
Dokter segera datang ke ruangan rawat Viana setelah Sam memencet bel yang berfungsi untuk memanggil dokter. Semua yang ada di ruangan diminta untuk keluar oleh suster agar dokter bisa fokus menangani pasien.
"Tolong selamatkan istriku dokter," Dengan penuh kekhawatiran dan takut kehilangan, Sam menaruh harapan besar pada dokter agar bisa mengembalikan Viana.
Suara isak tangis terdengar saling sahut-sahutan antara Ira dan Liana. Mendengar jantung Viana yang tak berdetak membuat dunia mereka seakan runtuh, terutama Ira. Ira sangat menyesal telah menolak pesan dari Viana. Seandainya saja ia mengiyakan permintaan Viana, mungkin Viana akan pergi dengan tenang dan Ira tidak akan merasa bersalah.
Tapi Ira juga tak memiliki daya untuk melawan hatinya yang harus menikah tanpa cinta. Ira hanya ingin menikah dengan orang yang ia cintai saja, Jojo misalnya.
Di dalam ruangan, dokter menempelkan alat pacu jantung ke dada Viana agar jantungnya kembali berdetak. Sudah beberapa kali suster menambahkan daya pada alat tersebut namun jantung Viana masih belum berdetak. Hingga keputus-asaan dokter disusul oleh suara tangis bayi kembar Viana yang terdengar nyaring sampai ke ruang rawat Viana.
Mendengar itu, Ira, Sam, Aldo, Jojo, dan Liana merasa sangat iba pada bayi kembar yang baru lahir. Walau bagaimanapun mereka membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Tapi mungkinkah Viana yang akan mengambil peran itu atau malah Ira? Hanya rencana Tuhan yang pada akhirnya akan menjawab.
------
2 bulan kemudian
Louisa dan Lucy nampak asyik bermain mandi bola di halaman belakang rumahnya yang disulap seperti taman khusus anak-anak dengan diawasi oleh Sam yang duduk di kursi tengah taman dengan kedua tangannya yang sedang memberi susu pada bayi kembar di box masing-masing.
Terus memperhatikan bayi-bayinya, tanpa terasa airmata Sam berlinang mengingat kejadian dua bulan lalu yang merupakan hari terburuk dimana ia hampir kehilangan istri yang sangat dicintainya.
"Hallo ponakan uncle!" pekik Aldo yang baru datang sambil merentangkan tangannya ke arah Lucy dan Louisa meminta dipeluk oleh dua bidadari kecil ini. Lucy dan Louisa yang sudah akrab itupun menghampiri Aldo dengan berlari lalu berebut untuk memeluk pamannya itu.
Lucy dan Louisa sudah mahir dan bisa diajak komunikasi bahasa Indonesia sehingga ia bisa dengan mudah bergaul bersama orang-orang di sekitarnya. Sesuai janjinya, Aldo dan Liana memenuhi ucapannya dua bulan yang lalu bahwa mereka akan sering main ke rumah Viana untuk membantu mengurus anak-anak Viana dan Sam atau hanya sekedar bermain-main dengan mereka.
"Hallo kesayangan aunty...! tebak, aunty bawa apa buat kalian?" Menyusul Aldo, Liana menyembunyikan sesuatu dibalik punggungnya sambil berjongkok di depan Lucy dan Louisa.
"Cokelat?" Tebak Louisa yang sangat menggemari makanan manis berwarna hitam itu.
"No!" Jawab Liana lalu menunjukkan oleh-oleh pada mereka berdua.
"Boneka balbi" Ucap Louisa yang masih cadel mengucapkan huruf "R". Mereka berdua tertawa girang mendapat hadiah dari tantenya itu.
" Beri aunty ciuman." Pinta Liana yang sudah memasang wajahnya untuk dicium kedua ponakan bulenya.
Cup!
Kecup Louisa dan Lucy di pipi Viana berbarengan lalu segera berlari melanjutkan aktivitas main mereka. Sam yang menyaksikan adegan itu tersenyum bahagia. Ia bersyukur karena anak-anaknya mendapat kasih sayang dari keluarganya.
Liana dan Aldo lalu menghampiri Sam yang ada di sampingnya dengan kedua tangan memegangi botol susu bayi kembarnya.
"Ponakan aunty malah udah jadi gadis ya." Gumam Liana lalu mencium pipi merah baby keysha.
"Sayang... ko mau aja sih baby K2 diganggu sama mereka?!" Protes seorang wanita yang membawakan baki berisi kue hangat yang baru selesai dibuat dan teh manis untuk mereka semua.
Menaruh kue dan teh di meja taman, lantas wanita itu mencium pipi Sam lalu duduk disamping suaminya.
"Pelit lo!" Umpat Aldo
"Makanya bikin sendiri biar punya baby," Jawab Viana kembali pada mode ketusnya seperti dulu saat Aldo menjadi manajernya.
"Loh jangan salah, gue bikin setiap hari dan setiap waktu." Jawab Aldo yang sedetik kemudian tangan Liana mencubit lengannya karena malu. Sam, Viana, dan Aldo pun tertawa.
"Oh iya gue mau ngasih undangan pertunangan Ira dan Jojo minggu depan nanti." Kata Liana lalu memberikan kartu undangan pada Viana.
"Sahabat gak tau diri! mau tunangan gak bilang-bilang." Umpat Viana saat melihat undangan sahabat tercintanya itu.
Sudah dua minggu Ira memutuskan untuk tinggal sendiri karena Ira mendapat proyek baru di perusahaan tempat ia bekerja sehingga tidak mungkin bari Ira untuk pulang pergi ke rumah dengan jarak yang jauh. Itu sebabnya ia memilih menyewa apartemen di kawasan Tangerang Selatan yang lebih dekat dengan kantornya.
Flashback on
Kilas balik dua bulan ke belakang, saat dokter hampir putus asa, hatinya terenyuh mendengar kedua bayi Viana menangis.
"Kita coba sekali lagi sus" Ucap dokter menggosok-gosokan alat pacu jantung yang mirip setrikaan itu.
Dengan gugup dan berharap keajaiban terjadi, dokter lalu menempelkannya alat itu ke dada Viana.
Tut...tut...tut...
Monitor jantung disamping Viana kembali berbunyi dan menampilkan pacuan jantung Viana yang normal. Semenit kemudian, Viana batuk-batuk. Melihat pasiennya kembali sadar, dokter dan suster turut bahagia karena usahanya berhasil. Tak ingin berlama-lama, dokter langsung memberi tahu keluarga pasien yang menunggu di luar tentang kabar gembira ini.
Sam, Ira, Aldo, Liana dan Jojo segera masuk untuk melihat keadaan Viana yang sudah membuka matanya kembali. Sam memeluk haru istrinya itu. Sumpah demi apapun, Sam tidak bisa hidup tanpa Viana. Sudah cukup baginya perpisahan antara dirinya dan Viana dahulu hingga memupuk rindu beribu-ribu. Mengecup pipi Viana mesra, Sam berkali-kali mengusap airmata bahagianya.
"Alhamdulillah." Adalah ucapan pertama Sam sebagai rasa syukurnya pada sang pencipta yang telah memberikan kesempatan kedua untuk menjaga dan mencintai istrinya.
\*\*\*\*\***Tamat**\*\*\*\*\*