
Angin malam yang dingin tak mampu mendinginkan hati Viana. Sorot matanya menatap nanar ke arah jendela mobil sambil melihat jalan yang pernah disinggahinya dengan Sam. Rasanya malu sekali terjebak cinta dengan seseorang yang sudah berkeluarga. Namun ia juga tak pernah menduga atau menyangka bahwa kisah cinta naas ini menimpa dirinya.
Berapa kali ia merutuki nasib cintanya namun apa mau dikata? semuanya sudah terjadi tanpa diminta. Kenapa harus dengan Sam? kenapa tidak dengan yang lain saja ia melabuhkan hatinya. Jika lelaki brengsek yang sedang menyetir ini tidak menghilang tiba-tiba, mungkin akan berbeda cerita.
"udah ya" ucap Aldo saat melihat Viana berderai air mata lalu mengelus rambut Viana. Namun Viana tetap diam seribu bahasa karena hatinya benar-benar sakit sudah dipermainkan.
"ya ampun ingusnya netes" ucap Aldo menahan tawa saat melihat ingus Viana yang encer berhasil mendarat ke kemejanya. Viana yang menyadarinya langsung mengusap sisanya dengan tangan sendiri dan mengelapkannya ke celana Aldo. Aldo yang sedang fokus menyetir tidak mampu menolak dan pasrah sambil menahan jijik.
"cantik-cantik tapi jorok" umpat Aldo bergidik
"bodoamat" saut Viana ketus.
"kruyuk" Viana memegangi perutnya yang sudah berbunyi.
"beluk makan?" tanya Aldo
"hmmm" jawab Viana singkat
"yaudah kita mampir ke restoran di depan" ajak Aldo sambil mengambil jalur kiri.
"gak! gue mau langsung pulang aja" lagi-lagi Viana menolak karena selera makannya hilang.
"nangis itu mengeluarkan banyak energi loh. Kamu kamu gak makan karena gak ada energinya, nanti kamu gak bisa nangis lagi" timpal Aldo dengan nada meledek. Viana yang mendengar perkataan Aldo langsung menatap ke arah cowo tersebut dengan tatapan sinis.
"ayo turun" pinta Aldo yang sudah memasuki parkiran resto. Viana masih tetap diam tidak bergeming. Aldo turun dari mobil kemudian membuka pintu lain untuk mempersilahkan Viana turun namun Viana tetap diam. Tak ingin berpikir panjang, Aldo menggendong Viana lalu menutup pintu mobil dengan kaki kirinya dan membawa Viana masuk ke resto dalam gendongannya.
"turunin gak?!" pinta Viana yang merasa malu menjadi pusat perhatian para pengunjung dan karyawan. Namun Aldo tidak mengindahkannya. Viana menutupi mukanya dengan kedua tangannya menahan malu hingga Aldo menurunkannya di kursi yang menghadap gedung-gedung pencakar langit nan indah.
"kamu mau makan apa?" tanya Aldo sopan.
"samain aja" jawab Viana yang fokus melihat gedung-gedung yang menjulang ke langit. Untuk sejenak, Viana melupakan lukanya dengan menikmati pemandangan gedung yang menjadi favoritnya.
"pesen cumi asam pedas, ikan bakar, sama salad sayur dan nasi putih 2 porsi" ucap Aldo dan pelayan langsung mencatat pesanan Aldo
"minumnya tuan?"
"jus guava dua sama es cream coklat dengan toping ini, ini, dan ini" tunjuk Aldo pada gambar-gambar toping yang ia tidak tau apa namanya.
"baik. Mohon ditunggu" pamit pelayan sambil tersenyum sopan.
-------
Sam frustasi. Ia membanting semua benda yang ada di violetnya hingga menciptakan suara gaduh karena beberapa barang yang pecah. Pikirannya benar-benar kalut. Bukan maksud untuk membohongi Viana, tapi Sam benar-benar mencintai Viana dengan tulus.
Sam menjambak rambutnya dan duduk di sudut ruangan. Pikirannya menerawang sambil mengenang saat-saat bersama Viana. Begitu banyak kenangan indah yang mereka ciptakan hingga terlalu manis untuk dilupakan.
Sam teringat Viana membuang cincin pemberiannya sembarang tempat. Matanya mencari-cari keberadaan cincin tersebut. "dimana?" gumamnya bertanya pada diri sendiri sambil terus mencari namun tidak juga ia temukan.
Sam lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang nampak kucel.
"shit!!!" umpatnya kesakitan saat ia menginjak sesuatu. "oh cincin" ucap Sam senang saat menemukan cincin yang terinjak kakinya. "bagaimanapun juga aku harus dapetin kamu Vi. Persetan dengan statusku!!" ucap Sam nekat dengan otak yang sedang menyusun rencana untuk mendapatkan Viana.
Sam menaruh cincinnya ke dalam kotak jam tangan dan memasukkannya ke berangkas. Disana, ia melihat foto anaknya yang sengaja ia bawa. Bibirnya mengembang melihat wajah ceria buah hatinya. Sejenak ia bisa melupakan Viana. Hatinya teduh hanya dengan melihat foto anaknya.