
Bali, Indonesia.
Tepat 1 jam ia menaiki jet yang membawa Rendra dari Jakarta ke Bali mendarat dengan selamat. Dengan langkah tergesa – gesa dan tanpa pikir panjang ia memutuskan untuk segera menemui calon mertuanya yang kini sudah di rawat di rumah sakit.
“Ibu, ibu” teriak Rendra setelah ia melihat sosok wanita paruh baya sedang berdiri di depan pintu perawatan ruang intensif dimana ayah Shita di rawat.
“Nak Rendra, mengapa bisa ada disini?” air mata wanita itu tumpah begitu saja ketika Rendra dengan cepat memeluk tubuhnya.
“Maafkan Rendra bu, rendra tidak tahu jika bapak masuk rumah sakit saat Rendra sedang ada perjalanan bisnis ibu, maafkan Rendra” ucap Rendra tergugu menahan tangisnya.
“Tidak apa nak, bapak juga keadaannya sudah membaik” cicit Widya sudah meleraikan pelukannya.
“Astungkara bapak bisa sembuh ya bu, ohya Nayna dan Shita kemana bu?” tanya Rendra.
Seketika wajah Widya mendadak bingung mendengar apa yang ditanyakan oleh calon menantunya.
“Nayna sedang bersekolah nak, dan Shita bukankah dia sedang berada di Jakarta? Sehari setelah bapak masuk rumah sakit ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta, dia bilang akan bekerja untuk mencari uang pengobatan bapak, tapi kenapa kamu menanyakan keberadaannya pada ibu?”
Jedaarrr, kreekk kreeekkk
Hati Rendra seperti disayat ribuan pisau setelah mendengar apa yang dikatakan Widya, jika di Jakarta wanita itu tidak ada begitu juga di Bali lalu kemana wanita itu pergi? Sekuat hati Rendra menahan rasa sakit di kepala juga di hati yang kini menderanya.
“Ibu, dengarkan Rendra. Ayo kita bawa bapak ke Jakarta kita rawat bapak disana agar pengobatannya lebih optimal. Ibu tidak usah memikirkan biayanya ya bu. Ibu dan Nayna hanya perlu ikuti apa kata Rendra, demi Shita juga bapak ya bu. Akan Rendra urus semuanya” ucap Rendra kemudian pergi dari hadapan Widya tanpa menunggu persetujuan wanita itu.
Tuut ttuuttt
“Halo Desi, segera urus administrasi rumah sakit ayah Shita tapi aku yakin banyak yang akan menghalangi karena mungkin ini siasat dari seseorang untuk menjauhkanku dari Shita. Kita akan membawa ayah Shita ke Jakarta dan merawatnya dirumah sakit ayahku. Aku kembali ke Jakarta terlebih dulu kau urus disini, persiapkan penerbanganku”
Tutt
"Dia pikir dia siapa mengaturku sesuka hatinya begitu. Baiklah hanya untuk terakhir kalinya saja dia mengaturku seperti ini" kata Tara yang sudah memakai perlengkapan yang biasa ia gunakan untuk menyamar sebagai Desi. "Selamat bekerja sayang, aku akan mengurus perusahaan dan juga mendatangi beberapa meeting. Aku sudah mempermudah semuanya agar kamu bisa membawanya dengan mudah. Bila perlu kau langsung buat mati saja dua orang tua Shita" ucap Tomy seraya melangkah pergi dari kamar Tara.
Dengan cepat Rendra menuju ke Bandara tempat jet pribadinya mendarat. 2 jam kemudian Rendra sudah berada di Jakarta menuju ke apartemennya. Laki – laki itu mengobrak abrik isi apartemen menyalurkan amarah dan kekesalannya. Entah karena kepergian Shita atau kesalahannya yang tak bisa menjaga kekasihnya hingga ia menemukan sebuah kotak tak begitu besar jatuh dari atas lemari dan menampakkan banyak potret dirinya dengan Shita, potret dirinya dengan Tara yang jadi satu dengan potret masa lalunya.
“Jadi semua ini gara – gara potret ini? Hahahaha hahahaha, kamu saja dengan yang lainnya, aku bahkan sudah memberikan hatiku padamu. Memperjuangkanmu dari awal tapi mengapa kau pergi dari sisiku Shita, mengapa?” teriaknya kemudian melempar jauh kotak itu hingga matanya menemukan sebuah amplop yang tak pernah ia letakkan disana sebelumnya. Dengan cepat ia membuka dan membaca isi surat itu.
“Dear Pemilik hatiku, Rendra kekasihku”
Hai sayang, bagaimana kabarmu? Mungkin saat kamu membaca surat ini aku sudah tidak berada di sampingmu. Maaf aku tak mengatakan sebelumnya padamu dengan apa yang aku alami selama kamu tidak ada di sini. Aku sudah tahu sebagian masa lalumu bersama wanita itu tapi kenapa kamu tidak jujur padaku sejak awal apa kamu takut aku tidak menerimanya? Kau sungguh salah sayang jika kamu mengira aku tidak bisa menerima masa lalumu juga tentang saham perusahaanmu, kau seharusnya membagi padaku apapun masalahmu karena suka
duka akan kita lewati bersama. Aku begitu mempercayaimu sejak awal namun memberimu kepercayaan penuh sama dengan aku memberikan pisau padamu yang selalu saja menikamku secara perlahan dengan mengatakan apa yang kamu sembunyikan sedikit demi sedikit. Aku juga mendengar ketika kamu ke rumahku kamu sudah meminta restu orang tuaku aku sengaja tak mengatakan apapun karena aku mengira setelah kepulanganmu dari perjalanan bisnis kali ini kamu akan mengatakannya tapi itu tidak akan terjadi sekarang karena kini aku marah padamu aku sedikit kecewa makanya aku memutuskan untuk menghukummu. Apa dengan menyembunyikan semuanya dariku membuatmu bahagia? Tapi semua itu sangat sakit untukku. Terima kasih telah menyayangiku selama 1 tahun yang belum genap ini. Kepergianku mungkin menyisakan luka bagimu, tapi jangan terlalu larut ya sayang jika kau melakukannya maka aku akan menambah hukumanmu. Jika nanti aku tidak kembali maafkan aku tapi aku sudah cukup berusaha dan bahagia walaupun tanpa kamu disisiku setidaknya aku memiliki memori yang indah bersamamu dulu. Jika kamu merindukanku rasakan setiap terpaan angin yang bertiup maka aku akan ada disana untuk memelukmu. Kamu juga boleh memiliki kebahagiaan yang lain jika itu tanpaku, maaf jika aku serakah dan membawa semua yang kamu berikan padaku, inilah caraku mencintaimu sayang. Sampai bertemu kembali, kamu tetaplah kamu yang selalu memiliki posisi yang istimewa dihatiku.
From your love Akshita Lyla.
Tangis yang sedari tadi ia tahan, amarah yang menggebu beringsut dari hatinya. Yang ada kini hanya kekecewaan pada dirinya sendiri mengapa ia tidak mengatakan dari awal keadaannya.
“Shita, maafkan aku. Maaf aku menyesal Shita aku menyesal” ucapnya dengan tangisan yang begitu pilu tanpa ada yang mengetahui sakit yang ia rasakan saat itu. “Kamu dimana Shita, aku begitu rindu, aku begitu khawatir dengan keadaanmu Shita”
Perlahan Rendra bangkit dari duduknya, berjalan mondar mandir di dalam kamarnya. Terlihat ketakutan dan wajah cemas terlihat di wajah tampannya.
Ia merogoh ponsel yang ada di saku celana dan menghubungi sahabatnya Niko. Tak berapa lama Niko kini sudah ada di apartemen Rendra dan melihat kondisi memprihatinkan sahabatnya.
“Mengapa ini begitu berantakan Rendra, ada apa dengamu katakan padaku” Rendra yang diliputi kekalutan melihat kedatangan Niko dengan pandangan kabur namun beberapa detik kemudian wajah Niko tampak seperti bayang wanita di masa lalu dalam penglihatan Rendra.
“Hah, siapa kamu siapa kamu? Pergi jangan dekati aku, kamu ingin mengurungku lagi bukan. Tidakkkk aku tidak mau. Andika Andika dimana kamu Andika?” teriak Rendra yang sudah dilanda kepanikan dan ketakutan hingga ia melarikan diri ke dapur, memilih pojok di dapur tempat ia duduk.
Niko hanya membiarkan Rendra pergi, ia melihat secarik kertas dimana itu adalah surat yang Shita sengaja tulis untuk Rendra. Ia juga melihat banyaknya potret Rendra dengan Tara juga potret masa lalu Rendra berserakan diantara kertas yang ia temukan di lantai.
Kini ia mengetahui mengapa Rendra begitu ketakutan dan segera mencari dimana keberadaannya. Niko akhirnya menemukan Rendra, namun saat Niko mendekat ia kalang kabut saat mengetahui Rendra duduk di pojok dapur dengan pisau di tangan dan tepat mengarahkannya di leher.
“Rendra jangan Rendra. Ini aku, aku Niko sahabatmu jangan lukai dirimu sendiri Rendra kita bisa mencari Shita bersama – sama. Ayo letakkan pisaunya sekarang”
“Tidakk, kamu bukan Niko. Dia tidak ada disini, kamu menyamar bukan kamu wanita itu bukan. Dimana kamu sembunyikan Andika dimana? Katakan padaku apa kamu sudah membunuhnya?” teriak Rendra. Matanya yang menatap tidak fokus dan kemana – mana, ketakukan dan panik terlihat di wajahnya.
“Aku tidak membunuh Andika Rendra, coba kau tenangkan dirimu dulu. Lihatlah baik – baik aku siapa, aku Niko sahabatmu. Kamu adalah sahabatku, sahabat Riko dan Wisnu juga Rendra. Buka pikiranmu” Ucap Niko.
Namun lagi – lagi kata yang diucapkan Niko sepertinya tidak mempan untuk Rendra yang masih saja diliputi ketakutan dan kepanikan.
“Kamu kan, kamu kan yang mengirim semua foto dan beritaku dengan Andika. Jika bukan kamu siapa lagi, Shita kamu yang membuat hubunganku dengan Shita hancur bukan” Rendra menjatuhkan pisaunya, tubuhnya bergetar hebat. Ia mengacak – acak rambutnya prustasi “Arrrggg pergi pergii. Jangan lagi jangann”
Niko mengambil pisau yang sudah dijatuhkan oleh Rendra. Ia juga menghubungi Rian asisten Rendra juga keluarga Rendra.
tuutt tuuttt
"Rian, bisakah kamu datang ke apartemen Rendra? Sesuatu yang buruk telah terjadi dan bisakah kamu memberitahu keluarga Rendra juga?"
"Baik tuan"
Tuuttt
“Rendra, bertahanlah sebentar lagi bantuan akan datang. Tahan sebentar tahan” kata Niko yang sudah menangis. Ia sudah memeluk tubuh Rendra yang masih saja bergetar.
“Jangan menyentuhku, jangan menyiksaku lagi dengan Andika” tanpa Rendra sadari ia memukul tubuh Niko juga wajahnya beberapa kali membuat Niko melepas pelukannya pada tubuh Rendra.
Niko mengerang kesakitan akibat pukulan Rendra. Perlahan ia bangkit, berlari mengambil selimut yang ada di kamar Rendra dan memakaikannya pada tubuh Rendra.
“Rasa sakit karena pukulanmu tidak akan membuatku menyerah untuk menenangkanmu Rendra. Lihat aku, lihat aku Niko jangan panik lagi, jangan cemas. Masa lalumu sudah berlalu Rendra dan kamu sudah pernah melewatinya dengan benar jadi bertahanlah untuk kita semua” pecah sudah tangis Niko. Ia sudah menganggap Rendra seperti keluarganya sendiri dan Niko pula yang membantu melepas jerat masa lalu Rendra dulu.
Tak berapa lama Rian kembali dari luar negeri setelah mendengar kabar kekasih bosnya datang bersama Desi juga kedua orang tua Rendra serta dokter Agus. Kemudian di susul Riko, Wisnu juga Dharma dan Nana tampak terkejut melihat kondisi Rendra yang bergetar hebat juga Niko yang mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.
“Kakak” kata Dharma, air mata sudah tak bisa ia tahan lagi sejak mengetahui kabar kakaknya dari Rian. Ia tak bisa lagi menyembunyikan wajah sedihnya, perlahan Dharma mendekati Rendra yang masih dipeluk oleh Niko. Mendengar panggilan Dharma sontak membuat Rendra melihat dimana sumber suara itu berasal.
“Ama, kamukah itu?” tanya Rendra, ia melepas pelukan Niko dengan cepat hingga membuat badan Niko terbentur dinding. Dharma menghampiri kakaknya lalu memeluk tubuh Rendra, memberikan kenyamanan untuk mengurangi ketakutan yang mendera kakaknya. “Kamu kemana saja Ama, kakak begitu rindu jangan lagi menghilang dari pandangan kakak. Dimana mama dan papa juga adik kecil? Bawa kakak menjauh dari wanita itu, kakak takut” tanya Rendra.
Hendra yang mengerti kondisi Rendra mendekat ke tempat dimana Rendra juga Dharma saling memeluk. “Nak, ini papa. Kita ke kamarmu saja ya agar kamu tidak di temukan lagi oleh wanita itu” ucap Hendra yang dibalas anggukan mantap oleh Rendra.
“dokter Agus, kita beri penanganan dikamar Rendra saja”
“Jangan om, bawa Rendra ke kamar disebelah saja. Kamar Rendra begitu berantakan dan semua yang ada di dalam sana hanya akan membuat trauma Rendra kembali lagi” ucap Niko yang perlahan bangkit di bantu oleh Wisnu dan Riko.
“Terima kasih telah menjaga Rendra, om sangat berterima kasih”
“Sudah keharusan untuk saya melindungi dan membantu teman saya om”
Sesuai dengan saran Niko, Hendra mengajak Rendra masuk ke kamar yang ada disebelah kamar Rendra tanpa mereka ketahui jika itu adalah kamar Shita.
Mereka merebahkan tubuh Rendra di atas ranjang kemudian dokter Agus mengambil alih dan memberikan obat penenang. Perlahan mata Rendra menutup dengan sempurna dan masuk ke alam mimpi.
“Tuan saya sudah memberikan obat penenang untuk tuan muda, jika nanti ia sadar tolong berikan obat ini. Melihat apa yang dialami tuan muda menandakan jika ia perlahan tidak mampu mengontrol ketakutan juga menekan pemikiran atas masa lalunya. Jadi saya sarankan agar jangan menambah beban pikiran juga membuatnya stress ataupun mengingat kejadian masa lalunya, jangan membuatnya sendirian juga tuan itu akan sangat berbahaya jika
ia sendirian juga mengalami kekambuhan disaat bersamaan. Saya permisi tuan”
“Terima kasih dokter Agus” ucap Hendra. Dharma mengantar kepergian dokter Agus dari apartemen kakaknya.
“Dokter, bagaimana dengan pengobatan yang diberikan pada kakak saya dok. Mohon diusahakan agar kakak saya bisa kembali lagi seperti dulu” kata Dharma saat mereka sudah ada di parkiran gedung
apartemen.
“Saya sedang mengusahakannya tuan muda, sebaiknya kita berdoa dan terus berharap. Saya juga saat ini sedang menghubungi beberapa rekan saya yang ada di luar negeri yang lebih hebat dari saya. Akan saya kabari jika ada perkembangan dari apa yang saya lakukan. Saya permisi”
Dharma menatap kepergian dokter Agus dan merogoh ponselnya untuk menghubungi teman – temannya yang ada di luar negeri menanyakan dokter hebat yang bisa membantu memulihkan kakaknya.