Betrayal Of Love

Betrayal Of Love
Yes



Aldo terbangun karena mendengar seseorang menangis. Ia melihat ke samping ternyata Viana sedang menangis tersedu. Entah apa yang membuat Viana menangis se-pagi buta ini pikir Aldo. Viana masih menyelimuti dirinya dengan posisi duduk sehingga kini tubuh Aldo tidak tertutup selimut.


"sini...sini..." pinta Aldo meraih tangan Viana


"dasar cowok brengsek!" umpat Viana dengan airmata yang masih membasahi pipi.


"emang salah gue dimana?" tanya Aldo dengan tampang blo'onnya.


"lo apain gue semalem huh?" tanya Viana dengan mata sedikit melotot.


"oh semalem" ucap Aldo lalu membenarkan posisinya "semalem gue habis muasin elo" lanjutnya dengan muka penuh kepuasan.


"brengsek...brengsek...brengsek" umpat Viana sambil memukul bantal ke muka Aldo berkali-kali. Aldo malah terkekeh mendapat perlakuan itu dari Viana.


"bukannya semalem lo sendiri yang ngajak?" tanya Aldo memastikan.


"elo itu emang pinter memutar balikkan fakta. Dasar mesum!!" Viana kembali menangis. Ia benar-benar merasa sudah ternodai. Bagaimana bisa ia mengembalikan kehormatannya yang sudah direnggut Aldo. Sayangnya itu semua mustahil, pikir Viana dalam tangisnya.


"nih lo liat buktinya" Aldo lalu membuka kancing kemejanya dan mendekat ke arah Viana.


"stoooppp!!! jangan mendekat! kalo sampe elo macem-macem gue tendang burung elo" ancam Viana merapatkan selimut ditubuh bugilnya.


"nih liat!" tunjuk Aldo pada bekas cinta yang Viana tinggalkan di dadanya. "nih liat di leher gue juga ada satu" lanjutnya lagi. Viana menganga lebar tak percaya. Viana berusaha mengingat kejadian semalam dan apa yang Aldo katakan memang benar. Dalam keadaan setengah sadar Viana memang melakukannya. Lalu ia merasa lega karena Aldo tidak merenggut mahkota paling berharga dalam hidupnya.


"semalem elo bener-bener hebat!" puji Aldo sambil senyum meledek.


"kenapa? lagian kita berdua kan calon suami-istri" ucap Aldo mengingatkan. Viana yang menyadari bahwa semalam ia menerima lamaran Aldo merasa malu dan menyembunyikan mukanya di dalam selimut. Aldo membuka selimut yang menutupi wajah Viana. Kini jarak antara keduanya hanya beberapa centi. Mata mereka saling memandang dalam diam.


"gue suka desahan elo.. hahaha" ucap Aldo lalu tertawa berbahak-bahak.


"Aldo!!!!!!!!" teriak Viana kesal sambil mendorong tubuh Aldo hingga lelaki itu terpental ke belakang. "elo itu emang tipe cowok yang suka nyari kesempatan dalam kesempitan"


"salah. Yang bener gue tipe cowok yang pandai memanfaatkan kesempatan"


Viana mencubit lengan Aldo keras hingga cowok itu meringis kesakitan sambil menggosok-gosok lengannya yang sakit karena dicubit Viana. "hehe... maaf sayang. Gue bercanda" ucap Aldo tak tega terus mengerjai Viana. "ini ada hadiah buat elo yang udah gue siapin dari kemaren" ucapnya lalu mengambil wadah perhiasan berbentuk hati dan membukanya.


"cincin?" gumam Viana


"ya. Will you marry me?" tanya Aldo sekali lagi dengan menyodorkan cincin ke hadapan Viana. Mata Viana berbinar dan mengangguk tanda ia menerima lamaran Aldo dengan penuh kesadaran.


"yes" jawabnya mantap


"thank you" ucap Aldo tersenyum senang lalu memeluk Viana. Viana balas memeluk Aldo erat namun dalam sekien detik ia sadar bahwa tubuhnya hanya di tutupi selimut tanpa sepotong pakaian. Ia lalu mendorong Aldo agar melepaskan pelukannya kemudian melilitkan selimut ke tubuhnya persis seperti pocong lalu dengan bersusah payah ia berjalan ke toilet.


Viana menyalakan shower dan membiarkan air mengguyur seluruh tubuhnya. Jantungnya berdebar kencang. Spontan bibirnya menyunggingkan senyuman saat menyadari sekarang status mereka semakin jelas. Ya,,, Viana sudah mengambil keputusan bahwa ia siap menikah dengan Aldo.


Disisi lain, hati Aldo juga tak kalah senangnya saat Viana menerima lamarannya. Saking senangnya ia bahkan lupa menanyakan bagaimana perasaan Viana pada dirinya. Apakah hanya mencintai Aldo atau masih ada nama Sam yang tertulis disana. Aldo ingin tahu isi hati Viana yang sesungguhnya.