Betrayal Of Love

Betrayal Of Love
Extra Part 17



Viana yang sedang emosi enggan menghampiri Sam yang sedang asyik mengobrol dengan teman wanitanya. Hati Viana terbakar api cemburu. Ia lalu pergi menuju lift meninggalkan Sam dengan Indah.


Memasuki lift dengan mata berkaca-kaca membuat penglihatannya buram hingga Viana tidak melihat Aldo dan Liana berada dalam satu lift dengan dirinya. Aldo dan Liana sama kagetnya saat mereka satu lift dengan Viana.


Posisi Viana yang berdiri di depan Liana dan Aldo membuat Aldo dan Liana dengan jelas melihat Viana terisak. Entah ada masalah apa tapi melihat keadaan Viana, Liana menjadi kasian. Liana juga masih merasa bersalah dengan Viana dan berniat memperbaiki hubungannya dengan Viana.


Liana memegang pundak Viana pelan lalu mengusapnya agar ia tenang. Merasa ada yang menyentuh pundaknya Viana berbalik badan dan betapa terkejutnya saat ia mendapati Liana dan Aldo berada di belakangnya.


Viana bisa melihat Liana tersenyum manis padanya tapi Viana tak mampu membalas senyuman tulus itu. Memori otak Viana kembali mengingat kejadiaan buruk kala itu.


Tring!


Pintu lift terbuka dan Viana buru-buru keluar menjauh dari dua orang tersebut. Aldo dan Liana berusaha mengejar Viana karena mereka ingin meminta maaf sekaligus mengabari jikalau mereka berdua sudah menikah.


"tunggu" pinta Liana memegang tangan Viana. Seperti terhipnotis, Viana menghentikan langkahnya. Baiklah mungkin kali ini Viana harus memberi kesempatan pada mereka untuk berbicara.


"gue...gue minta maaf soal itu" ucap Liana tertunduk. "gue mau kita baik-baik aja" lanjutnya lagi.


Mendengar iktikad baik dari Liana, hati Viana pun luruh. Lagipula tidak ada gunanya juga Viana menyimpan marah berlama-lama. Saling memaafkan jauh lebih baik.


"gue sama Liana udah nikah Vi" kini bibir Aldo yang mengeluarkan suara. Menanggapi itu, Viana hanya tersenyum. Ia malas mengeluarkan kata-kata karena suasana hatinya sedang tidak baik.


Liana lalu memeluk Viana. Entah kenapa pelukan Liana mampu menenangkan hatinya yang sedang dilanda amarah dan cemburu. Viana balas memeluk Liana dan tanpa terasa airmatanya kembali menetes.


Bukannya menjawab, Viana semakin menangis terisak hingga menjadi pusat perhatian orang-orang disekeliling. Viana memang rapuh dan sensitif semenjak hamil.


"gue sama Liana antar elo pulang ya?" tawar Aldo tak tega melihat Viana. Viana mengangguk setuju tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Akhirnya Viana, Liana, dan Aldo keluar dari mall menuju parkiran untuk segera pulang.


-----


"kamu sendirian?" tanya Indah.


Oh God! Sam melupakan Viana. Sudah berapa lama ia berbincang dengan Indah sampai-sampai melupakan Viana? ****!! kenapa Sam bisa lupa sih dengan istrinya itu.


Sam mengalihkan pandangannya ke arah ia tadi meninggalkan Viana yang sedang memilih perhiasan. Nihil! Viana tidak ada disana. Kemana perginya Viana? Sam merutuki kebodohannya. Ia pastikan Viana sangat marah padanya yang asyik berbincang dengan Indah dan melupakan keberadaan Viana. Tapi kenapa Viana tidak menghampirinya? kenapa Viana malah meninggalkannya dan membuat Sam jadi khawatir.


Sam mengedarkan pandangannya mencari Viana tapi sejauh mata memandang ia tidak melihat sosok istrinya. Sam bolak-balik kesana kemari tapi tetap saja Viana tidak bisa ia temukan. Tidak mungkin kan kalau Sam harus mengitari semua lantai Mall Grand Indonesia? bisa-bisa Sam tidak dapat berjalan besoknya.


Sam lalu merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya dan menelpon mang Asep.


"mang Viana udah di mobil?" tanya Sam penuh khawatir saat menelpon sopir pribadinya. Namun jawaban mang Asep membuat hati Sam menjadi gelisah. Istrinya itu tidak ada di mobil. Lalu kemana perginya?


Sam segera meminta mang Asep untuk menjemputnya di lobby. Tak lama kemudian mang Asep datang. Mobil mereka melaju menuju ke rumah. Sam berharap Viana sudah ada disana dengan aman dan menunggunya.


Indah yang ditinggalkan Sam begitu saja tanpa pamit merasa heran. Tapi ia tak mau ambil pusing. Perbincangannya dengan Sam membuat hatinya merasa senang. Setidaknya ia memiliki kesempatan untuk bisa mengenal Sam lebih jauh. Fikirannya terus mendoktrin otaknya bahwa Sam masih single karena lelaki itu juga tidak pernah mengatakan bahwa ia sudah memiliki pacar atau istri.