Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 99



“Tidak nak, kamu tidak salah mengejar apa yang kamu impikan, yang salah disini adalah ibu. Ibu yang memintamu untuk tinggal dengan keluarga tantemu dulu. Bapakmu hanya syok dan mengalami gejala stroke ringan kata dokter. Mari kita cangkupkan kedua tangan berdoa pada Tuhan kita. Semoga ada jalan terbaik untuk ini semua. Ibu percaya dengan apa yang kamu lakukan Shita.” Ucap Widya kini menarik tangan Shita untuk berdiri. Shita tahu maksud dari pembicaraan Widya, hanya saja ia kaget mengetahui jika pamannya itu masih bisa selamat dari kejadian yang ia lakukan dulu.


“Ibu, jangan membohongi kakak. Nayna juga sudah dengar semuanya bapak perlu perawatan yang intensif kan bu, banyak yang tadi dikatakan dokter kak.” Ucap lirih Nayna dengan mata yang kian membengkak karena tangisnya.


“Kakak akan menemui dokter untuk minta penjelasan.” Ucapnya cepat disertai langkah menjauh menuju ruangan dokter yang merawat bapaknya.


Tok tok tok


“Permisi dokter, saya wali pasien atas nama bapak Fendra saya ingin tahu apa yang terjadi pada pasien” tanya Shita yang sudah duduk di hadapan seorang laki – laki yang tengah sibuk dengan pulpen juga berkas diatas meja.


Laki – laki itu melihat Shita yang sudah duduk di hadapannya. “Ayahmu perlu perawatan yang intensif, dia mengalami syok yang cukup serius dan hampir membuat pembuluh darah dikepalanya pecah jika tidak segera mendapatkan penanganan”


“Lalu bagaimana kondisinya sekarang?”


“Pasien sudah kami berikan penanganan gawat darurat pertama, namun”


“Apa dokter? Katakan pada saya” tanya Shita cemas ketika dokter tak melanjutkan kalimatnya.


“Saya hanya diminta untuk menyampaikan, jika kamu tidak menghubungi nomor ini maka bisa dipastikan ayahmu hanya akan tinggal nama. Jika kamu mau melakukan itu dia akan menjamin keselamatan ayahmu dan membayar semua biaya perawatannya tapi tentunya itu tidak akan gratis.” jawab dokter itu lagi yang sudah menyodorkan sebuah kertas yang di baliknya ada nomor telepon.


“Hubungilah, Silakan. Saya tidak bisa membantu anda jika orang itu tidak menghendakinya”


10 menit berlalu, setelah mendengar penjelasan dokter pikirannya begitu kalut, wajahnya begitu kusut. Setega inikah takdir yang harus ia jalani saat ini. Baru sebentar bisa merasakan kebahagiaan namun kini duka yang ia rasakan begitu dalam melebihi bahagianya. Shita berlari menuju toilet wanita dan menangis sejadi – jadinya disana.


Nayna yang melihat apa yang terjadi pada kakaknya mengikuti kemana langkah Shita dengan maksud untuk sama – sama menenangkan namun setelah sampai dimana tubuh Shita menghilang ia mendengar tangis yang begitu memilukan. Nayna memutuskan untuk menunggu dan membiarkan kakaknya menangis dalam kesendirian.


“Mengapa takdirku harus seperti ini Tuhan? Apa yang harus aku lakukan saat ini? Haruskah aku menerima apa yang di tawarkan laki – laki itu, Aku juga tak ingin merepotkan Rendra lagi, Nana dan semuanya. Aku harus bertahan untuk keluargaku, apapun syaratnya akan ku lakukan.” Ucapnya seraya mengambil kotak yang sedari tadi berada dikantong bajunya.


Perlahan dibukanya kotak itu, memperlihatkan isinya adalah kalung. Pemberian Rendra yang terakhir untuknya. ‘Aku percaya bisa melakukannya jika kamu selalu menemaniku’


Kemudian ia mengambil ponsel yang sedari tadi berdering dan menampakkan wajah kekasihnya kini sudah berhenti berdering dengan sendirinya. Mungkin disana laki – laki itu sedang kebingungan mencari keberadaannya yang tak kunjung member kabar. Segera ia tepiskan rasa khawatirnya yang sudah kalah dengan rasa tanggung jawab pada bapaknya. Dan kini dengan cepat tangannya menekan tombol nomor ponsel yang diberikan oleh dokter yang ia temui tadi.


Tuuutt tuttt


“Halo, ini aku Shita. Katakan apa maumu. Aku tak ingin basa basi.”


Terdengar tawa seorang pria diujung telepon sana.


“Akhirnya setelah sekian lama mengacuhkanku kini kau menghubungi pria yang kau panggil orang halu ini. Mauku tak banyak Shita, aku ingin kamu menjauh dari kekasihmu dan menjadi milikku. Hanya aku yang pantas bersamamu, pergi dari hidupnya bila perlu jangan pernah datang lagi, dan putuskan hubunganmu dengannya. Datanglah padaku secara diam – diam atau aku akan membuat keluargamu juga kekasihmu itu terluka” Ucap laki – laki itu dengan suara yang begitu menjijikan ditelinga Shita.


"Kau lagi?"


“Ya ini aku, aku yang akan mengatur semuanya mulai hari ini. Kau begitu menjunjung tinggi kekasihmu yang lemah itu dan terlalu percaya diri hingga kamu tak menyadari keberadaanku di sekitarmu. Bahkan kau juga mengejekku dan sekarang memohonlah padaku, karena saat ini hanya aku yang bisa menolongmu dan keluargamu. Aku juga bisa menghancurkan kekasihmu karena aku sebentar lagi akan jadi pemegang saham terbesar di perusahaannya. Ingat jangan coba – coba menghubungi kekasihmu jika kamu ingin dia selamat, aku beri waktu 2 hari dari sekarang, sukatidak suka kamu harus ikut dengan pengawalku” Laki – laki itu hanya tertawa dan menutup panggilannya begitu saja.


Shita hanya menatap nanar dan melayang dengan apa yang berkecamuk dipikirannya. Memikirkan apa yang harus ia lakukan diantara kedua orang yang begitu berharga baginya.


Detik demi detik yang kini ia lalui begitu berat, Shita pun keluar dari toilet menuju taman yang berada di belakang rumah sakit tanpa ia tahu jika Nayna mendengar semua percakapan diantara Shita dan laki – laki itu. Sementara itu di Amerika, Rendra diliputi kalut dan kekhawatiran mendalam kala Shita yang tak kunjung mengangkat teleponnya sedari tadi.


Laki – laki itu berusaha untuk tenang dan percaya dengan apa yang dilakukan kekasihnya. Seperti sebuah firasat dan ikatan batin laki – laki yang awalnya berniat untuk tidur mendadak gelisah saat ia mulai memejamkan matanya. Bayang – bayang Shita selalu muncul di pikirannya.


Rendra mencoba menyibukkan dirinya dengan setumpuk berkas yang dibawa oleh Rian juga Desi sekretarisnya berharap semua waktunya tak sia – sia dan ia bisa menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin,


‘Dia hanya sibuk melakukan banyak operasi atau bersenang – senang dengan adikku. Aku harus positif thinking padanya karena dia mencintaiku’ gumamnya. Namun sekelebat ingatan tentang masa lalunya datang lagi, membuat debaran jantungnya tak karuan. Begitu jauh ia pergi masih saja dia mendapatkan paket yang sama seperti di Indonesia. Ada 3 paket yang ia terima hari ini dari Desi sekretarisnya.


Kriingg kriing


“Halo” ucap Rendra dengan suara seraknya tanpa melihat siapa yang menghubunginya.


“Sayang, bagaimana har-


“Kamu kemana saja aku rindu kamu sayang, kenapa kamu tidak mengangkat panggilanku sedari tadi? Kamu masih marah padaku, atau perlu aku pulang sekarang untuk menemuimu, bahkan tadi pagi kamu masih terdengar baik – baik saja. Maaf jika aku selalu sibuk terus dengan pekerjaanku ” tanya Rendra yang begitu bahagia sekaligus masih menampakkan kekhawatiran diwajah tampannya saat mendengar suara kekasihnya.


“Maaf, aku begitu sibuk dengan urusanku dirumah sakit tadi” ucap Shita yang memang tak ingin membohongi kekasihnya itu, tentu saja urusan yang berbeda dari yang ia lakukan biasanya.


“Apa ayahku memberimu banyak kerjaan sampai kau begitu kelelahan, mmm?” tanya Rendra lembut, ia begitu lega karena rasa gelisahnya kini sudah terjawab.


“Tidak, om Hendra sama sekali tidak memberiku banyak pekerjaan hanya saja pasien pasienku yang memang ingin aku merawat mereka begitupun aku, aku juga akan merindukan pekerjaan yang mulia ini nantinya” jawab Shita memejamkan erat matanya seraya menjauhkan ponsel dari telinga. Wanita itu tak ingin saat ini ia menangis menumpahkan lagi air mata yang sudah di tahan.


“Merindukan? Memang siapa yang akan melarangmu bekerja lagi sayang, bukankah aku sudah pernah mengatakan apa yang akan aku lakukan jika kita sudah menikah nanti”


“Iya aku tahu sayang aku masih sangat mengingatnya, bukankah disana sudah pagi? Apa kamu tidak ada pekerjaan? Ah ya disini sudah malam sayang, kalau begitu aku akan beristirahat, besok pagi kita mengobrol lagi. Maafkan aku mengganggu waktu kerjamu, selamat malam sayang. Jaga dirimu disana ya, tetap semangat” ucap Shita tanpa menunggu jawaban Rendra ia pun mematikan panggilan itu secara sepihak.


Sesak dan sakit yang ia rasakan tidak mampu ia tahan terlalu lama. Sepertinya tak hanya dirinya saja yang sendiri di taman rumah sakit tempat ayahnya di rawat. Wanita itu menatap ke arah langit hingga melihat bulan bersinar dengan terangnya namun tak menampakkan bintang yang selalu menemaninya di setiap malam.


“Hei bulan, mengapa nasibmu begitu sama denganku? Mana teman – teman yang selalu menemanimu huh” ucapnya dengan pelan berusaha menghibur hatinya, namun seakan apa yang ia lakukan itu hanya sia – sia, karena air matanya terus saja keluar dari tempat ia berada.


“Ah aku baru sadar dengan perbedaan antara kamu dan aku, kamu yang berada di atas sana masih bisa bersinar tanpa ada siapapun yang menemanimu sedangkan aku hanya sendiri dan tak memiliki sinar sepertimu bahkan orang yang memberikan kehangatan padaku harus aku lepaskan. Apakah aku boleh egois sedikit saja untuk saat ini dan memikirkan kebahagiaanku?” tanyanya namun tak ada yang berhasil menjawab semua itu. Hanya angin yang selalu setia menjawab dan menemaninya malam itu.


“Terima kasih sayang, telah mengajariku bagaimana cara menikmati angin seperti ini. Serasa kamu seperti ada disini dan memelukku dengan erat. Hangat dan nyaman rasanya” kenang Shita dengan air mata yang tak pernah berhenti mengalir.


---


Keesokan harinya masih di kota dan ditempat yang sama. Shita sudah memikirkan dengan matang apa yang menjadi jawabannya. Senyum palsunya ia tampakkan agar tidak membuat kedua wanita yang kini ada dihadapannya khawatir.


“Ibu, aku akan kembali ke Jakarta. Bapak sudah tidak apa – apa hanya butuh perawatan intensif, aku akan mengusahakan biaya perawatannya ibu, aku akan bekerja keras” ucap Shita.


“Iya sayang, kamu pergilah biar ibu dan adikmu yang menjagamu disini. Kamu hati – hati ya sayang” ucap Widya yang kini tengah memeluk anaknya yang masih menampakkan bengkak di matanya.


‘Maafkan aku ibu, aku harus melakukan ini agar kalian bisa hidup dengan baik sekalipun aku harus kehilangan semuanya termasuk kalian berdua’


Shita melerai pelukannya sembari mengusap air mata yang menetes tiada henti di pipi ibunya entah karena mengingat suaminya atau ikatan batin mereka yang sama – sama merasakan sakit karena waktu untuk mereka berpisah sudah didepan mata.


“Jangan menangis lagi ibu, setelah ini semuanya akan baik – baik saja”


“Nay kakak titip ibu juga bapak ya. Kakak percaya kamu bisa lebih kuat dan tegar daripada kakak, jangan pernah tinggalkan mereka ya Nay sama seperti kakak. Kabari juga kakak ya sayang” ujar Shita kini bergantian memeluk adik kesayangannya itu.


“Iya kak, tak usah khawatirkan mereka. Nayna akan jaga mereka kakak juga jaga diri ya tetap kabari kami disini” sahut Nayna yang selalu berusaha tegar di hadapan sang kakak namun kesedihannya begitu jelas terlihat di wajahnya. ‘Ingin sekali aku menanyakan apa maksud perkataan kakak pada ibu tadi, apa memang ia akan bekerja di Jakarta lagi atau ada sesuatu yang akan ia lakukan?’


“Pasti sayang, ya sudah kakak berangkat ya. Ibu Shita berangkat sekarang” pamit Shita yang kemudian melangkahkan kakinya ke depan pintu ruang ICU tempat ayahnya dirawat.


‘Cepatlah sehat pak agar pengorbanan Shita tak sia – sia demi kesembuhan dan keselamatan kalian bertiga. Jika aku tak bisa kembali nanti aku harap kalian berbahagia, semoga Rendra masih baik terhadap kalian sekalipun aku sudah tidak bersamanya’ gumam Shita seraya menepis kembali air mata yang jatuh di pipinya.


Dengan gontai ia melangkahkan kakinya tanpa melihat ke belakang lagi keluar dari rumah sakit masuk ke dalam taxi yang akan membawanya ke bandara.


---


Amerika, 15.00 pm.


Laki – laki itu nampak dengan gagahnya duduk di sebuah sofa yang berada di kamar hotel tempat ia menginap dan akan melakukan pertemuan dengan kliennya.


“Permisi tuan, ini berkas yang tuan minta kemarin. Saya berhasil menemukan rekaman cctv dihotel, juga ini rekam jejak siapa yang membeli saham perusahaan kita juga motifnya. Di belakangnya ada jejak siapa yang mengirimkan paket untuk tuan selama di Bali juga di apartemen anda lalu di kantor juga” ucap Rian setelah memberikan berkas yang sedari tadi ia pegang.


“Rian minta Desi untuk mempercepat pertemuan kita, aku ingin pulang secepatnya entah mengapa perasaanku sangat gelisah jika mengingat Shita. Terima kasih atas kerja kerasmu, kau boleh keluar kabari aku jika klien kita sudah datang.” Rian menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


“Baik tuan permisi”


Setelah kepergian Rian, tangannya begitu gemetar membuka map yang ada ditangannya. Tepat seperti dugaannya jika laki – laki itu sangat mirip dengan seseorang dari masa lalunya.


“Entah apa lagi maumu sekarang, aku sudah cukup tersiksa dan menderita agar bisa melupakannya tapi kamu dengan sengaja mengingatkan aku lagi dan ingin merebut kekasihku” ucapnya pelan.