
Viana dan Sam masuk ke sebuah Mall favorit mereka yang tak jauh dari kantor Viana. Pelan tapi pasti mereka melangkah beriringan sambil bergandengan tangan. Mata mereka mencari-cari restoran yang akan mereka singgahi untuk mengisi perut kosong keduanya.
"kita makan disitu" tunjuk Viana ke sebuah restoran dan langsung masuk ke dalam resto tanpa lebih dulu mendapat persetujuan Sam.
Viana memilih tempat duduk dipojok kiri yang bersampingan dengan tembok. Ia sengaja memilih tempat disini karena kursinya memiliki sandaran empuk. Cocok untuk Viana melepas penat dengan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sedangkan Sam ia memilih duduk di kursi depan Viana sehingga posisi mereka berdua kini berhadapan.
Tanpa menunggu lama pelayanpun datang dengan menyuguhkan buku menu yang terdiri dari berbagai makanan yang menggugah selera. Setelah menunjuk menu ini dan itu Viana dan Sam menunggu pesanan mereka datang.
Sambil menunggu pesanan datang Viana melihat sekeliling restoran yang didominasi warna hijau dengan tema pedesaan sehingga membuat kesan restoran ini seperti restoran sederhana dan elegan serta menyejukan mata.
Tiba-tiba matanya tertuju pada sosok pria yang baru saja masuk ke restoran dan pria itu tidak asing bagi Viana.
"AL........" Viana segera membungkam mulutnya sesaat setelah ia menyadari lelaki itu masuk ke restoran diikuti seorang wanita cantik di belakangnya. Wanita itu langsung duduk bersampingan dengan pria tersebut dan menyandarkan kepalanya ke bahu prianya.
"ada apa?" tanya Sam penuh kebingungan mendapati Viana yang tiba-tiba menutup mulutnya.
"ah... enggak" ucap Viana enggan memberi tahu Sam. Entah kenapa hati Viana begitu panas setelah melihat adegan tersebut. Hatinya tak tenang. Seperti ada sesuatu yang meruntuhkan kepingan hatinya.
"perasaan apa ini? bukankah aku sudah ada Sam tapi kenapa sesakit ini?" gumam Viana dalam hatinya. Matanya masih memperhatikan Aldo dengan gadis yang ia temui di kantor.
"makan yang banyak" kata Sam menggeser pesanan Viana kehadapan gadis itu agar segera dimakan oleh empunya.
"makasih" Viana tersenyum menyembunyikan perasaan hatinya yang tak bisa ditebak. Selera makannya seperti hilang begitu saja. Rasanya ia ingin cepat-cepat pulang karena tak tahan melihat Aldo bersama wanita lain di hadapannya.
Namun ia juga harus menjaga perasaan Sam. Viana tidak ingin Sam curiga dengan sikapnya. Itu sebabnya ia lebih memilih melanjutkan acara makan mereka berdua meski rasa lapar itu telah lenyap entah kemana.
-----------
Suara air bergemericik tak juga menenagkan pikirannya. Butiran air yang menempel di wajah tak jua menyamarkan buliran airmata dipipinya. Kepalanya terus tertunduk menahan sakit perasaannya yang ia juga tak mengerti.
Dinginnya udara malam tetap saja tak mampu memadamkan bara api dihatinya. Entah kenapa hatinya begitu sakit padahal detik ini ia sudah mencintai Sam. Mungkinkah satu hati bisa mencintai dua orang sekaligus? Entahlah... yang pasti hatinya benar-benar sakit saat ini.
"ingat Viana, kamu udah punya Sam yang lebih sempurna dari dia. Dia hanya bagian masa lalu kamu yang belum sempat dimulai. Kamu kuat....kamu pasti kuat. Dia hanya cowo brengsek yang pergi tanpa pamit"
"tapi aku rindu dia.. aku sangat rindu masa-masa seperti dulu"
Begitulah pergolakan batin Viana diiringi tangis yang tersamarkan dengan suara air yang membasahi tubuhnya.