
Rendra POV
Sudah seminggu sejak kepulanganku dari Amerika untuk menjalani pengobatan kakiku yang patah karena kecelakaan 1 bulan yang lalu. Namun selama itu tak ada tanda – tanda kekasihku Tara akan mengirimiku pesan atau bahkan menghubungiku. Aku dan dia jarang bertukar kabar karena kesibukan kami, namun jika aku memiliki waktu maka aku menghubungi dan datang ke tempat kerjanya. Aku menduga dia akan khawatir setengah mati saat aku sebulan ini tak mengabarinya. Namun dengan bodohnya aku berharap hal tak pasti darinya. Semenjak aku melihatnya berduaan dengan seorang yang aku benci dan hal itu pula mengakibatkanku mendapat patah tulang pada kakiku.
Aku minta bantuan 3 sahabatku untuk menyelidiki apa yang dilakukan Tara selama 2 bulan belakangan ini. Aku tak menyangka dengan apa yang sudah dilakukannya terhadapku. Aku yang selalu mempercayai ucapan yang begitu manis dari mulutnya yang ternyata tak lebih dari seorang penghianat.
Aku bertanya – tanya pada diriku sendiri apa yang menyebabkan Tara berpaling dariku. Mengapa ia bisa mengenal laki – laki itu, berapa lama mereka sudah menjalin hubungan, mengapa Tara tega menghianati kepercayaanku padanya dan apa saja yang sudah ia lakukan dengan pria itu. Pertanyaan – pertanyaan itu terus menyelimuti pikiranku sejak aku melihat email yang dikirim Riko padaku.
Aku ingin mendengar penjelasan semua ini dari mulut Tara sendiri. Sudah 3 hari aku menghubunginya namun ia hanya mengatakan sedang sibuk dengan jadwal pemotretannya. Tara adalah seorang Model yang popularitasnya tak begitu terlihat jika bukan karena perusahaan keluarganya, ia takkan bisa menjadi model. Dan keluarganya memiliki sebuah perusahaan bergerak dibidang fashion dengan Tara yang menjadi modelnya. Kini perusahaan keluarganya bekerja sama dengan perusahaanku sejak 5 tahun yang lalu.
Aku bertemu dengannya tak sengaja di sebuah pesta kolega bisnisku di singapura. Ketiga sahabatku bahkan mendukungku menjalin hubungan dengan Tara melihat dari latar belakang Tara yang baik menurut mereka dan perusahaan keluarga yang di kelola oleh ayahnya yang nantinya akan diteruskan oleh Tara sendiri.
Selama berhubungan dengan Tara, aku tak pernah berbuat macam – macam dengannya walaupun dia sering menggodaku, namun aku tetap menahannya dan bertahan hingga hubungan kami sejauh ini. Aku menghormatinya sebagai seorang wanita sama dengan rasa hormatku pada Mamah. Aku tak ingin merusaknya sebelum aku dan Tara sah sebagai pasangan suami dan istri. Itulah amanat dan pesan yang selalu disampaikan oleh papahku ketika ia tahu aku menjalani hubungan dengan seorang wanita.
Akupun paham dengan maksud dan ucapan yang diutarakan oleh papahku.
Dreettt dreett dreettt
“Hallo Tara”
“………………..”
“Baiklah, nanti malam kita bertemu ditempat biasa ya. Aku juga ingin menanyakan beberapa hal padamu Tara”
“…………”
“Mmmm sampai jumpa nanti.”
“………”
“Maafkan aku yang tak menghubungimu. Aku sedang sibuk Tara, aku akan menceritakan padamu nanti mengapa aku tak menghubungimu belakangan ini”
Malam pun menjemput, sesuai janjiku dengan Tara tadi siang aku menemuinya di restoran favorite kami selama ini.
“Hai sayang. Sudah lama menungguku?” Ucap Tara yang terlihat cantik menggunakan dress hitam tanpa lengan dan itu membuat kesan sexy semakin terlihat padanya.
“Hanya sebentar saja. Silakan duduk Tara” aku menarik kursi yang berada tepat didepanku. Itulah kebiasaan yang ku lakukan terhadapnya. Melakukan hal – hal kecil yang bisa membuat orang yang ku sayang senang adalah prioritasku.
Tak lama seorang pelayan datang menghampiri meja kami.
“Kamu ingin memesan apa Tara? Aku memesan yang seperti biasa saja”
“Aku pesan steik dengan avocado juice.”
Setelah selesai mencatat pesanan, pelayan itu pun pergi dari hadapan mereka.
“Tara, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu. Mamah ingin aku segera menikah karena umurku sudah tidak muda lagi. Bagaimana denganmu Tara? Aku ingin dengar pendapatmu” tanya Rendra pada Tara.
Dreeett drreettt
Ponsel Tara berdering menandakan ada panggilan masuk.
“Kita bahas ntar ya sayang, aku terima telepon ini dulu. Sangat penting dan aku tak bisa mengabaikannya. Tunggu ya sayang”
ucap Tara menyambar ponselnya dan pergi menjauh dari tempat kami duduk.
Tanpa disadari Tara aku sudah mengikutinya sejak ia melangkahkan kaki meninggalkanku.
“Hallo beiby. Mengapa kau menghubungiku? Aku sedang makan malam bersama client penting. Jadi aku tak bisa menemanimu.” Mendengar dari nada bicaranya aku tahu dengan siapa Tara berbicara.
“……”
“Aku juga merindukanmu. Kita sudah bersama seharian ini beiby kamu masih merindukanku juga? Baiklah aku akan menyusulmu ke hotel tempat kita biasa sekarang juga ya sayang. Aku akan membatalkan makan malam ini.” ucap Tara dengan manja. Hal yang biasa aku dapatkan darinya sekarang dia lakukan dengan orang lain.
"........."
“Baiklah beiby, bersiaplah. Malam ini aku takkan membuatmu tidur cepat.” Ucap Tara dengan mudahnya. Aku pun terperanjat mendengar kata – kata yang dikeluarkan dari bibir Tara. Benarkah ini Tara kekasihnya?
Dengan dada yang bergemuruh dan menahan amarah, aku melangkahkan kakiku kembali ke meja menunggu Tara kembali dan menetralkan perasaanku. Dan benar saja beberapa menit setelah aku duduk, Tara kembali ke meja tadi. Pelayan pun sudah datang membawa makanan yang sudah dipesan tadi.
“Sayang, maaf aku tak bisa melanjutkan makan malam ini. Ada client yang mengajakku bertemu malam ini untuk membahas kontrak kerjasamaku dengannya. Mengenai pembicaraanmu tadi kita tunda dulu ya sayang. Aku belum ada keinginan untuk menikah. Nanti kita bahas lagi ya sayang. Aku buru – buru. Selamat tinggal, aku akan mengabarimu nanti jika sudah selesai”