
Sam dan Aldo saling berkelahi. Sam emosi karena Aldo membawa kabur Viana secara paksa sedangkan Aldo, ia benci melihat wajah Sam yang sudah merebut tunangannya. Keduanya sama-sama melampiaskan amarah dengan adu jotos satu sama lain.
Viana mencoba melerai tapi tangannya di tarik Ira. Ira tidak mau Viana sampai terluka lagi seperti terakhir kali Aldo dan Sam berkelahi di rumah Viana.
"Sam berhenti!" teriak Viana saat melihat Aldo sudah babak belur tapi masih sanggup membalas pukulan Sam. "atau kamu gak akan bisa liat anak kamu lahir ke dunia" lanjutnya dan spontan Sam menyudahi aksinya menghajar Aldo yang sudah berceceran darah.
Sam hanya terluka di bagian bibir kanan dan menyisakan darah disana. Sam mendekati Viana meminta penjelasan dengan perkataan yang baru saja Viana lontarkan.
"aku hamil" Viana mengucapkannya dengan mata berbinar
"seriously?" Sam langsung memeluk Viana erat. Ia senang sekali mendengar istrinya berbadan dua.
"ya..." lirih Viana hanyut dalam pelukan Sam.
Di sisi lain Liana memeluk Aldo dari belakang. Walau bagaimanapun juga Aldo adalah orang yang dicintainya meskipun ia sedang mengandung anak orang lain. Liana menuntun Aldo masuk ke apartemen dan mengobati lukanya dengan telaten.
Sedangkan Sam, Viana, dan Ira bergegas ke mobil dan segera pulang. Sebelum masuk ke mobil, Ira menyempatkan diri mampir ke apotek. Ia membeli banyak testpack dengan berbagai merk untuk Viana pakai.
"buat lo" Ira menyodorkan satu kresek penuh berisi testpack.
"astaga... elo beli testpack segini banyaknya..." Viana geleng-geleng kepala. Ira memang sangat perhatian dan pengertian tapi terkadang di luar batas hingga Viana hanya bisa mengelus dada.
"ya barangkali elo mau pakai testpack tiap hari"
"lo kira makan tiap hari?"
"ya udah elo simpen aja buat nanti kalo dedeknya udah lahir terus elo hamil lagi" Jawabnya enteng. Ya Tuhan... Viana tidak mengerti dengan jalan pikir Ira. Memang bisa disimpan buat nanti tapi testpack itu ada batas waktunya.
Kali ini Viana tidak ingin berdebat dengan Ira. Tak apa ia mengalah sekali-kali. Tapi liat saja pembalasannya saat Viana mulai ngidam. Viana janji Ia akan membalas Ira lebih konyol lagi daripada ini. Viana tersenyum menyeringai membayangkan akan mengerjai sahabatnya.
Sesampainya di rumah Viana langsung mencoba testpack pembelian Ira. Meskipun ia tau bahwa dirinya benar-benar sedang hamil tapi ia ingin meyakinkan dua makhluk yang berbeda kelamin itu agar mereka percaya sebentar lagi malaikat kecil akan hadir ditengah-tengah mereka.
Viana mencoba tiga testpack sekaligus dan diliatnya dua garis merah yang sangat jelas. Viana langsung menunjukkan hasilnya pada Ira dan Sam yang sudah menunggu di ruang keluarga sambil menonton TV.
"lo beneran hamil Vi" mata Ira terbelalak dan kedua tangannya menutupi mulut karena terkejut bahwa sahabatnya benar-benar berbadan dua.
Sam yang melihat hasil testpack langsung menciumi kening Viana mesra lalu mengelus perut datarnya.
"mulai sekarang kamu gak boleh kemana-mana. Tinggal di rumah dan jangan kerja! Biar aku yang ngurusin pekerjaan" perintah Sam tegas. Viana mendengus pasrah. Ia yang sadar sedang hamil muda tak ingin membantah Sam karena khawatir jika terjadi apa-apa dengan dirinya terutama calon bayi mereka.
"urusan masak dan beres-beres rumah biar gue yang ambil alih" tawar Ira
"gak... kalo lo yang masak dan beres-beres rumah nanti yang ngurusin akun gue siapa? gue gak mau rugi lah. enak aja" cerocos Viana menolak tawaran Ira mentah-mentah.
Ira menepuk jidatnya. Sahabatnya ini memang matre. Padahal Viana sudah sangat kaya tapi ia benar-benar tidak ingin rugi sedikitpun. Jika menyangkut urusan uang pasti akan Viana nomor satukan.
"kamu cari asisten rumah tangga aja ra" pinta Sam menengahi
"satu?" tanya Ira
"dua cukup?" Sam meminta pendapat Viana "buat masak sama beres-beres rumah" lanjutnya.
"gak kebanyakan?" timpal Viana
"kamu kan gak boleh capek sayang. Harus banyak istirahat" Sam mengingatkan.
"ok... gue usahain besok dua ART itu langsung kerja disini" Ira menyanggupi.
"lo makan sana! nelangsa banget sih lo gak pulang sehari" Sempat-sempatnya Ira meledek Viana disaat ia sedang begini. Viana baru ingat jika dari kemarin hanya susu jahe yang masuk ke perutnya. Pantas saja Ira bilang begitu.
"gue dari kemarin belum makan apa-apa" ucap Viana takut Sam marah.
"Dasar cowo sialan" umpat Sam. Benar saja Sam marah pada Aldo. Syukurlah setidaknya Sam tidak marah pada dirinya.
"Aldo gak kasih makan elo ya?" kini Ira yang berpikiran buruk tentang Aldo. Emang lelaki itu sifat berubah jadi buruk sekarang-sekarang ini.
"gue gak bisa makan karena muntah-muntah terus" ucap Viana. Ternyata seperti ini rasanya hamil muda. Untuk makan saja butuh perjuangan. Viana harap calon bayinya tidak menyusahkannya.
Ira lalu mengambil makanan untuk Viana. Mata Viana berbinar. Rasanya ia ingin sekali melahap nasi goreng. Dan kurang dari 5 menit kemudian nasi goreng tersebut telah lenyap dimakan Viana. Ira dan Sam terbengong-bengong melihat Viana makan dengan lahapnya. Viana terlihat seperti tidak makan selama satu minggu.
Wait... Viana kembali merasakan mual. Ia segera berlari menuju westafel yang terletak di dapurnya lalu memuntahkan semua makanan yang baru saja masuk ke perutnya.