sambil menyuapi makanan ke mulut Sam. Ira yang mendengarnya mengerucutkan bibir. Sedangkan Sam hanya senyum-senyum sambil menikmati masakan istrinya.
"sayang" panggil Sam pada Viana yang membuat telinga Ira semakin panas.
"iya" saut Viana lembut.
"aku mau tanya. Waktu itu kamu bilang mau surprise aku. Aku mau tau surprisenya apa?" tanya Sam
"oh itu.... ini surprisenya" Jawab Viana sambil melihat sekeliling. "rumah ini dan beberapa bisnis yang aku kelola itu semua dari hasil uang yang kamu kasih ke aku" lanjut Viana
"uang yang mana? emang aku pernah ngasih uang sebanyak itu?" tanya Sam yang tak ingat karena mengalami amnesia.
"dulu sebelum kamu kembali ke Perancis, kamu kasih akun investasi kamu ke aku. Nah dari uang itu setiap bulannya aku dapet profit. Profit itu aku kelola dengan bisnis properti, fashion, dan makanan. Jadilah aku kaya raya seperti ini" ucap Viana tersenyum lebar.
"jadi, stop bilang kalo kamu gak punya apa-apa. Ini semua milik kita berdua" lanjut Viana dan Sam merasa senang. Ia tidak menyangka uang yang dulunya ia kasih cuma-cuma ternyata sangat bermanfaat bagi masa depannya dan orang yang dicintainya. Jika saja Viana tidak pandai mengelola uang tersebut, mungkin akan habis tak berbekas.
"makasih" ucap Sam sambil mengelus pipi Viana.
"aku yang makasih sama kamu Sam. Kalo kamu gak ngasih uang itu ke aku, mungkin aku masih kerja di perusahaanku dulu dan hanya memiliki tabungan.
Sam semakin bersyukur diberi seorang pendamping seperti Viana yang cantik, cerdas, dan sukses. Semoga pilihannya menikahi Viana adalah keputusan yang tepat. Sam berharap kehidupannya dengan Viana akan berjalan dengan lancar dan yang terpenting keduanya saling mencintai.
"kamu udah gak periode lagi kan?" tanya Sam tiba-tiba yang membuat pipi Viana memerah.
*****
Pagi-pagi sekali Viana bangun. Ia merasa sakit disekujur badannya apalagi di tengah selangkangannya yang masih terasa perih setelah mahkotanya diambil oleh Sam. Semalam Sam menggagahinya hampir 4 jam lamanya yang membuat Viana kurang tidur.
Viana berjalan ke kamar mandi sambil menahan perih. Viana menenggelamkan dirinya ke dalam bathub yang berisi air hangat untuk mengurangi rasa perih dan pegal-pegalnya. Setelah puas berendam dan membersihkan diri, Viana keluar dari kamar mandi dan membangunkan Sam.
Sam beranjak dari ranjangnya menuju ke kamar mandi setelah memberikan morning kiss pada Viana. Tak lama Sam keluar dari kamar mandi dan memakai pakaiannya yang sudah disiapkan oleh Viana. Viana lalu pergi untuk menyiapkan sarapan dengan jalan yang tidak normal seperti biasanya.
"kenapa jalannya gitu?" tanya Sam dengan wajah polosnya
"kamu tanya kenapa? ya jelas ini karena perbuatan kamu semalam Sam" jawab Viana. Sam malah terkekeh mendengar jawaban Viana. Ia lalu menggendong Viana menuruni tangga dan mendudukkannya di ruang makan.
"tapi kamu puas kan?" tanya Sam menatap mata Viana dan Viana langsung menutupi mukanya yang sudah memerah seperti udang rebus menahan malu. "biar aku aja yang siapin sarapan" tawar Sam yang mulai sibuk dengan peralatan dapur dan bahan makanannya. Viana merasa sangat senang karena Sam begitu perhatian dan pengertian.
Viana duduk manis dikursinya sambil menatap punggung Sam yang sedang sibuk dengan makanan yang sedang ia siapkan untuk mereka berdua. Beberapa menit kemudian Sam selesai membuat sarapan dan menyajikannya di meja makan. Viana bisa mencium aroma nasi goreng yang Sam buatkan untuknya. Viana jadi tidak sabar untuk segera mencicipinya.
Saat akan memasukan makanan ke dalam mulutnya, Viana mendengar bel rumahnya bunyi. Ia mengurungkan sarapannya dan membiarkan Sam sarapan lebih dulu. Viana beranjak dari kursinya menuju ruang depan untuk membuka pintu karena ada tamu.
Viana membuka pintunya lebar. Ia melihat seorang laki-laki yang sedang memunggunginya. Laki-laki itu lalu membalikkan badan. Kini Viana dan Aldo saling bertatapan. Mereka diam seribu bahasa seakan tak percaya dengan objek yang dilihat di depan mata mereka.
"Viana.." "Aldo..." ucap mereka berbarengan.