
Setelah 8 hari dirawat, akhirnya Sam bisa keluar dari rumah sakit atas izin dokter. Sam rasanya rindu sekali menikmati suasana ibukota Indonesia dengan gadis pujaannya. Dinand, Gofar, dan Hilmaz dengan setia menjemput sahabatnya dari rumah sakit. Sedangkan Viana hari ini ada jadwal meeting dengan kliennya sehingga ia tidak bisa ikut menjemput Sam.
--------
Di kantor, Viana sedang mempresentasikan profil perusahaannya kepada klien perempuannya. Bisa dibilang masih muda karena dari parasnya ia seperti seumuran dengan Viana. Setelah 30 menit berlalu akhirnya meeting selesai juga. Viana menjabat tangan Meli sebelum mereka berpisah sambil saling menunjukan senyum manis mereka. Begitupun dengan Jojo. Ia seperti akrab dengan Meli.
"kamu kenal dia Jo?" tanya Viana sambil melangkah menuju ruangan mereka
"kenal bu. Dia tunangan sahabat saya"
"wah bagus donk. Semoga aja dia tertarik bergabung dengan perusahaan kita. Kamu harus bisa meyakinkan dia Jo" tegas Viana
"tenang bu. Itu bisa diatur" kata Jojo meyakinkan
"oh iya ko sahabat kamu gak nganter tunangannya atau apa gitu kesini?"
"jangankan nganter dia bu, ketemu aja kadang harus dipaksa ortunya" terang Jojo
"loh ko gitu?"
"iya mereka dijodohin bu. Lagian sahabat saya juga sekarang masih ada di luar negri"
"jaman sekarang masih aja jodoh-jodohan ya Jo." kata Viana sambil tertawa kecil. "kamu jangan sampe bernasib sama dengan sahabat mu Jo" lanjut Viana
"hhhh... tenang bu. Saya udah ada calonnya ko" kata Jojo jujur
"baguslah Jo. Semoga kalian langgeng sampe ke pelaminan nanti" kata Viana
"ibu sendiri?" tanya Jojo. Viana menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"ada Jo. tapi aku gak yakin nikah sama dia" kata Viana sedikit berat. Kini mereka seolah berada di sesi curhat bukan sesi kerja lagi.
"kenapa bu?" kata Jojo ragu
"ya karena dia bukan orang Indonesia Jo. Dan aku gak tau bibit, bebet, bobotnya" ujar Viana
"terus sekarang keputusan ibu gimana?" Jojo penasaran
"jalani aja dulu lah Jo" kata Viana pelan "dulu aku pernah suka sama seseorang tapi dia tiba-tiba menghilang"lanjut Viana.
" emang salah aku juga yang gak pernah nunjukin sikap suka aku. Bersikap dingin terus jutek" kata Viana sambil menatap ke arah jendela.
"ibu gak coba cari dimana keberadaannya?" saut Jojo. Viana menggelengkan kepalanya.
"gak Jo. Dari situ aku sadar kalo dia gak punya perasaan apa-apa sama aku. Buktinya dia pergi tanpa pamit" ucap Viana lirih sambil mengalihkan pandangannya ke meja kerjanya. Seakan dia sedang mengenang sesuatu.
"mungkin dia punya alasan sendiri bu" Jojo mencoba berfikir positif.
"ah sudahlah. Aku gak mau inget-inget dia lagi. Yang penting sekarang aku udah ada gantinya Jo"
"semangat bu! Jodoh gak akan kemana" kata Jojo menyemangati manajernya. Viana tersenyum. Entah sejak kapan dia merasa akrab dengan Jojo sampai membicarakan masalah pribadinya.
Jam menunjukan pukul 05 lebih 10 menit. Viana dan Jojo keluar ruangan bersamaan. Ira yang sudah menunggu Viana di lobby melihat juga kehadiran Jojo. Spontan ia langsung berbalik hadap dan mengambil kaca di tasnya. "muka gue masih cantik" gumam Ira sambil berkaca.
"napa lo?" tanya Viana melihat sikap Ira yang tak biasa
"gak" kata Ira gugup.
"ibu kenal sama Ira?" tanya Jojo
"bukan kenal lagi. Kita temen sekamer juga malah" kata Viana. Ira hanya senyum-senyum karena gugup melihat Jojo. "eh tapi kalian...." lanjut Viana menghentikan ucapannya. Ia mencoba menerka-nerka. "oh jadi ini cowo yang elo mmmm" Ira langsung menutup mulut Viana dengan tangan kanannya agar dia tidak melanjutkan ucapannya.
"bisa diem gak lo!" bisik Ira masih menutup mulut Viana.
"ada apa?" tanya Jojo tak mengerti.
"oh gak apa-apa" jawab Ira tersenyum kecut sambil melepaskan tangannya dari mulut Viana. "dia kalo ngomong gak disaring dulu jadi gue tutup mulutnya biar telinga kamu gak rusak Jo" kata Ira basa-basi.
"bilang aja lo gak mau rahasia lo kebongkar" jawab Viana terkekeh. Ira lalu menginjak kaki Viana agar sahabatnya itu diam.
"mmm.. oh iya bu boleh gak aku ajak Ira makan, nanti biar sekalian aku antar pulang" Jojo meminta izin pada Viana.
"yaelah Jo. Kamu kalo diluar jam kerja panggil Viana aja. gak usah formal banget" kata Viana sambil menepuk bahu Jojo. "kamu bawa aja sesuka kamu. Tapi ingat, jangan macam-macam" kata Viana mengingatkan Jojo layaknya seperti orang tua mengingatkan pacar anaknya.
Jojo mengangguk tanda mengerti sambil menggandeng Ira yang masih tak percaya dengan pertunjukan di depannya. Ira seperti sedang bermimpi. Bahkan Ira tak mampu berkata-kata dengan sikap Jojo barusan. Ia hanya merasakan jantungnya semakin berdetak kencang.
Sedangkan Viana tersenyum senang. Ia lalu melangkah menuju ke lift. Sesampainya di lantai bawah, ia melihat Sam yang sedang berdiri di tengah pintu. Viana langsung lari dan memeluk Sam yang sudah keluar dari rumah sakit. Rasanya ia rindu sekali dengan Sam seperti bertahun-tahun baru bertemu lagi.