Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 38



“Hahaha\, aku bahkan belum sempat mencicipi bibir dan tubuhmu itu\, namun tantemu s**** mu itu sudah pulang. Kamu tinggal dimana manis? Aku ingin menemuimu dan melanjutkan apa yang tertunda dantara kita. Hahahah ” ucap laki – laki itu.


Tutt


Panggilan itu diputuskan sepihak oleh Shita.


“Dasar ABG tua\, tidak ingat umur dan keluarga\, b*****k\, s****n. Mengapa aku bisa memiliki keluarga sepertimu? tingkah lakumu sungguh seperti binatang. Hikkss” ucap Shita disela tangisnya.


Tak berapa lama deru suara mobil terdengar oleh Shita, wanita itu merasa tidak pernah meminta sahabatnya untuk datang ke tempatnya.


Tok tok tok


Shita yang berada di pojok kamarnya dengan cepat mengusap air mata, menetralkan perasaan marahnya dan segera membuka pintu kostnya. Kini berdiri dihadapannya laki – laki yang siang tadi mengajaknya makan. Laki – laki itu mengernyitkan dahinya kala melihat lekat bulu mata wanita itu tampak basah. Tanpa permisi laki – laki itu memeluk Shita. Wanita itu tampak terkejut dengan apa yang terjadi padanya, dengan cepat ia melerai pelukan laki – laki itu.


“Biarkan seperti ini sebentar, kau boleh menangis dibahuku. Jangan tutupi apapun didepanku Shita. Aku begitu sakit melihatmu seperti ini.” ucap Rendra yang sudah membelai rambut panjang Shita.


“Aku tak menangis. Aku tadi sedang memotong bawang untuk makan malamku dan terkena mataku. Jadi lepaskan pelukanmu.” Ketus Shita. “Jadi untuk apa kamu kemari?” tanyanya lagi.


“Aku membawakan ini untukmu, makanan kesukaanmu. Aku tak bisa makan malam bersamamu hari ini. ada pekerjaan yang menungguku di kantor. Ini ambillah. Aku pamit.” Ucap Rendra yang saat itu menyerahkan kantung makanan yang ia bawa sejak tadi.


“Terima kasih. Silakan.”


---


Mentari menyapa seluruh mahkluk hidup yang ada di bumi ini tak terkecuali tubuh seorang wanita yang kini menggeliat terpapar sinar matahari yang masuk di kamarnya.


Tok tok tok


“Siapa sih pagi – pagi sudah menggangguku. Lelah kerjaku masih belum terbalaskan.” Ucap Shita dengan malas dan membuka pintu kostnya.


Tanpa ia sadari seorang laki – laki yang begitu gencar mendekatinya yang sedang menunggu didepan pintu. Betapa terkejutnya kedua manusia itu dengan apa yang mereka lihat didepannya. Shita yang masih berbalut pakaian tidur yang masih berantakan hanya menatap cuek dan dingin pada laki – laki itu.


“Kau tak bekerja hari ini?” tanya laki – laki itu.


“Aku bekerja dari sore hingga malam. Dan untuk apa kamu datang kemari jam segini? Kau tak memiliki pekerjaan?” tanya Shita.


“Bukan aku tak punya pekerjaan, tapi pekerjaanku saat ini adalah mengejar cintamu. Itu semua karena cintamu.” kekeh laki – laki itu yang kini merasa geli melihat penampilan berantakan wanita itu.


“Haiiss, masuklah. Aku tak ada apa, hanya ada air putih. Silakan ambil, aku akan mandi terlebih dahulu untuk membeli makanan.” ucap Shita pada laki – laki itu yang kini sudah meninggalkan laki – laki yang tengah duduk disofa.


20 menit kemudian Shita sudah menyelesaikan ritual mandinya dan menghampiri laki – laki yang berada disofa.


“Aku akan keluar membeli makan. Kau maka- Apa yang kau buat ini?” ucap Shita yang kini menghampiri laki – laki yang tengah berada di dapurnya. Tampak gagah dan tampan, gumamnya. Dihapusnya kalimat yang sejak tadi hinggap dikepalanya.


“Hei, katanya kau belum makan, aku membuatkan sarapan untukmu. Ini ada omelette dan roti bakar. Silakan dimakan.” Ucap laki – laki kemudian menyuguhkan makanan yang tadi dibuatnya diatas meja. Shita hanya menuruti apa yang dikatakan oleh laki – laki itu dan mulai memakannya.


“Aku akan pergi ke perusahaan, terima kasih sudah mengisi baterai semangatku. Aku akan mengantarmu nanti. Tak ada bantahan.” Kata Rendra yang kini sudah keluar dari kost Shita dan melajukan mobilnya.


“Dasar gila. Apa sih yang dilihatnya padaku? Tapi mengapa aku merasa senang dengan masakannya ini? tak perlu banyak berpikir, mari kita makan.”


Tak lama kemudian Shita sudah menyelesaikan makannya dan meraih ponsel yang berada diatas meja.


Tuuttt tuuttt


“Halo Nay, kamu dimana?


“Oh baiklah, kakak bekerja sore sampai malam. Bapak ibu bagaimana kabarnya?”


“…………”


“Ingat cek secara berkala ya Nay kesehatan bapak ibu. Jangan sampai begitu serius. Baiklah kakak tutup, kamu jangan lupa makan ya.”


Tutt


---


Disisi lain sepasang kekasih sedang menikmati waktu kebersamaan mereka yang jarang mereka temui, mereka menghabiskan waktu di kota Bogor untuk mengisi waktu luangnya.


“Kak ini sarapanmu” ucap Nana pada kekasihnya yang sedang mengemudikan mobilnya.


“Sayang, aku tak bisa makan sendiri kau tidak lihat aku sedang mengemudi?” ucap Niko yang tersenyum pada kekasihnya.


“Eh maafkan aku, aku lupa. Ini aku suapi manja banget. Haha” tawa Nana yang kini mengarahkan makanan yang berada ditangannya ke wajah Niko.


"Biarpun manja begini kamu tetap suka kan?" tanya Niko pada wanita itu yang hanya dijawab anggukan dan Niko bisa melihat rona merah pipi wanita itu.


2 jam perjalanan setelah melewati kemacetan ibukota menuju kota sejuk itu. Dengan suka cita sepasang kekasih itu menuju ke Bukit Gantole Puncak untuk menaiki paralayang. Niko mengajak kekasihnya menaiki paralayang karena ingat dengan janji yang mereka buat dulu saat kedekatan mereka terjadi.


“Kau masih ingat kak?” ucap Nana terharu dengan hal kecil yang masih di ingat oleh kekasihnya.


“Aku selalu mengingat apapun tentangmu Nana. Jadi bersiaplah untuk merekam memori indah yang akan kita lalui berdua mulai saat ini.” ucap Niko sembari mengecup kening wanita itu.


Tak berapa lama mereka sudah berada di atas bukit itu dengan Niko yang memegang kendali dan Nana berada didepan sedikit bawah Niko. Di ketinggian yang sudah ditentukan oleh Niko, laki – laki itu mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu ditelinga wanita itu.


“Kenanglah saat ini sayang, ini adalah awal untuk kita bersama.”


“Aku takut kak, tapi ini menyenangkan.”


“Akan lebih menyenangkan jika kita seperti ini, menolehlah ke samping”


Dengan cepat Nana menolehkan wajahnya dan seketika Niko menyambar bibir indah sedikit tebal milik Nana. Mereka berci**an di atas ketinggian hampir km 100. Niko me****\, me***** bibir bawah tebal Nana dengan rakus seakan takut kehilangan dan melepaskan ******* bibirnya pada wanita yang sangat ia cintai.


Merasa kehabisan nafas pada rongga parunya, pasangan itu menghentikan apa yang mereka buat sebelumnya. Kini yang ada hanya rona pipi diwajah mereka. 10 menit berlalu Niko mendaratkan paralayang dengan sempurna. Masih menyisakan bekas apa yang mereka lakukan tadi, Niko mengajak Nana untuk melanjutkan perjalanan ke Taman Wisata Gunung Pancar.


Menghabiskan waktu bersama, berlarian menertawakan tingkah masing – masing membuat mereka lupa diri hingga tak sadar hari sudah mulai sore menjelang malam. Niko memutuskan melanjutkan perjalanan mereka menuju bukit Alesano untuk berkemah dan menikmati pemandangan malam dengan bertabur bintang. Itu juga merupakan keinginan Nana sejak dulu. Laki – laki itu tanpa disadari kekasihnya akan mewujudkan apa yang di inginkan wanita itu.


Haihai pembaca setia novel because of your love..


Author sudah up sesuai dengan apa yang author janjikan.


Jangan lupa like tiap episodenya ya..


Vote, rate dan juga kritik saran.


Terima kasih..


Salam Manis Author for you all...