
Sinar matahari menembus sela jendela hingga menerpa wajah cantik Viana. Perlahan Viana membuka matanya. Viana kaget karena ia berada di ruangan asing. Dibukanya selimut yang masih menutupi badannya. "syukurlah" batinnya tenang.
Viana merasakan seluruh badannya sakit dan pegal. Airmatanya mengalir mengingat kejadian kemarin. "ah... kenapa harus inget itu sih?" gumam Viana kesal pada dirinya sendiri. Tangannya memukul kepalanya menyuruh agar tidak mengingat kejadian naas kemarin.
Sam terbangun saat mendengar isak tangis Viana. Ia segera mendekati Viana dan memeluknya dari belakang agar gadis itu tenang. Viana yang terkejut tiba-tiba ada yang memeluknya langsung menghindar. Sesungguhnya ia masih trauma dan takut kalo itu rendi.
"tenang Vi" kata Sam. Dan Viana langsung memeluk Sam erat dengan airmata yang bertambah deras.
"makasih ya Sam" ucap Viana dalam tangisnya "seandainya kamu gak dateng, aku gak tau nasib ku akan seperti apa nanti" sambungnya lagi.
Sam mengelus rambut Viana sambil terus mendekapnya. "udah ya... sekarang jangan khawatir. Aku akan terus lindungi kamu" kata Sam.
Viana kini merasa lega. Ia merasa Sam memang bisa melindungi dan menjaganya. "ini dimana?" tanya Viana sambil melepas pelukannya.
"diapartemen aku" jawab Sam menghapus airmata Viana
"kamu?" tanya Viana ambigu namun Sam mengerti maksudnya.
"gak. Semalam aku tidur di sofa ko. Aku gak ngapa-ngapain kamu" kata Sam tersenyum lucu melihat ekspresi Viana yang menggemaskan.
"kamar mandi dimana?" tanya Viana lagi
"lurus aja terus belok kiri" tunjuk Sam mengarahkan Viana. Viana langsung bangun berniat ke kamar mandi.
"au" Viana terduduk lagi karena kakinya terasa begitu sakit.
" kenapa?" Sam khawatir
Tanpa minta persetujuan dari Viana, Sam langsung membopongnya menuju kamar mandi. Lagi-lagi Viana dibuat nyaman dan baper oleh Sam. Tanpa sadar kini mata Viana sedang memperhatikan setiap jengkal wajah tampan Sam.
Sam yang menyadari sedang diperhatikan melirik ke arah Viana. Mata mereka saling beradu untuk sekian detik. Seperti ada gelombang elektromagnetik antara tatapan keduanya sehingga membuat jantung mereka berdegub kencang.
"jadi mau ke kamar mandi atau ke ranjang?" goda Sam membuat pipi Viana menjadi semu merah.
"ia jadi" saut Viana malu-malu dan itu yang membuat Sam menjadi semakin suka.
Sudah 20 menit Viana berada di kamar mandi namun ia belum juga keluar. Terkadang Sam heran kenapa wanita betah lama-lama di kamar mandi. Sebenarnya apa yang mereka lakukan? Masih menjadi misteri memang.
"Vi kamu masih lama?"
"iya" Saut Viana dari dalam kamar mandi
"kamu gak kedinginan?"
"dingin... tapi aku gak ada baju ganti. Disini juga gak ada handuk. Masa aku telanjang" ujar Viana dan Sam hanya menggeleng.
"kenapa gak bilang?" tanya Sam sambil meraih handuk untuk segera diberikan pada Viana. "ini handuknya" kata Sam sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"kamu jangan ngintip!"
"gak" kata Sam sambil melangkah ke arah dapur. "lagian udah tau ini masih aja malu-malu" gumam Sam dalam hati sambil bibirnya tersenyum geli.
Sam memang sudah melihat lekuk tubuh Viana karena insiden kemarin yang membuat tubuh gadis itu setengah telanjang. Meskipun tidak disengaja, namun bagi laki-laki itu adalah sebuah rezeki yang luar biasa.