
Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Sam baru saja mendapat kabar dari Ira bahwa Viana telah sadar beberapa menit yang lalu. Rasa bahagia memenuhi hati Sam yang sudah tak sabar untuk bertemu dengan istrinya setelah hampir 10 hari menjalani masa kritis. Sepertinya doa-doa Sam terkabulkan.
Sedangkan Aldo dan Liana yang baru selesai menghadiri pengadilan Meli beserta Indah juga segera menyusul ke rumah sakit. Mereka ingin melihat bagaimana keadaan Viana juga ingin memberi kabar bahwa status Meli dan Indah naik menjadi terpidana setelah adanya bukti-bukti yang kuat tentang bersalahnya mereka berdua dalam peristiwa kecelakaan Viana.
Di rumah Sakit
Tangan kanan Sam membuka gagang pintu ruang rawat kelas VIP di salah satu rumah sakit Ibukota dan menampilkan Ira yang sedang duduk di Sofa. Pandangan Sam lalu beralih ke Viana yang terbaring dengan mata terpejam.
Sam mendekat lalu menarik kursi hingga menciptakan bunyi lalu mendudukan dirinya di samping Viana.
"Sayang," panggil Sam menggenggam tangan kanan Viana erat. Mendengar suara yang sangat ia rindukan lantas Viana membuka matanya perlahan. Pertama kali yang ia tunjukkan adalah senyum manisnya pada Sam.
Sam tau kondisi Viana masih sangat lemah itu sebabnya ia tidak ingin banyak bicara. Melihat Viana sadar saja itu sudah cukup bagi Sam.
Tak lama, Aldo dan Liana menyusul masuk ke dalam ruang rawat Viana.
"Viana!" Sapa Liana. Viana mengedarkan pandangannya ke ambang pintu dan mendapati Aldo serta Liana. Ah.. Syukurlah Liana tidak apa-apa, pikir Viana mengingat kejadian yang menimpa dirinya.
Kini semua orang telah berkumpul disana. Viana merasa sangat senang karena banyak orang yang perduli padanya.
"Haus." Adalah kata pertama yang Viana ucapkan lalu dengan sigap Sam memberinya minum dengan telaten.
"Gue takut elo kenapa-kenapa." Mengelus lengan Viana, Liana merasa sangat senang. Bagaimana tidak? adiknya baru saja sadar dari masa kritisnya selama 10 hari.
"Makasih." Jawab Viana dengan suara parau. Setelahnya Viana merasakan pusing yang teramat sangat hingga membuatnya meringis tapi ia tahan tak ingin orang-orang disekitarnya khawatir.
"Udah berapa lama gue tidur?" Tanyanya.
"Tidur? Elo koma 10 hari Viana." Sahut Ira yang masih duduk manis di sofa.
"Apa? 10 hari?" Tak percaya ia koma selama itu lantas pikirannya teringat akan kedua bayi kembarnya menilik perutnya sudah datar "Bayi gue mana?" Tanyanya dengan nada cemas sembari mencengkram lengan Sam.
"Tenang sayang. Bayi kita baik-baik aja." Menghela napas lega, Viana melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Sam.
"Ah sakit sekali kepalanya.." Batin Viana dengan raut wajah gelisah.
"Oh iya Vi, gue mau kasih tau kalau kalian berdua ternyata saudara kembar." Ucap Aldo tanpa basa-basi melirik ke arah Liana dan Viana secara bergantian.
Apa? Apa kata Aldo? Saudara kembar? Ah... kepala Viana rasanya ingin pecah. Tak terasa sudut matanya terdapat butiran air bening yang hendak melesak keluar. Bukan! Bukan karena terharu, tapi sesungguhnya Viana sedang merasakan sakit yang teramat sangat di kepalanya.
"Orang tua kita bercerai waktu kita masih kecil. Elo ikut nyokap, gue ikut bokap." Imbuh Liana dan Viana hanya menyimak. "Emm... gue boleh kan main ke rumah elo jengukin ponakan-ponakan gue?" Lanjut Liana ragu.
"Boleh." Jawab Viana dengan senyum manisnya.
"Sam, aku mau liat anak kita." Rengek Viana dalam sakitnya.
Tangannya menyusul tangan Sam yang ada di kepalanya. Bukan untuk menyentuh tangan suaminya, tapi Viana meremas rambutnya karena rasa sakit yang tak tertahankan.
"Ra, gue mau ngomong." Ucap Viana dan Ira mendekat.
"Jangan khawatir, gue siap bantu elo ngurusin anak-anak kalian." Seolah mengerti apa yang ada di pikiran Viana.
"Gue juga mau ko bantuin ngurus mereka." Tawar Liana dengan senang hati. Mendengar keduanya sukarela, Viana merasa senang tapi hatinya belum lega.
Sedetik kemudian Jojo masuk setelah mendapat kabar dari Ira bahwa Viana sudah sadar.
"Gue mau ngomong penting khususnya kalian berdua," Ucap Viana ke arah Ira dan Sam. "Gue...gue mau kalian berdua nikah" lanjutnya.
Semua orang yang ada di ruangan kaget setengah mati mendengar ucapan Viana. Bagaimana bisa Viana meminta Ira untuk menikahi suaminya? Apakah Viana sudah tidak waras sehingga ia mau dimadu?
Jojo dan Ira sangat terkejut. Mereka berdua saling memandang seolah sedang berkomunikasi lewat tatapan.
"Gak lucu Vi!" Seru Ira yang menganggap Viana bercanda.
"Kamu ngomong apa sih?" Sam tidak setuju dengan usulan Viana.
"Gue serius Ra. Gue tau elo perhatian dan sayang sama anak-anak gue, itu sebabnya gue pengen elo jadi ibu buat mereka." Lanjut Viana.
"Lo ngawur! omongan elo seolah-olah kalau elo mau pergi jauh dari kita"
"Jo, gue mohon, bayi kembar gue butuh kasih sayang dari seorang ibu. Please Jo..." Lagi, Viana merasakan kepalanya seakan mau pecah. Sakit!
Meminta persetujuan Jojo seakan Viana tau kalau mereka memiliki hubungan spesial. Dan Jojo diam tak menjawab.
"Sayang... aku cuma butuh kamu. Kamu pasti sembuh." Ucap Sam meyakinkan istrinya. Viana menggelengkan kepala disertai airmata yang melesak keluar dari manik indahnya.
"Mengertilah Sam." Ucap Viana.
"Kalau cuma ngurusin mereka gue juga bisa Vi tanpa nikah dengan Sam. Apalagi Liana juga siap membantu." Jawab Ira disertai anggukan Liana.
"Sam juga butuh pendamping hidup Ra," Kata Viana meneteskan airmata. Dan saat itulah semua orang yang hadir di ruangan itu diliputi kesedihan terutama Sam. Sam memeluk tubuh Viana erat menyembunyikan wajahnya yang hendak menangis.
Dalam hati, Viana juga merasa sakit dengan ucapannya sendiri. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Firasatnya mengatakan jika ia tidak bisa melihat keluarganya lagi. Viana tidak ingin ke-empat anaknya hidup tanpa kasih sayang seorang ibu terlebih dengan bayi kembarnya yang baru lahir.
Terisak! Viana menarik rambutnya kuat dan beberapa detik setelahnya ia tak sadarkan diri dibarengi dengan bunyi monitor jantung yang menunjukkan bahwa detak jantungnya berhenti.
"Vianaaaaaaaa!"