
Dengan sigap Hendra menangkap tubuh istrinya yang tiba2 melemas mendengar berita
tentang anak sulungnya.
"Dirumah Sakit mana anakku di rawat Mirna?? " Tanya Hendra
"Di rumah sakit milik Tuan dan di tempat tuan muda kedua bekerja tuan" ucap Mirna yang melihat tuan
besarnya memapah istrinya masuk ke dalam kamar.
"Baik terima kasih Mirna. tolong jaga istri saya Mirna. Saya akan kesana bersama
Dharma" jelas Hendra dengan cepat.
"Pa, mama ikut paa. Mama ingin lihat keadaan Rendra paa. Mama tak apa. Mama hanya
sedikit terkejut tadi. Sekarang sudah tidak apa – apa Pa.. Ya pa? Mama
ikut" ucap Ratna memelas
"Baiklah maa.. Mirna tolong beritahu Dharma tentang keadaan Rendra. Dan suruh Mang Asep
untuk menyiapkan mobil secepatnya" jelas Hendra
"Paa Maa tadi Dharma dapat kabar dari teman Dharma katanya kak Rendra ada dirumah
Sakit karna kecelakaan motor apa itu benar Paa Maa?" Cercah Dharma dengan
wajah panik.
"Tadi Mirna yang menerima telepon dari rumah sakit kita katanya memang seperti itu Dharma.
Sekarang papa dan mama akan kesana menjenguk kakakmu. Kamu ajak adikmu juga
untuk menjenguk kakakmu." ucap Hendra
"Tadi Nana minta ijin sama mama untuk pergi ke tempat temannya.. Nanti saja kita
hubungi dia dan minta untuk menyusul kita. Sekarang kita pastikan duluan
keadaan Rendra Pa. Mama khawatir dengan keadaannya Pa. Ayo paa.. Ayo Dharma..
Cepatt." ucap Ratna sedih..
Setelah itu mereka bertiga berangkat menuju Rumah Sakit tempat Rendra di rawat.
Sesampainya disana Dharma menanyakan perihal kakaknya yang ternyata sedang menjalani
operasi karena patah tulang kakinya.
"Pah mah kak Rendra katanya sedang dioperasi.. Ayo paa ma kita kesana." Ajak
Dharma.
Di depan ruang operasi Hendra Ratna dan Dharma melihat dokter sudah keluar dari
ruang oprasi yang menandakan jika operasi telah selesai dilakukan.
"Selamat malam Pak Hendra, operasi anak bapak berjalan dengan lancar dan sudah
dipindahkan ke rumah rawat inap. Ia belum sadarkan diri karena masih dalam pengaruh
Kevin sembari menjelaskan keadaan Rendra.
"Terima kasih atas bantuanmu dr. Kevin. Nanti aku traktir kamu jika semua ini sudah
seperti semula" ucap dharma menepuk pundak dr. Kevin yang tidak lain
adalah teman kerjanya.
"Tidak masalah dr. Dharma. Aku tunggu traktiranmu." ucap dr. Kevin tersenyum seraya pergi
dari hadapan mereka.
Hendra beserta anak istrinya bergegas menuju ruang dimana rendra dirawat setelah
operasi.
"Dharma hubungi adikmu. Papa dari tadi sudah mencoba menghubunginya tapi ponselnya
tidak aktif Dharma" ucap khawatir Hendra.
"Mungkin baterai ponselnya lowbat pa. Aku akan mengiriminya pesan agar dia bisa
membacanya nanti jika ponselnya sudah aktif." ucap Dharma menenangkan
papanya.
Keesokan harinya shita dikejutkan oleh bunyi ponselnya sendiri. Dengan mata berbinar dan
senyum yang tak pudar dari wajahnya ia masih terus menatap ponselnya sembari
membaca pesan yang dikirimkan oleh pujaan hatinya.
Malam kehadiran cinta sambut jiwa baru.. telah lama ku tunggu hadirmu disini..namun hanya ruang semu yang nampak padaku…
"Selamat pagi sunshine. Apa kabarmu? Ingat sarapan sebelum kamu berangkat bekerja dan
ingat makan siang. Aku sibuk pagi ini dengan tumpukan file di mejaku. Jika kau
ada waktu luang bisakah nanti makan siang denganku? "Bunyi pesan yang
dikirimkan oleh Marvin kekasih Shita yang sudah menjalin hubungan dengannya
selama 2 tahun namun hanya ia dan marvin hanya menjalin hubungan berpacaran
biasa.
Ia menerima Marvin awalnya karena kekagumannya terhadap perjuangan Malvin untuk
bisa dekat dengannya. Namun Shita tak menyangka jika hubungannya bertahan
sejauh ini bersama Malvin.
"terimakasih sudah mengingatkanku sayang. Kamu juga jangan lupa makan. Pasti nanti kamu akan
sangat sibuk. Jika kamu memiliki waktu luang beri kabar padaku. Aku juga tidak
bisa memastikan keadaan nnti siang. Jika aku punya waktu aku akan menghubungimu"
balas Shita dengan emot peluk.