Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 27



Niko pun hanya diam mendengar penuturan teman sekaligus kakak pujaan hatinya dan segera menyusul kedua sahabatnya yang sudah berada diatas panggung.


“Kita bertiga tanpa Wisnu gak lengkap rasanya. Ya udah yuk mulai. Jangan lupa pakai topeng guys.” Ucap Rendra.


Jreeengg Jreengg


Tak tak tak tak


Jreengg


Lantunan drum dan gitar menggema diseluruh ruangan hingga seluruh pengunjung menatap mereka dengan takjub


 


Mungkinkah kau tahu


Rasa cinta yang kini membara


Yang masih tersimpan


Dalam lubuk jiwa


Ingin kunyatakan


Lewat kata yang mesra untukmu


Namun 'ku tak kuasa


Untuk melakukannya


Reff *


Mungkin hanya lewat lagu ini


Akan kunyatakan rasa


Cintaku padamu, rinduku padamu


Tak bertepi


Mungkin hanya sebuah lagu ini


Yang selalu akan kunyanyikan


Sebagai tanda betapa aku


Inginkan kamu


Ho-o-o ...


Mungkin hanya lewat lagu ini


Akan kunyatakan rasa


Cintaku padamu, rinduku padamu


Tak bertepi


Mungkin hanya sebuah lagu ini


Yang selalu akan kunyanyikan


sebagai tanda betapa aku


inginkan kamu


Sejenak semua pandangan tertuju pada mereka para lelaki misterius yang memainkan lagu dengan begitu indahnya. Rendra yang berada di bagian gitar, Riko Drum dan Niko vokal. Mereka yang telah terbiasa melihat orang – orang terutama kaum hawa dengan tatapan mengagumi hanya bisa menanggapi dengan senyum.


Lagu pertama selesai dilantunkan para pengunjung memberikan tepuk tangan yang meriah. Namun sebelum mereka beranjak dari panggung, seorang pengunjung wanita meneriaki ketiga laki – laki itu.


“Boleh mainkan satu lagu lagi? Saya suka dengan permainan musik kalian. Maaf bisa dibuka juga topengnya? Saya ingin melihat wajah kalian.” Pinta salah satu pengunjung wanita.


“Jika memainkan satu lagu lagi kami tak keberatan, tapi jika membuka topeng kami tidak mau nona. Inilah cirri khas


kami.” Ucap Niko dengan lembutnya disertai teriakan – teriakan dari pengunjung lain.


Kasihku dengarkanlah


Ingin kubicara


Tentang apa arti cinta


Yang tlah kita rasa


Cinta bukanlah sekedar


Pengorbanan semata


Tapi cinta punya rasa


Yang mengalahkan segalanya


Biar ku ungkapkan cinta


Walau cinta itu hampa


Hanya satu kubuktikan semua


O... o... sayangku


...


Abadi semua rasa


Tulus dihatiku


Tak temani malam pekat


Berikan ku cahaya


Biar ku ungkapkan cinta


Walau cinta itu hampa


Hanya satu kubuktikan semua


O... o... sayangku


Biar ku ungkapkan cinta


Walau cinta itu hampa


Hanya satu kubuktikan semua


O... o... sayangku


Kau beri kau rasa....


Sementara itu di Bandara International Ngurah Rai, Nana dan Shita sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta yang diantar oleh keluarga Shita. Kali ini keluarga Shita melepas kepergian Shita dan Nana dengan senyuman. Menempuh perjalanan sekitar 2 jam mereka telah sampai di Bandara International Soekarno Hatta. Mereka yang sudah merasa kelelahan langsung menuju rumah masing – masing.


Keesokan harinya mereka melanjutkan aktifitas mereka yang tertunda selama masa libur panjang yang mereka ambil. Nana sudah berada di Rumah Sakit karena akan tadi pagi akan mengoperasi pasien bersama Kakaknya.


“Bagaimana liburanmu adik nakalku?” tanya Dharma sembari mencuci tangan setelah keluar dari ruang operasi.


“Sangat menyenangkan kak. Bahkan aku ingin berlama – lama disana. Keluarga temanku sangat baik dan ramah. Maka dari itu aku senang berteman dengannya. Bukankah aku sudah pernah menceritakan tentang sahabatku ini? Dia seorang dokter bedah berbakat yang bekerja disini juga kak, dia sering melakukan operasi bersamamu. Aku nyaman dengannya.” Jelas Nana dengan senyum lebar.


“Mendengar ceritamu kakak sudah bisa menebak dia peduli terhadapmu tapi tidak peduli dengan latar belakang keluarga kita, karena sampai sekarang kamu pun tidak mengatakan kebenaran tentang identitasmu. Dia juga dokter yang sangat baik dan ramah. Kakak beberapa kali menjadi partner nya dalam tindakan operasi. Kakak sudah lama mengenalnya bahkan sebelum dia menjadi dokter disini."


"Dia hebat, cekatan dan pintar untuk seorang dokter yang baru 2 tahun bekerja. Saran kakak sebaiknya kamu jujur sekarang agar dia tak mengetahuinya dari orang lain.” Ucap Dharma lagi seraya meneguk air putih yang sejak tadi telah dipegangnya.


“Baiklah kak. Nanti aku akan coba mengungkapkan padanya siapa aku sebenarnya. Aku sedikit takut, dia tidak akan mau berteman denganku lagi. Semoga dia tetap Shita yang ku kenal seperti biasa.” Jawab Nana dengan pikiran melayang.


Ting


Ting


“Adik nakal sudah selesai operasinya? Kakak rindu padamu. Jam berapa kamu selesai bertugas?” begitulah isi pesan masuk diponsel Nana.


“Aku bertugas sampai jam 8 malam kak. Kita bertemu dirumah saja.” Nana pun membalas pesan dari kakaknya kemudian menyimpan lagi ponselnya dikantong baju operasi yang ia kenakan.