Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 49



1 jam kemudian mereka sudah sampai ditempat yang Rendra maksud. Shita melotot dan matanya berkaca – kaca tak percaya jika Rendra akan mengajaknya ke pantai lagi. Shita begitu rindu dengan tempat kelahirannya dan kini Rendra mampu membuatnya seperti itu.


“Shita kamu kenapa? Apa aku membawamu ke tempat yang salah?” tanya Rendra pada Shita dan terlihat bulir bening jatuh di pipi Shita.


“Ah tidak. Aku hanya Rindu dengan keluargaku di Bali. Aku juga tak menyangka kamu akan membawaku kesini.” ucap Shita menghapus air matanya.


“Baiklah mari kita turun.” ajak Rendra menggandeng tangan Shita.


Shita yang terlalu lama melihat pasien, darah, benang, pisau bedah kini sangat bahagia melihat pantai yang indah. Ia berlarian kesana kemari hingga melangkah maju mundur tepat dibibir pantai seperti mengejek ombak yang mendekat ke arahnya.


“Aaaaaaaa aku bahagiaa” teriak Shita.


Rendra tersenyum lebar melihat tingkah Shita. Shita yang kini berada dihadapannya jauh berbeda dengan Shita yang biasanya. Dihari – hari biasa Rendra bertemu dengan Shita dalam mode dingin dan serius, namun kali ini dia melihat Shita dalam mode hangat dan periang.


Secercah perasaan begitu hangat dan sangat nyaman dirasakan Rendra melihat senyum Shita tak hilang dari wajahnya. Shita melihat Rendra yang tengah melamun berlari menuju ke arah Rendra dan menyeret laki – laki itu bermain air bersama.


Rendra melihat toko bunga yang berada di samping jalan menuju pantai tadi, dengan cepat ia membeli bunga mawar 10 tangkai. Dia melihat kesana kemari mencari sesuatu dengan cepat ia menghampiri.


“Hei bisa paman minta tolong? Bisakah kamu memberikan ini untuk wanita itu? Bagikan kepada temanmu aku akan memberikanmu bayaran yang banyak, bagaimana?” tanya Rendra begitu polos lalu memberikan beberapa lembar uang pecahan 100 ribu.


Dengan cepat orang yang diminta tolong oleh Rendra mengantarkan bunga pada wanita yang ditunjuk pleh Rendra.


“Kak, ini untuk kakak”


Shita yang tengah berjalan menyusuri pantai terkejut melihat seorang anak kecil yang memberikan mawar padanya.


“Terimakasih”


Beberapa menit kemudian seorang anak kecil datang lagi memberikan setangkai bunga sampai bunga mawar terakhir terdapat note kecil “Jika begitu banyak orang yang mendambakan sinar matahari, maka langit malam begitu mendambakan adanya bintang untuk menemani. Begitu juga aku yang begitu menginginkan kamu selalu berada disisiku.”


Shita makin tersenyum kala melihat laki – laki itu kini berada dihadapannya memegang setangkai mawar merah lalu melangkahkan kaki mendekat ke arah Shita.


“Ini bunga terakhir untukmu jumlahnya ada 11 tangkai, 11 dikalikan seumur hidup sebegitu banyaklah aku menginginkanmu” ucap Shita.


Melengkung dengan sempurna garis bibir wanita itu kala mendengar ucapan dari laki – laki dihadapannya sembari berlari menuju ke pinggir pantai.


“Rendra, ayo ikut bermain bersamaku” ajak Shita sambil mencipratkan air ke arah Rendra.


“Shita jangan terlalu lama main air, nanti kamu sakit. Aku tak mau kamu kenapa – napa. Jangan membuatku begitu khawatir princess.” Ucap Rendra lembut pada Shita. Siapapun yang mendengar kata – katanya bisa dipastikan membuat darah mendesir dan pacu jantung lebih cepat dari biasanya. Tak terkecuali untuk Shita. Ia diperlakukan begitu lembut sejak awal oleh Rendra.


“Aku tak apa Rendra. Apa kau tak mau menemaniku, huh?” Shita kini mengerucutkan bibirnya membuat Rendra gemas..


Rendra berlari ke tempat Shita berdiri dengan tiba – tiba membungkukkan badannya dan menggendong Shita masuk ke pantai. Shita reflek menggantungkan kedua tangannya dileher Rendra.


“Kau mau membawaku kemana Rendra? Aku bisa jalan sendiri.” teriak Shita namun tak dihiraukan Rendra dan terus melangkah masuk ke pantai. Ditengah – tengah pantai Rendra menghentikan langkahnya.


“Bagaimana Shita? Kau mau masuk lebih dalam lagi? Aku tak keberatan menggendongmu.” goda Rendra yang membuat pipi Shita merona. “Pipimu kenapa? Mengapa wajahmu memerah? Apa kamu kedinginan? Mau ku peluk?” tambahnya. Shita yang mendengar ucapan Rendra memukul pundak Rendra berkali – kali membuat Rendra menahan sakit yang tak seberapa.


“Kau begitu lucu jika seperti ini princess.” Rendra menatap lekat – lekat wajah cantik dan manis Shita. Darah Rendra berdesir dengan cepat entah karena kedinginan terlalu lama di dalam air atau karena menatap Shita. Reflek Rendra mendekatkan wajahnya ke wajah wanita dalam gendongannya. Shita yang melihat Rendra mendekatkan wajahnya hanya bisa menutup matanya. Ia ingin mengecup bibir merah merekah dan membuat perasaannya semakin tak menentu ketika melihat Shita menutup matanya. Ia urungkan niatnya karena tak ingin menyakiti hati Shita dan mengalihkan pandangan ke arah lain.


Sadar dengan apa yang ia lakukan, wanita itu membuka matanya mengingat tak terjadi hal yang seperti ia pikirkan


‘Mengapa aku memejamkan mataku tadi? Jika tahu seperti ini aku takkan melakukan itu. Memalukan.’ gumam Shita merutuki kebodohan dirinya.


“Princess, kita kembali ke bibir pantai ya?” tanpa menunggu persetujuan Shita, Rendra membalikkan badan dengan posisi Shita masih berada digendongan Rendra. Sampai di bibir pantai Rendra menurunkan Shita. Dengan reflek Shita mengambil air dengan tangannya dan memercikkan air pantai lagi ke wajah Rendra. Mereka saling memercikkan air dan tertawa bersama.


“Kita beristirahat ya Shita, aku lelah mengejarmu.”


Hari mulai menggelap, keduanya kini sudah duduk di atas pasir putih yang tak jauh dari pantai. Rendra memberikan jaket yang berada di mobil untuk digunakan oleh Shita. Sedangkan Rendra sudah melepaskan kaus santai yang tadi dipakai saat bermain air dan menggantinya dengan kaus yang baru. Shita pun sudah berganti baju setelah membelinya ditoko sekitar pantai.


“Shita, kamu lapar? Mari kita makan aku tahu kamu pasti lapar dan lelah seharian ini.”


“Nanti saja Rendra. Biarkan begini sebentar saja. Aku masih ingin melihat pantai.” ucap Shita yang kali ini mengeratkan jaket Rendra yang ia kenakan merasakan hembusan angin yang menerpa tubuhnya.


“Kau tampak kedinginan, boleh aku memelukmu agar kau tak kedinginan? Aku tak akan melakukannya jika kau tak mengijinkan” ucap Rendra menoleh melihat ekspresi Shita menunggu jawaban dari wanita yang berada disampingnya.


“Silakan.” Sejenak wanita itu merasakan begitu hangat dan damai perasaannya berada dalam pelukan laki – laki yang memeluknya dari belakang. “Rendra, aku ingin mengatakan kepadamu semua tentangku. Apa kau keberatan mendengar ceritaku? Setelah ini aku mengijinkanmu untuk tetap tinggal atau pergi. ” ucap Shita yang sedari tadi menatap pantai yang mulai menggelap tanpa menoleh melihat laki – laki yang ia ajak bicara, Shita merasakan jika laki - laki itu menganggukkan kepalanya tanda setuju. Shita mulai menceritakan keluarganya dan kejadian yang ia alami selama 7 tahun ini.


“Kau tahu aku bukan orang kaya, aku membawa kepercayaan keluargaku untuk menggapai cita – citaku, namun keberuntunganku hanya sebentar. Bertahan 3 tahun kuliah pagi sampai malam dengan semua lelah yang ku alami, mengeluh pada om dan tanteku tapi ternyata omku salah mengartikan semuanya”


Rendra dengan tenang mendengarkan semua cerita Shita. Matanya seketika memerah menahan amarah mendengar cerita hidup wanita yang hidup sendiri di kota besar. Shita kini berbalik menghadap laki – laki itu dan melihat sorot mata Rendra menahan amarah. Ia tahu apa yang membuat laki – laki itu marah. Ia pasrah dengan apa yang akan terjadi setelah ini, jika laki – laki itu ingin meninggalkannya ia takkan menahannya. Menjalani hidupnya kembali sendiri seperti dulu bukanlah perkara yang sulit lagi baginya setelah ia ditinggalkan dulu.


Rendra yang telah selesai mendengar cerita Shita langsung memeluk lagi wanita itu. Tangis yang ia tahan selama ini tumpah begitu saja di pelukan laki – laki itu.


“Menangislah Shita, luapkan semua amarah dan sedihmu. Aku pinjamkan bahumu hari ini. dan berjanjilah esok tak boleh ada air mata lagi menetes diwajah manismu.”ucap Rendra mengelus rambut panjang Shita. Wanita itu menangis sesegukan, tanpa Rendra sadari ia pun ikut menangis mengenang kisah hidup Shita.


Dari awal Shita menginjakkan kaki di Jakarta, kuliah berat yang ia jalani, keluarga tantenya yang memperlakukannya dengan tak layak hingga pamannya pernah hampir memperkosanya berkali – kali. Tantenya mengetahui hal itu, namun Shita yang kena sasaran dan amukan dari wanita itu karena Gery suami Rani mengatakan jika Shita lah yang menggoda dan mengajaknya berhubungan intim. Dan terakhir kisah cintanya dengan Marvin yang hampir saja membuat luka sedikit demi sedikit sembuh semakin menganga.


Laki – laki brengsek yang menjadi sandaran hatinya dengan sangat tega menghianati Shita. Bahkan laki – laki itu dengan sengaja ingin melakukan pelecehan pada wanita itu. Begitu lama dalam tangisnya, Shita mulai tenang dan melerai pelukan Rendra.


“Rendra, aku tahu kamu jijik padaku, kamu boleh pergi sekarang jika kamu mau, sebelum semuanya menjadi lebih rumit untukku”