
Mata Sam tidak bisa berpaling dari dua bayi kembar yang ada dalam inkubator. Sorot mata penuh kesedihan terlihat sangat jelas disana. Di balik jendela kaca itu, Sam berdiri menatap kedua buah hatinya dengan Viana yang terpaksa dilahirkan secara prematur melalui operasi caesar.
Karena kecelakaan itu air ketuban Viana pecah hingga dokter menyarankan untuk segera menjalani operasi caesar agar kedua bayinya selamat meski harus terlahir secara prematur. Dan hanya inilah jalan satu-satu nya untuk menyelamatkan dua nyawa malaikat kecil di perut Viana. Disisi lain, Viana yang terluka parah di bagian kepala membuat ia harus menjalani masa kritis.
Bayi kembar dengan bobot 2,2 Kg dan 2,0 Kg berjenis kelamin berbeda itu menggeliat sambil menghisap jempolnya. Mereka terlihat kelaparan ingin menyusu pada ibunya. Tapi sayangnya ibu mereka sedang berada antara hidup dan mati.
Semua orang yang menunggui Viana dirundung kesedihan. Ira, Jojo, Liana, dan Aldo tak tega melihat kedua bayi kembar itu. Sam merasa begitu terpukul dengan pemandangan di depannya. Baru kali ini ia merasa kesedihan yang mendalam di hidupnya.
"Daddy Louisa mau liat dede bayi" Menarik celana ayahnya, Louisa kecil minta digendong agar bisa melihat adik kembarnya yang baru lahir. "Daddy kenapa nangis?" imbuhnya.
Menghapus airmatanya, Sam memberikan senyuman pada Louisa. "Daddy tidak menangis sayang. Daddy cuma terharu" Kilahnya lalu mengangkat tubuh mungil putrinya. Nyatanya, Sam memang menangis karena sedih bukan terharu. Tuhan... kembalikan Viana pada kami. Lihatlah.. si kecil membutuhkan sosok ibunya. Berdo'a dalam hati sembari memandangi kedua bayi kembarnya, Sam berlinang airmata. Sakitnya Viana membuat Sam menjadi lemah dan banyak menangis.
"Louisa sama aunty Ira yuk" Ajak Ira mengulurkan kedua tangannya mengambil alih Louisa dari gendongan Sam. Ira mengerti Sam sedang sangat sedih jadi Ira hanya ingin meringankan sedikit beban suami sahabatnya sebisa yang ia mampu.
"Louisa main sama aunty Ira ya?" Louisa yang sudah paham dengan bahasa Indonesia itu mengangguk meski ia belum bisa menjawabnya. Sam lalu mengalihkan gendongan anaknya pada Ira.
"Kamu makan dulu gih! Tadi Aldo udah beli makanan buat kita semua" Setelah berkata demikian, Ira membawa Louisa berkumpul bersama yang lainnya di ruang yang Aldo sengaja Aldo sewa untuk mereka beristirahat. Aldo, Liana, Jojo, dan Lucy sudah ada disana.
"Sam mana?" tanya Aldo melihat Ira yang datang dengan Louisa saja.
"Masih di belakang" Jawab Ira mendudukan Louisa di pangkuannya lalu menyuapinya dengan nasi dan telor dadar sosir kesukaan ponakannya ini.
Tak puas dengan jawaban Ira, Aldo beranjak menyusul Sam. Disana, Aldo melihat Sam tidak bergeming dari tempatnya dan terus memandangi putra-putrinya yang baru lahir.
"Sam" panggil Aldo menepuk kedua pundak Sam.
"Hmmm" Jawab Sam
"Mereka kuat sama seperti ibunya" Ucap Aldo ikut memandangi kedua bayi kembar yang mulai tertidur lagi. Sam tidak bersuara. Pandangannya tetap fokus melihat ke depan.
"Aku...aku belum menyiapkan nama untuk mereka" Jawab Sam yang lupa menyiapkan nama untuk kedua bayinya. Hal ini karena keduanya lahir di luar perkiraan, jadi Sam belum sempat memikirkan hal itu.
"Kalau Viana sadar, pasti dia seneng liat bayinya lucu dan menggemaskan" Tak dipungkiri memang, Bayi berjenis kelamin wanita mirip sekali dengan Sam sedangkan bayi yang berkelamin pria mirip dengan Viana. Tuhan memang Sang Maha Adil.
"Gue cuma mau minta maaf sama elo kalau selama ini gue punya salah sama elo dan Viana" Lanjut Aldo
"ALDO!!" Panggil Jojo dari kejauhan lalu menghampiri Aldo dan Sam.
"Gue punya informasi penting buat elo" ujar Jojo sambil memegang ponselnya.
"Informasi apa?"
"Yang nabrak Viana ternyata Meli dan temen cewek elo juga terlibat dalam kecelakaan ini. Siapa namanya Sam?" Tanya Jojo.
"Maksudnya Indah?" Jawab Sam.
"Nah itu! Mereka udah ngrencanain ini jauh-jauh hari"
"Elo tau dari mana?" tanya Aldo
"Gue suruh orang buat selidikin kecelakaan Viana. Dan orang suruhan gue nemu bukti-bukti bahwa pelakunya Meli" Jawab Jojo mantap. "Kayaknya dia dendam sama pernikahan elo dan berniat melenyapkan Liana. Sayangnya dia salah sasaran." Imbuh Jojo.
"Ikut gue Jo. Kita ke kantor polisi sekarang! Hubungi orang suruhan elo buat ikut kita juga." Aldo dan Jojo segera pergi ke kantor polisi untuk memberikan laporan tentang siapa pelakunya disertai bukti-buktinya.
Aldo benar-benar geram dengan tingkah Meli yang kekanakan dan tak pernah bersikap dewasa. Ia sama saja seperti kakaknya yang menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisinya. Jika memang benar Meli pelakunya, Aldo bersumpah ia takkan memaafkan wanita ular itu dan juga temannya.