
Belum sampai disitu keterkejutan Sam, sebuah taksi berhenti tepat di depan halaman rumahnya dan keluarlah dua orang laki-laki yang sangat Sam kenal.
"loh kalian juga ada disini?" satu pertanyaan dari sekian banyak pertanyaan yang memutari otak Sam.
"surprise!" jawab Hilmaz sambil merentangkan tangannya.
"ini rumah kamu?" sekarang giliran Gofar yang bertanya karena takjub dengan rumah mewah yang Sam tempati.
"Ya. Rumahku dan Viana" jawab Sam lalu mempersilahkan mereka masuk.
"siapa?" tanya Viana yang datang dari dalam karena mendengar banyak suara-suara di luar.
"mama?" adalah sebuah kata yang Louisa ucapkan pertama kali melihat kedatangan Viana. Semua orang yang mendengarnya tak percaya sekaligus takjub dengan apa yang putri kecil Sam katakan.
Mendengar sebutan mama membuat hati Viana terenyuh. Lantas ia menggendong Louisa kecil sembari mengelus pipi Lucy yang masih bingung dengan keadaan. Dalam gendongan Viana, Louisa yang polos cekikikan karena geli pipinya diciumi Viana. Viana yang notabenenya menyukai anak kecil sangat senang dengan kehadiran anak-anak Sam yang cantik bahkan lebih cantik dari dirinya.
Melihat keakraban Louisa dan Viana membuat Sam, Dinand, Gofar, dan Hilmaz terharu. Pada dasarnya anak kecil tidak akan mudah akrab dengan orang baru kecuali jika orang tersebut berhati bersih dan berjiwa kasih sayang pada anak kecil karena anak kecil memiliki hati yang peka dan sensitif. Louisa lalu berbicara dalam bahasa Perancis.
"daddy, nenek bilang mommy sudah ada di surga" ucap Louisa yang polos masih dalam gendongan Viana.
"apa??" lagi-lagi Sam dibuat terkejut. Ia memegang dadanya yang tak sakit. Sam lalu melihat ke arah Dinand meminta penjelasan.
"Haura meninggal satu minggu yang lalu" jelas Dinand dengan raut muka sedih dan kasian pada anak Sam.
"bagaimana bisa?" tanya Sam lagi dengan rasa penasaran yang makin menjadi bersatu dengan rasa tak percaya.
"dia kecelakaan tunggal waktu pulang dari membeli cincin pernikahannya dengan calon suaminya" Imbuh Dinand.
"kalian ngomong apa?" tanya Viana yang tak mengerti dengan apa yang mereka perbincangkan. Viana berfirasat ada sesuatu yang terjadi terlihat dari raut muka mereka yang serius dan sedih.
"ibunya Haura minta aku buat bawa mereka ke Indonesia agar bisa diurus ayahnya" lanjut Dinand.
"aku dan Hilmaz sengaja ikut karena gak tega dengan anak kamu dan juga Dinand pasti kerepotan bawa dua anak di dalam pesawat" imbuh Gofar
"gracias" ucap Sam lalu mencium pucuk kepala lucy.
Hati Sam begitu sedih mendengar mantan istrinya meninggal. Walau bagaimanapun juga dia adalah ibu dari anak-anaknya dan pernah mengisi hari-harinya meskipun tanpa cinta. Lebih sedih lagi ketika melihat Lucy dan Louisa yang masih polos. Mereka belum mengerti bahwa ibunya telah tiada. Sam menangis dalam hati.
"aku gak ngerti kalian ngomong apa" ucap Viana lagi.
"sayang kamu bawa mereka ke kamar ya" pinta Sam dan Viana mengangguk.
"Louisa gak usah digendong. Kasian kandungan kamu" kata Sam lagi dan Viana menurut karena tidak mungkin ia menaiki tangga dengan menggendong Louisa yang umurnya sudah 3 tahun lebih.
"bi... tolong anterin makanan dan jus jeruk dua ke kamar pintu coklat ya" pinta Viana
"baik nyonya" saut bi Ida dari dapur.
"Bi Ina tolong bersihin kamar coklat ya. Jangan lama-lama bi" Kamar coklat yang Viana maksud adalah kamar kosong dengan pintu berwarna coklat di samping kamarnya. Pintu-pintu di kamar Viana berbeda warna. Putih adalah kamar Ira yang ada di lantai bawah, Silver adalah kamar pribadinya di samping kamar Ira. Biru Laut adalah kamarnya dan Kamar Sam. Coklat merupakan kamar yang akan ditempati oleh Lucy dan Louisa yang terletak di samping kiri kamar utama. Dan Hijau muda yang rencananya akan dijadikan kamar calon bayi kembarnya berada di samping kanan kamar utama.
"sudah nyonya" ucap Bi Ida
"makasih bi"
Viana membawa kedua anak tirinya ke dalam kamar untuk beristirahat. Meskipun Viana tidak mengerti bahasa kedua anak tirinya begitupun sebaliknya tapi Viana tau apa yang mereka butuhkan. Seperti sekarang, setelah makanan datang Viana menyuapi keduanya dengan senyum yang tak hilang dari wajah ayunya.
Louisa dan Lucy sangat menurut. Mereka seperti mendapatkan kembali kasih sayang seorang ibu setelah satu minggu mereka kehilangan sosok itu. Saat Viana akan menyuapi Lucy lagi, tangannya di tahan oleh anak itu dan diarahkan ke mulut Viana. Mereka bertiga mengunyah makanan berbarengan tengan tawa. Viana yang menerima perlakuan manis dari anak tirinya sangat bahagia dan tak menyangka mereka bisa menerima kehadirannya. Sejatinya, bahasa tidak akan membatasi seseorang untuk berbagi kasih sayang.