
Sementara itu di Lobby Jaya Corp seorang wanita datang dengan angkuhnya. Penampilan wanita itu begitu menarik perhatian. Gaun berwarna hitam diatas lutut dengan bagian dada begitu rendah menambah kesan sexy berjalan menuju meja receptionis.
“Ehmm saya ingin bertemu pak Narendra Adiatma Jaya. Dia berada ditempat?” tanya wanita itu.
“Maaf nona, apakah nona sudah membuat janji dengan beliau?” tanya salah satu receptionis bernama Mira.
“Aku ini tunangannya Bos kalian. Apa perlu aku membuat janji untuk bertemu tunanganku?” teriak wanita itu yang tak lain adalah Tara.
“Baik sebentar saya akan menghubungi sekretarisnya terlebih dahulu.”
Tuutttt
“Pak Rian, di sini ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan pak Rendra. Dia mengaku sebagai tunangan pak Rendra dan nama wanita itu nona Tara.” ucap Mira diseberang telepon.
“Untuk apa dia kesana Mira? Baiklah aku akan menanyakannya pada pak Rendra tunggu sebentar” ucap Rian dibalik telepon.
Krriinngg
"Halo kenapa?"
"Ada nona Tara yang ingin bertemu dengan anda pak" ucap Rian dibalik telepon.
"Suruh dia masuk"
'Mau apa lagi wanita itu'
“Siapa wanita cantik itu? Benarkah wanita itu tunangan pak Rendra?” bisik salah satu karyawan wanita.
“Tidak mungkin, ah ya aku baru ingat jika wanita itu yang datang ke pesta dan dipermalukan oleh wanita yang diajak oleh pak Rendra” ujar karyawan yang lain.
“Bukankah dia nona Tara? Anak pemilik perusahaan yang bekerjasama dengan Jaya Corps?” ucap pegawai lainnya.
“Benarkah? Wah gossip hangat nih”
"Mira suruh dia masuk" ujar Rian pada receptionisnya.
"Baik pak"
"Nona silakan naik menggunakan lift disebelah kanan" ucap Mira menunjukkan lift eksekutif khusus untuk para petinggi perusahaan.
Ting
Tak berapa lama seorang wanita telah sampai didepan ruang CEO.
Tok tok tok
“Masuk”
Ceklek
“Pak dibawah ada nona Tara yang ingin bertemu dengan bapak.” Rian mengatakannya setelah menundukkan kepalanya.
“Suruh dia masuk. Aku ingin lihat dia mau apa menemuiku setelah tahu aku siapa.” tambahnya.
Rian pun keluar dari ruangan Rendra dan memberitahu petugas receptionis mempersilakan Tara menemui bosnya.
Tok tok
“Masuk”
Rian yang mendengar ucapan bosnya membukakan pintu agar wanita itu bisa masuk.
“Hei sayang. Lama tak bertemu. Aku begitu merindukanmu.” ucap manja Tara berjalan mendekati Rendra yang duduk di kursi kebesarannya menempelkan tangan lentiknya pada dada bidang laki - laki itu.
“Untuk apa kamu datang kemari Tara? Ku rasa semua sudah jelas waktu itu. Apa lagi maumu?” tanya Rendra sinis kemudian menepis tangan gatal yang berada didadanya.
“Aku hanya ingin bertemu denganmu. Kenapa kau menyembunyikan identitasmu padaku? Kau tahu aku begitu mencintaimu Rendra. Bagaimana kau bisa membangun sebuah hubungan diatas kebohongan?.” ucapnya kembali mengelus tangan Rendra yang ada diatas meja.
Rendra menepis tangan Tara. Ia beranjak dari duduknya dan menjauh dari tempat Tara berdiri.
“Dulu aku begitu mencintaimu, aku menutupi semuanya agar aku bisa melihat apakah wanita yang berhubungan denganku menerima kekurangan dan kelebihanku. Ini semua kekayaan kedua orang tuaku bukan milikku. Tapi waktu aku melihatmu seketika perasaanku telah hilang bersama dengan semua kenangan kita. Jadi sekarang silakan kamu pergi dari ruanganku.” tegas Rendra.
“Aku khilaf Rendra. Aku khilaf. Aku tahu sekarang kamu berhubungan dengan seorang dokter, dia juga pernah dilecehkan bukan? Aku akan membuatnya sengsara. Jika bukan aku yang menjadi milikmu maka seorang pun tak boleh.” Sinis Tara kemudian keluar dari ruangan Rendra.
“Takkan ku biarkan kau menyakiti calon istriku Tara. Berani bermain denganku, kau akan ku hancurkan.” Ucap Rendra disertai sorotan tajam mata miliknya.
Rendra mengambil ponsel yang berada di saku jasnya dan menghubungi seseorang.
“Halo, siapkan 2 bodyguard untuk menjaga wanitaku Rian, terus awasi wanita yang baru saja keluar dari ruanganku. Aku akan keluar sebentar lagi jika ada masalah dan berkas – berkas lain kirim melalui email.
Rendra menutup panggilannya kemudian dengan cepat memutar nomor lain yang akan dihubungi lagi.
Tutt tuuuuttt
tuuuuutttttt
“Halo” terdengar suara wanita diseberang sana. Wajah Rendra yang terlihat kesal menjadi tersenyum sangat manis setelah mendengar suara wanita yang tak lain adalah kekasihnya.
“Halo sayang. Kau sedang apa? Sudah makan siang?” tanya Rendra bertubi – tubi.
“Kenapa? Aku akan segera masuk ruang operasi.” jawab Shita.
“Ini sudah jam 11, jam berapa kamu selesai operasi?”
“Aku tak tahu tapi pasti akan lama”
“Simpan semuanya dulu sayang, aku akan mendengarnya nanti setelah aku selesai operasi”
“Aku berangkat sekarang”
Tuutt
Dengan cepat Rendra mematikan komputernya dan mengambil jas yang tergantung disebelah kirinya. Dengan santai ia keluar dari perusahaannya menuju sebuah restoran membeli makan siang untuk dinikmati berdua bersama kekasihnya.
---
Café 121
“Kau adalah pria itu?” tanya seorang wanita yang baru saja datang dan duduk dengan acuhnya.
“I-iya, saya yang tadi anda hubungi. Untuk apa anda memanggil saya? Saya tidak kenal dengan anda nona cantik” ujar laki – laki itu dengan tatapan menggoda.
“Lihat ini” ucap wanita itu melemparkan sebuah foto. “Kau sudah mengetahuinya bukan. Ini bayaranmu, 5x lipat dari gajimu kerja di perusahaanmu” tambahnya sembari melempar amplop coklat.
Laki – laki itu tersenyum dengan liciknya. “Baiklah, semua akan beres”
---
Sesampainya dilobby rumah sakit laki – laki itu menghubungi kekasihnya namun tak diangkat olehnya. “Mungkin Shita sudah mulai operasi” gumamnya sambil tersenyum seraya melangkahkan kakinya menuju ruangan Shita.
‘hei lihat, siapa yang datang’
‘Mengapa laki – laki ganteng itu datang kesini. Pasti mencariku’ ujar salah satu perawat.
‘Mungkin dia mencari dokter Dharma atau pak direktur. Aku rasa aku pernah melihatnya.’
‘Aku tak peduli dia mencari siapa, selama statusnya masih single aku bisa berharap bukan padanya’
Kedatangan Rendra membuat seisi loby rumah sakit yang semula tenang menjadi riuh.
Dreett dreett
“Halo papah”
“Kamu dimana Ren? Teman papa melihatmu tadi dilobby rumah sakit. Apakah kamu masih berada di JMC?” tanya laki-laki dengan suara berat namun terdengar lembut ditelinga Rendra.
“Aku di JMC pa, sekarang berada diruangan calon tunanganku.” Jawab santai Rendra.
“Apa? Calon tunangan? Kau ke ruanganku sekarang Rendra. 5 menit.” Ucap laki – laki itu kemudian panggilannya pun terputus.
Dengan santai Rendra menuju tempat papahnya dengan membawa kantung makanan yang berada di lantai 12. Sesampainya disana Rendra segera masuk dan disambut oleh papahnya.
Tok tok tok
Ceklek
“Hai nak. Kemari. Duduklah” ucap Hendra melirik sekilas kedatangan Rendra.
“Ada apa pa? Apa begitu penting? Papah menggangguku saja.” Ketus Rendra.
“Sejak kapan kamu jadi seperti ini Rendra? Kamu luang? Bagaimana dengan keadaan perusahaan? Pacaran saja kerjaanmu.” tanya Hendra sembari menyesap kopi yang dibawakan sekretarisnya.
“Aku sedang istirahat pa, kerjaan baik dan lancar, perusahaan juga sangat baik. Saat ini aku mencoba mengembangkan bisnis kita di luar negeri. Ayolah paa, jangan seperti ini. Papa kan pernah muda. Kalau papa menekanku aku akan katakan pada mama, agar jatah papa dikurangi. Suami takut istri. ” ejek Rendra pada papahnya.
“Heii anak durhaka kamu. Kamu juga jadi seperti ini karena siapa kan karena teman Nana siapa sih namanya.. ah ya dr. Akshita kan namanya. Papa suka dia dan papa mendukung hubungan kalian. Apa papa perlu menggunakan kekuasaan papa untuk menaikkan jabatannya? Jika nanti kamu menyakitinya papa yang akan menghukummu Rendra. Segera kenalkan pada papa dan mama, karena kami ingin cepat punya cucu.” tegas Hendra.
“Tidak akan pa. Aku begitu menyukai dan menyayanginya. Jangankan melukai, tergores sedikitpun aku takkan membiarkannya pah. Apaan sih paaa jangan seperti itu. Dia wanita yang mandiri dan hebat. Aku yakin tanpa campur tangan Rendra dan papa dia bisa membuktikan kemampuannya.” jawab Rendra yang kini wajahnya memerah.
“Dasar pecinta wanita”
Keduanya saling menertawakan sifat mereka yang memang tidak bisa jauh dan menyakiti wanitanya. Satu jam Rendra berada diruangan itu dan secepatnya berpamitan untuk kembali ke ruangan Shita. Laki –
laki itu dengan cepat melangkahkan kakinya berharap wanita yang ditunggu telah selesai melakukan operasi.
Namun sesampainya disana ruangan itu masih terasa sama ketika ia meninggalkannya 1 jam yang lalu. Laki – laki itu mulai menyandarkan bahu dan duduk disofa menunggu calon tunangannya seraya melihat beberapa email yang dikirim oleh asistennya.
---
Sementara itu pasangan sejoli yang saat ini berada di Lombok tengah menikmati waktu santainya setelah makan siang dan bermain. Mereka kini tengah beristirahat menikmati waktu bersantai di restoran yang berada dikawasan senggigi. Keduanya melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda di Bogor kemarin.
Mereka akan menginap di gili terawangan selama 1 malam dan kemudian melanjutkan perjalanan besok bermain snorkeling di Gili Air. Menikmati pemandangan senja dan malam dengan bertaburan bintang dilangit dipinggir pantai bersama kekasihnya adalah impian Nana. Niko hanya melakukan apa yang diinginkan oleh kekasihnya
---
Berpuluh – puluh menit telah berlalu, terlihat seorang laki – laki sedang berbaring disofa ruangan milik pujaan hatinya. Ia telah menunggu selama 3 jam disana namun tak ada tanda - tanda wanitanya akan datang.
Dreett dreett dreett
"Hallo"
"Maaf pak, saya sudah menyewakan 2 bodyguard untuk menjaga nona Shita” Ucap Rian.
"Kerja bagus. Ambilkan pesananku ditempat biasa, nanti ku beritahu lokasi pengantarannya”
Tuutt
Diputuskan panggilannya sepihak. Ia merasa bosan menunggu lama seperti ini. Biasanya laki - laki itu yang selalu ditunggu oleh beberapa wanita yang pernah dekat dengannya, namun kini ia yang menunggu wanitanya selesai dengan tugasnya. Perut laki – laki itu pun sedari tadi tak diisi mulai mengeluarkan banyak suara dari dalam sana. Niat hati ingin makan berdua romantis tapi terbentur jadwal operasi yang dilakukan wanitanya.