
Niko pun hanya diam mendengar penuturan teman sekaligus kakak pujaan hatinya dan segera menyusul kedua sahabatnya yang sudah berada diatas panggung.
“Kita bertiga tanpa Wisnu gak lengkap rasanya. Ya udah yuk mulai. Jangan lupa pakai topeng guys.” Ucap Rendra.
Jreeengg Jreengg
Tak tak tak tak
Jreengg
Lantunan drum dan gitar menggema diseluruh ruangan hingga seluruh pengunjung menatap mereka dengan takjub
Mungkinkah kau tahu
Rasa cinta yang kini membara
Yang masih tersimpan
Dalam lubuk jiwa
Ingin kunyatakan
Lewat kata yang mesra untukmu
Namun 'ku tak kuasa
Untuk melakukannya
Reff *
Mungkin hanya lewat lagu ini
Akan kunyatakan rasa
Cintaku padamu, rinduku padamu
Tak bertepi
Mungkin hanya sebuah lagu ini
Yang selalu akan kunyanyikan
Sebagai tanda betapa aku
Inginkan kamu
Ho-o-o ...
Mungkin hanya lewat lagu ini
Akan kunyatakan rasa
Cintaku padamu, rinduku padamu
Tak bertepi
Mungkin hanya sebuah lagu ini
Yang selalu akan kunyanyikan
sebagai tanda betapa aku
inginkan kamu
Sejenak semua pandangan tertuju pada mereka para lelaki misterius yang memainkan lagu dengan begitu indahnya. Rendra yang berada di bagian gitar, Riko Drum dan Niko vokal. Mereka yang telah terbiasa melihat orang – orang terutama kaum hawa dengan tatapan mengagumi hanya bisa menanggapi dengan senyum.
Lagu pertama selesai dilantunkan para pengunjung memberikan tepuk tangan yang meriah. Namun sebelum mereka beranjak dari panggung, seorang pengunjung wanita meneriaki ketiga laki – laki itu.
“Boleh mainkan satu lagu lagi? Saya suka dengan permainan musik kalian. Maaf bisa dibuka juga topengnya? Saya ingin melihat wajah kalian.” Pinta salah satu pengunjung wanita.
“Jika memainkan satu lagu lagi kami tak keberatan, tapi jika membuka topeng kami tidak mau nona. Inilah cirri khas
kami.” Ucap Niko dengan lembutnya disertai teriakan – teriakan dari pengunjung lain.
Kasihku dengarkanlah
Ingin kubicara
Tentang apa arti cinta
Yang tlah kita rasa
Cinta bukanlah sekedar
Pengorbanan semata
Tapi cinta punya rasa
Yang mengalahkan segalanya
Biar ku ungkapkan cinta
Walau cinta itu hampa
Hanya satu kubuktikan semua
O... o... sayangku
...
Abadi semua rasa
Tulus dihatiku
Tak temani malam pekat
Berikan ku cahaya
Biar ku ungkapkan cinta
Walau cinta itu hampa
Hanya satu kubuktikan semua
O... o... sayangku
Biar ku ungkapkan cinta
Walau cinta itu hampa
Hanya satu kubuktikan semua
O... o... sayangku
Kau beri kau rasa....
Sementara itu di Bandara International Ngurah Rai, Nana dan Shita sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta yang diantar oleh keluarga Shita. Kali ini keluarga Shita melepas kepergian Shita dan Nana dengan senyuman. Menempuh perjalanan sekitar 2 jam mereka telah sampai di Bandara International Soekarno Hatta. Mereka yang sudah merasa kelelahan langsung menuju rumah masing – masing.
Keesokan harinya mereka melanjutkan aktifitas mereka yang tertunda selama masa libur panjang yang mereka ambil. Nana sudah berada di Rumah Sakit karena akan tadi pagi akan mengoperasi pasien bersama Kakaknya.
“Bagaimana liburanmu adik nakalku?” tanya Dharma sembari mencuci tangan setelah keluar dari ruang operasi.
“Sangat menyenangkan kak. Bahkan aku ingin berlama – lama disana. Keluarga temanku sangat baik dan ramah. Maka dari itu aku senang berteman dengannya. Bukankah aku sudah pernah menceritakan tentang sahabatku ini? Dia seorang dokter bedah berbakat yang bekerja disini juga kak, dia sering melakukan operasi bersamamu. Aku nyaman dengannya.” Jelas Nana dengan senyum lebar.
“Mendengar ceritamu kakak sudah bisa menebak dia peduli terhadapmu tapi tidak peduli dengan latar belakang keluarga kita, karena sampai sekarang kamu pun tidak mengatakan kebenaran tentang identitasmu. Dia juga dokter yang sangat baik dan ramah. Kakak beberapa kali menjadi partner nya dalam tindakan operasi. Kakak sudah lama mengenalnya bahkan sebelum dia menjadi dokter disini."
"Dia hebat, cekatan dan pintar untuk seorang dokter yang baru 2 tahun bekerja. Saran kakak sebaiknya kamu jujur sekarang agar dia tak mengetahuinya dari orang lain.” Ucap Dharma lagi seraya meneguk air putih yang sejak tadi telah dipegangnya.
“Baiklah kak. Nanti aku akan coba mengungkapkan padanya siapa aku sebenarnya. Aku sedikit takut, dia tidak akan mau berteman denganku lagi. Semoga dia tetap Shita yang ku kenal seperti biasa.” Jawab Nana dengan pikiran melayang.
Ting
Ting
“Adik nakal sudah selesai operasinya? Kakak rindu padamu. Jam berapa kamu selesai bertugas?” begitulah isi pesan masuk diponsel Nana.
“Aku bertugas sampai jam 8 malam kak. Kita bertemu dirumah saja.” Nana pun membalas pesan dari kakaknya kemudian menyimpan lagi ponselnya dikantong baju operasi yang ia kenakan.