
Dalam apartemen
“Kau sudah pulang?” sambut Shita dengan senyum manis setelah menutup pintu.
“Mmm, sayang aku ingin mandi sebentar ya. Ah aku hampir lupa, ini untukmu” ucap Rendra yang saat ini memegang tangan kekasihnya dan memberikan bunga yang sedari tadi ia bawa.
“Kau selalu saja membawakan bunga ini, aku suka dan itu mengingatkan kebersamaan kita” ucap Shita senang dan ingin memeluk Rendra namun di cegah oleh laki – lakinya. Shita mengernyitkan dahi menerima perlakukan Rendra.
“Jangan kamu peluk aku dulu sayang, lenganku banyak debunya ada upilnya juga, gara – gara seorang wanita yang menyentuh lenganku tadi. Aku ingin menghilangkan debu dan bekasnya dulu sebelum kamu memelukku” ucap Rendra membuat Shita lagi – lagi mengernyitkan dahinya.
“Apa wanita yang menyentuhmu begitu kotor sampai membuat kamu seperti ini?” tanya Shita keheranan melihat Rendra mengibas – ngibas lengannya.
“Iya, dia membawa begitu banyak debu dan sepertinya menempel di jasku aku tak ingin kamu sampai tertular karenanya aku juga tidak suka disentuh wanita manapun selain kamu, Aku mandi dulu ya” ucap Rendra masuk ke dalam kamarnya setelah mencium kening Shita yang masih terdiam mencerna apa yang di katakan oleh Rendra.
‘Sejak kapan di gedung apartemen ini ada upil dan debu berterbangan? Apakah seseorang sengaja mengupil dan menyentikkannya?’ gumam Shita mengidikkan kedua bahunya kemudian melanjutkan aktifitasnya di dapur.
Beberapa menit kemudian Rendra yang telah selesai mandi menghampiri Shita yang masih berada di dapur.
“Sayang, aku sudah wangi dan bersih sekarang. Kau bebas memelukku sesukamu” ucapnya seraya mengecup pundak kiri dan kanan Shita bergantian.
“Kau selalu seperti ini nakal sekali, jangan membuatku marah sayang” tuturnya menahan geli karena perbuatan Rendra.
“Aku masih tahu batasanku Shita, ah ya apa kau masih ingat dengan kalimat yang aku lontarkan ketika aku menerbangkanmu di pantai saat kita di Bali?” tanya Rendra seraya membalikkan tubuh Shita.
“Tentu saja aku masih ingat, Kau adalah cintaku dan juga jiwaku, hidupku menjadi lengkap karena cintamu. Yang itu kan?” sahut Shita dengan senyum manisnya.
“Ingatlah selalu kata – kataku itu. Jangan percaya apapun yang kau dengar jika tidak dari mulutku sendiri” bagai sebuah titah seorang raja yang harus di jalankan Shita, ia mengingat semua kata – kata yang ia dengar saat ini dalam memorinya dan menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pernyataan Rendra.
“Apa kau masak makanan kesukaanku?” tanya Rendra lagi mengalihkan pembicaraan dan mengendus bau wangi yang begitu dekat dengannya.
“Tentu saja tuan muda yang tampan, semua sudah siap. Silakan duduk pangeranku, aku akan menyiapkan semuanya” jawab Shita dan menggiring Rendra menuju meja makan dan menyuruhnya duduk.
Tak berapa lama bagi Rendra menunggu Shita selesai menyiapkan semuanya. Mereka pun makan malam dengan nikmat.
“Setelah ini aku akan membantumu menyiapkan keperluanmu ya sayang, bolehkan?” tanya Shita setelah ia selesai dengan makanannya.
“Tentu saja boleh sayang, dengan senang hati aku akan menerimanya” sahut Rendra tersenyum.
“Kau tahu, wanita itu begitu menjengkelkan. Dihari pertamanya saja sudah membuatku sangat kesal. Makan apa sih dia selama ini, sungguh menyebalkan dan menjengkelkan” oceh Shita yang sudah menyelesaikan makan malamnya dan berada di kamar pribadi Rendra tengah meluapkan kekesalannya.
Rendra hanya diam dan menjadi pendengar yang baik setiap ocehan yang terlontar dari bibir Shita tanpa menjedanya dan ikut meresapi apa yang dialami oleh kekasihnya. Ia berusaha menenangkan Shita dengan mengusap punggung kekasihnya yang masih saja diliputi amarah.
“Sudah, tak usah kesal lagi. Kau anggap saja wanita itu tidak memiliki pekerjaan hingga ia bisa mengganggumu. Apa kau lupa dia anak baru disana, sudah pasti dia tidak memiliki pekerjaan hingga bisa mengusikmu. Jangan di hiraukan lagi” ucap Rendra yang kini memeluk tubuh Shita setelah dirasa usapan dipunggung Shita tak memberikan dampak menurunkan emosi wanita itu.
“Tapi kan dia-
“Sstt, berhenti sayang. Jika kamu terus mengingatnya maka kemarahanmu tidak akan hilang, biarlah apa yang dia bicarakan anggap sebagai angin lalu. Jika kamu tidak salah tidak usah masukkan ke dalam hati omongan mereka, masih ada aku yang selalu percaya dengan apa yang kamu katakan dan yang kamu lakukan. Apa kau sudah selesai? Kita duduk di balkon yuk, aku ingin mengisi energiku karena aku sangat lelah” ajak Rendra yang kemudian dibalas anggukan oleh Shita.
Bagaimana ia tidak lelah, perasaan Rendra juga kacau karena sepanjang hari ia juga begitu banyak mendapati paket berada diatas mejanya. Entah pagi, setelah makan siang bahkan sebelum ia pulang, namun selalu ia buka di kamar pribadi yang ada diruangan miliknya.
‘Apa aku bisa mengatakan semuanya hari ini pada kekasihku?’
“Aku mencintaimu Shita, jangan pernah meninggalkan aku” ucap Rendra tulus yang kini duduk di samping Shita. Rendra yang melihat senyum Shita pun mendekatkan wajahnya, belum tersentuh sedikitpun suara dering ponsel menghentikan niat Rendra dan dibalas kekehan oleh Shita dibawahnya.
“Siapa sih yang mengganggu waktuku ini\, si***n” teriak Rendra dengan penuh amarah dengan cepat Shita mengecup kedua pipi laki – laki itu berharap amarahnya bisa mereda.
Rendra meraih ponselnya yang berada di saku celana yang ia kenakan, Rendra tersenyum melihat nomor yang tertera di ponsel sedang menghubunginya.
“Halo, Rika” Shita menoleh ke arah Rendra kala laki – laki itu menyebut nama wanita lain saat mereka bersama dan tersenyum dengan manisnya.
“Apakah kamu berada di apartemen? Aku akan kesana” tanya seorang wanita yang di panggil Rika.
“Aku disini, baiklah Aku tunggu di apartemenku, baik bye” Rendra menutup panggilannya seraya tersenyum pada kekasihnya. Shita yang merasa kesal beranjak dari tempat tidur Rendra dan keluar mencuci piring kotor yang masih ada di wastafel.
Tingtong
Suara bel apartemen berbunyi namun Rendra nampak senang saat membuka pintu.
Shita POV
“Rika? Wanita mana yang ia sebut namanya itu. Tak bisakah dia tidak menerima panggilan dari wanita manapun dengan wajah tersenyum, aku saja tidak pernah menanggapi banyaknya laki – laki yang mengirimi aku pesan dan direct agar dia tak marah padaku tapi mengapa dia sebaliknya”
Beberapa menit kemudian bel apartemenku berbunyi, ah ralat apartemen tempatku tinggal berbunyi namun ku lihat Rendra yang tak biasanya membukakan pintu kini beranjak dari tempat duduknya dan terlihat begitu senang.
Ku lihat seketika ia dipeluk oleh seorang wanita yang tak aku kenal sebelumnya. ingin rasanya aku ***** wanita itu, aku cincang jadikan cilok dengan pisau bedahku. Tak boleh ada yang menyentuh tunanganku tak peduli itu siapa”
Author POV
Rendra melihat siapa yang datang di balik monitor yang dipasang tepat disebelah tempat ia biasa menaruh kunci mobil. Laki – laki itu begitu senang melihat seorang wanita yang berada dibalik pintu dan segera membukanya.
“Hei Rendra apa kabar kamu?” teriak seorang wanita belasteran namun sangat fasih berbahasa Indonesia.
“Hei Rika, kabarku baik. Mari silakan masuk akan aku perkenalkan kamu dengan seseorang” ucap Rendra yang kini berjalan ke arah dapur namun tangan Rika menempel di lengan Rendra.
“Shita, perkenalkan ini Rika sepupu jauhku dan Rika ini Shita tunanganku” ucap Rendra memperkenalkan dua wanita yang kini tengah berhadapan.
Rika menjulurkan tangan kanannya namun tangan kirinya itu tak lepas sedikitpun dari lengan Rendra bahkan wanita itu mempererat lilitan tangannya di lengan Rendra. Shita pun menjabat tangan Rika dengan senyum manisnya.
“Ah ya kamu wanita yang aku lihat bersama Rendra saat itu, membuat heboh satu lobby apartemen ini, senang bisa bertemu denganmu.
“Ah ya silakan duduk, aku akan membuatkan minuman untuk kalian” ucap Shita pada keduanya yang hanya dibalas anggukan oleh Rendra.
Mereka berbincang dengan tetap Rika menempel pada Rendra, laki – laki itu merasa sedikit risih saat perempuan itu dekat dengannya, namun tak ia nampakkan wajahnya karena ia tahu Rika memang orang yang seperti itu. Sangat berbeda dengan Rendra yang tadinya datang mengatakan jika banyak debu di tubuhnya karena dipegang oleh seorang wanita.
"Kamu kapan kesini?" tanya Rendra yang berusaha menjauhkan lengannya dari dada Rika.
"Aku baru seminggu disini dan aku kesini mengantar temanku yang baru saja bekerja disini" jawab Rika, "Bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah tidak pernah kambuh lagi?" tambahnya.
"Tidak, kau menanyakan tentang sakit kepalaku? Hahha tidak, aku sudah tidak kambuh lagi dan itu berkat kekasihku. hahahah"
"Sakit kepala? Bukan yang du-
Dengan cepat Rendra menutup mulut Rika kemudian memainkan matanya sebagai peringatan agar Rika tidak lagi melanjutkan pertanyaannya.
"Hahaha, lepaskan tanganku Rendra aku hanya ingin tertawa"
Shita membawakan minuman untuk mereka yang masih saja tertawa sejak tadi sepertinya mereka terlalu larut dalam obrolan itu hingga melupakan kehadiran dirinya, Shita tak mau ambil pusing dengan apa yang ada walau sebenarnya darahnya sudah mendidih sejak tadi. Wanita lalu memainkan ponselnya dan tertawa melihat berbagai pesan yang dikirim oleh beberapa laki – laki di direct message tanpa ada niat membalasnya.
Rendra menoleh mengernyitkan dahinya melihat tingkah laku Shita kemudian beranjak dari samping Rika dan duduk di samping Shita.
“Kau tertawa dengan siapa mmm?” tanya Rendra dengan sedikit ketus sembari menyentuh dengan lembut dagu Shita. Shita bingung sejak kapan Rendra berada disampingnya bukankah sejak tadi ia ditempeli terus oleh wanita itu.
“Mengapa tatapanmu seperti tak menyukai keberadaanku?” celetuk Rika dengan santainya melihat Shita yang hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaan Rendra.
“Apa aku pernah mengatakan jika aku tak menyukai keberadaanmu disini? Sedari tadi aku baik – baik saja melihat kalian berdua berbincang tanpa menghiraukan aku, apa aku terlihat marah ketika kalian mengacuhkan aku. Aku hanya berusaha mencari hiburan untuk diriku sendiri apa itu salah” sahut Shita dengan nada yang sangat lembut melirik secara bergantian Rendra juga Rika.
“Apa kau cemburu melihatku dekat dengan Rendra? Come on, dia saudara jauhku sudah dari kecil aku dan dia bersama. Aku juga sudah memiliki pacar, jadi kau tak usah cemburu aku dan dia hanya melepas rasa rindu saja” jawab Rika yang kini menghisap jus jeruk yang di suguhkan oleh Shita.
Rendra hanya melihat perdebatan kedua wanita itu namun ia tak tahu jika apa yang ia lakukan sebenarnya sudah menyakiti hati Shita, “ya sayang aku dan dia hanya sepupu jauh, dia anak dari adik ayahku saat ia menikah untuk kedua kalinya istri pamanku sudah membawanya” tambah Rendra menggenggam erat tangan Shita.
Merasa jika Rendra tidak lagi memperhatikan perasaannya, Shita melepas genggaman tangan Rendra.
“Dari kata – kata kalian aku belajar beberapa hal, kenapa memangnya jika aku cemburu melihat kalian seperti tadi toh dia adalah tunanganku. Juga dengan kehadiran kamu disini, seorang wanita yang datang malam – malam ke rumah seorang laki-laki yang sudah memiliki tunangan bahkan kamu tahu jika tunangannya disini tapi kamu tetap menempelinya”
“Kamu memang punya pacar, tapi tahukah aku perasaanmu? Bisa saja kan kau memiliki perasaan pada tunanganku mengingat sedari kecil kalian bersama. Kau menempel pada laki – laki ku tanpa rasa malu dengan adanya aku sebagai tunangannya dihadapanmu, apa sebegitu inginnya kamu menempelkan dadamu di lengannya hingga ia bisa merasakan milikmu? Sekarang aku tanya dimana harga dirimu sebagai seorang wanita dengan mudahnya menempelkan milikmu pada laki – laki yang bukan suamimu? Jika pacarmu nanti berbuat seperti itu bisakah kamu mendengar kata – kata yang kamu lontarkan tadi di berikan untukmu?”
Rendra dan Rika terdiam mendengar apa yang keluar dari mulut Shita. Rendra menyadari sikap Shita yang tak sama seperti biasanya, begitu tegas lebih dari saat ia mendekati wanitanya. Seuntai senyuman tipis diam – diam terukir di wajah Rendra mengingat ucapan Shita jika ia tengah cemburu melihat kedekatan Rika padanya.
“Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu, kamu ingin mengatakan jika kamu dan Rendra hanya berteman juga bersaudara bukan? Dengar Rika di antara laki – laki dan perempuan tidak ada persahabatan murni tanpa kasih didalamnya apalagi kalian hanya saudara tiri, sudah banyak yang aku lihat saudara jauh seperti kalian bisa menjadi pasangan”
“Shita, sud-
“Kau membelanya? Apa kamu masih tidak sadar dengan perbuatanmu tadi? Dengar, aku contoh dari pertemanan antara pria dan wanita, wanita ini yang dulunya diajak berteman oleh laki – laki yang ada dihadapanmu namun sekarang kau lihat aku dan dia sudah bertunangan. Kau tidak bisa melihat cincin ini? Aku juga bukan wanita lain yang dengan gampangnya merelakan laki – laki ku ditempeli oleh wanita yang bukan istri sahnya. Aku permisi, silakan dilanjutkan obrolan kalian” tambahnya dengan nada yang sangat lembut namun begitu menohok dihati keduanya.
Shita berdiri dari duduknya dan keluar meninggalkan kedua orang yang tampak diam mendengar semua kata – katanya. Rendra terkejut melihat Shita sudah keluar dari apartemen segera mengejarnya tanpa menghiraukan keberadaan Rika yang masih mematung dalam diamnya.
‘Kamu benar Shita, tidak ada persahabatan murni di antara pria dan wanita, itu juga berlaku untukku. Aku memang menyukai Rendra sejak lama tapi dia tidak pernah melihat keberadaanku, aku yang sudah lama bersama dengannya tapi kenapa kamu yang bisa memiliki hatinya tapi apa yang membedakan kamu denganku yang sudah lama mengenalnya’
Dengan langkah lemah setelah mendengar kalimat yang begitu menusuk hatinya, Rika melangkahkan kakinya keluar dari apartemen Rendra menuju ke tempat tinggal sahabatnya yang juga berada di gedung apartemen itu.