Betrayal Of Love

Betrayal Of Love
Panas



Mobil yang Jojo kendarai sudah memasuki basement salah satu hotel mewah di Jakarta. Ke-empat orang tersebut segera keluar untuk menuju auditorium hotel tempat acara pernikahan dilangsungkan. Terlihat banyak tamu undangan berlalu lalang.


Aldo segera menggandeng tangan Viana masuk sambil menyodorkan kartu undangannya pada satpam yang berjaga di pintu masuk. Viana hanya bisa menurut. Toh ditempat ini juga tidak ada yang ia kenal satupun. Sedangkan Jojo dan Ira menyususl di belakangnya.


Tanpa mereka sadari, ada empat pasang mata yang melihat kedatangan mereka dan mengawasi gerak-gerik mereka. Tak lama ponsel Aldo berdering. Ia segera mengambil ponselnya dan tertera nama Meli dilayar ponselnya. Dengan malas Aldo mengangkat telfon Meli.


Viana tak begitu menghiraukan percakapan Meli dan Aldo. Ia lebih menikmati hidangan-hidangan yang berjejer di meja prasmanan. Jika saja Viana tidak malu dengan tamu undangan lainnya ingin sekali ia mencicipi semua makanan lezat di depannya.


Seperti hujan yang turun tanpa diminta, begitupun rindu yang datang tanpa aba-aba. Tiba-tiba hati Viana merindukan Sam. Ingatannya kilas balik saat pertama kali ia menghadiri perta ulang tahun teman Sam dimana saat itu Sam benar-benar slalu disampingnya. Bahkan ia sama sekali tak mengizinkan siapapun menyentuh Viana. "Sam" ucap Viana lirih dengan airmata yang ia tahan.


Sedangkan Aldo, ia terlihat seperti sedang bercakap dengan seorang MC dan juga mempelai pria. Entah apa yang mereka bicarakan tapi pembicaraan mereka sepertinya serius. Lalu Aldo menyalami keduanya sebelum pergi sambil menyunggingkan senyum kemudian menghampiri Viana.


"kenapa nglamun?" tanya Aldo tiba-tiba membuyarkan lamunan Viana yang masih memegang sepotong kue ditangannya.


"huh? siapa yang nglamun?" kilah Viana tapi Aldo tidak bisa dibohongi. Ia tau Viana memikirkan sesuatu.


"mau gabung sama Ira dan Jojo?" tawar Aldo sembari menunjuk ke arah dua sejoli yang asyik berbincang entah dengan siapa tapi terlihat begitu akrab.


"gak usah. Jangan ganggu mereka" tolak Viana halus


"bilang aja lo gak mau diganggu berduaan sama gue" ucap Aldo dengan nada menggoda. Belum sempat Viana menjawab, seorang wanita menghampiri Aldo dan menggelayut di lengan kekar Aldo.


"gue cari-cari elo ternyata ada disini" ucap Meli tanpa memperdulikan kehadiran Viana yang ada di depannya. Aldo mendengus kasar dengan sikap manja Meli. Sedangkan Viana, ia menatap Meli tajam. Ingin rasanya ia menepis tangan Meli dari lengan Aldo. Bila perlu Viana ingin menjambak rambut Meli. Tapi ia sadar ini tempat umum dan ia harus menjaga nama baiknya. Lagi pula atas dasar apa ia marah? Viana sama sekali tak memiliki hak karena hubungan mereka belum berstatus jelas.


Meli lalu menyodorkan segelas jus jeruk pada Aldo. Viana menyambar jus jeruk yang seharusnya untuk Aldo dan meminumnya sampai habis dalam tiga kali tenggak. Entah karena haus atau melampiaskan rasa cemburunya tapi Viana tidak suka Aldo menerima pemberian apapun dari wanita lain termasuk jus jeruk.


Meli terperangah tak percaya dengan apa yang ia saksikan. Ia sangat geram dan merebut kembali gelas yang sudah kosong dari tangan Viana.


"lo apa-apaan sih? lo pikir minuman itu buat elo apa?" Ucap Meli kesal. Sedangkan Viana hanya diam sambil tersenyum sinis.


"aaauw" rintih Viana sambil mengelus bahunya.


"sakit?" tanya Aldo ikutan mengelus bahu Viana.


"gak apa-apa ko"


"yaudah ayo kita ke ...."


"hmm... panas" ucap Viana memotong pembicaraan Aldo.


"disini banyak AC masa lo kepanasan"


"tapi gue beneran panas" ucap Viana sambil menggaruk-garuk punggungnya dan berusaha meraih resleting dibagian belakang.


"lo mau buka gaun disini? lo gila?" ucap Aldo yang menghentikan tangan Viana. "ikut gue!" lanjutnya lalu membawa Viana keluar dan menuju meja resepsionis.


Viana yang badannya semakin kepanasan tidak perduli dengan keadaan sekitar.


Setelah itu, Aldo dan Viana masuk ke lift dan menuju lantai 7. Aldo membawa Viana masuk ke salah satu kamar hotel. Sesampainya di kamar, Viana segera melepaskan gaunnya tanpa memperdulikan keberadaan Aldo karena setengah kesadarannya sudah hilang ditambah kepalanya yang terasa pusing.


"shit!!!!!" umpat Aldo. "dasar cewek licik! berani-beraninya dia merencanakan sesuatu ke gue!" sambungnya yang terlihat frustasi. Aldo melihat Viana menggeliat diatas ranjang dengan hanya memakai pakaian dalam dan terus mengerang kepanasan.


"maafin gue Vi" lirih Aldo merasa tak tega dengan keadaan Viana yang sudah tersiksa. Tapi Aldo tidak punya pilihan lain. Jalan satu-satu adalah ......


##Bersambung###