
Suasana pagi ini di rumah Viana sangat berbeda. Biasanya hanya ada suara Viana, Sam, dan Tv kini ada suara anak-anak kecil bermain dengan riang. Setelah sarapan, Lucy dan Louisa bermain di ruang keluarga dimana Sam dan Viana sedang menonton Tv.
Lucy dan adiknya bermain kerjar-kejaran hingga menciptakan gelak tawa antara keduanya. Suasana seperti inilah yang Viana dambakan. Rumahnya dipenuhi suasana tangis dan tawa anak-anak.
Sebentar lagi Sam akan berangkat untuk memantau bisnis propertinya. Kini Viana tidak lagi kesepian karena ada dua anak tirinya. Sedangkan Ira sudah berangkat sedari jam enam karena akan menemui kliennya.
"daddy!" teriak Lucy disusul suara tangis Louisa. Mendengar namanya disebut sang anak, Sam langsung menghampirinya. Didapatinya Luoisa sedang menangis di halaman rumah sambil memegang lututnya yang berdarah.
Lucy berbicara dalam bahasa Perancis.
"Louisa jatuh dad" adu Lucy saat Sam datang.
"tidak apa-apa. Hanya luka kecil" ucap Sam lalu menggendong Louisa masuk ke dalam rumah.
Sudah satu minggu Lucy dan Louisa tinggal bersama ayahnya di Indonesia dan sudah satu minggu pula Sam mengajari mereka bahasa Indonesia. Mengajari anak kecil seperti kedua anaknya jauh lebih mudah sehingga mereka cepat mengerti meski masih belum bisa mempraktekannya.
"kenapa?" tanya Viana saat Sam datang sambil menggendong Louisa yang menangis.
"Louisa jatuh" ucap Sam lalu mendudukan putrinya di samping Viana. Ia mengambil kotak obat untuk mengobati luka anaknya. Viana lalu mengelus kepala Louisa agar berhenti menangis. Viana memang masih belum bisa berkomunikasi dengan kedua anaknya karena berbeda bahasa.
"no daddy sakit" mengetahui Sam datang dengan membawa obat, Louisa menangis kencang ketakutan.
"kata siapa sakit? Louisa kan belum mencobanya" Sam lalu meneteskan Alkohol di kapas dan menempelkannya di luka Louisa. "sakit?" lanjutnya. Louisa menggelengkan kepala. Ia tersenyum kuda lalu menutupi mukanya dengan kedua tangan imutnya. Melihat kelakuan menggemaskan Louisa, Viana dan Sam tertawa.
"mama?" panggil Lucy sambil menunjukan sebatang coklat yang ia ambil dari dalam kulkas berisyarat meminta izin Viana untuk memakannya. Lucy tau jika ia izin pada Sam, ayahnya itu tidak akan membolehkannya memakan coklat. Itu sebabnya Lucy meminta izin pada Viana.
"telimakasih" ucapnya dalam bahasa Indonesia dengan pelafalan yang belum sempurna.
"daddy Louisa juga mau coklat" rengek Louisa pada ayahnya.
"tapi sedikit aja ya" ucap Sam lalu memberikan potongan coklat dari tangan Viana pada Louisa. "jangan lari-lari nanti jatuh lagi" Sam memperingatkan Louisa yang sudah berlari menyusul kakaknya.
"mereka lucu ya" ucap Viana menepuk-nepuk sofa di sebelahnya memberi kode pada Sam untuk duduk di Sampingnya.
"mereka juga gak akan kalah lucunya" balas Sam mengelus perut Viana.
"mau siap-siap?"
"kemana?"
"loh katanya kamu mau ninjau proyek di Bekasi?"
"aku mager" jawab Sam yang sudah menghafal beberapa kata singkatan dalam bahasa Indonesia. Mendengar jawaban Sam membuat Viana terkekeh geli.
"bilang aja kamu takut kangen aku. Iya kan?" Goda Viana menoel dagu suaminya.
"aku gak takut kangen kamu. Aku takutnya kamu ninggalin aku" Sam merangkup kedua pipi Viana membuat si empu memalingkan pandangan karena malu saat pandangan mata mereka beradu. Sam lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Viana untuk mencium istrinya.
"daddy sedang apa?" adalah pertanyaan polos Louisa yang membuat Sam dan Viana beringsut menghindar satu sama lain seperti kepergok akan berbuat sesuatu.