
Satu bulan kemudian…
Rendra mengurung dirinya di dalam apartemen tidak makan dan tidak melakukan aktifitas apapun walaupun ketiga sahabatnya silih berganti menemani tak juga mengembalikan semangat laki – laki itu. Ia menghabiskan waktu untuk meneguk alkohol yang membuat pikirannya melayang sembari menangis merebahkan dirinya dan menghirup lekat sisa aroma wangi tubuh Shita yang masih menempel di sprai ranjang kamar pribadi Shita maupun kamar pribadinya.
Tubuh kekarnya terlihat mengecil banyak rambut – rambut halus tubuh di dagu dan di atas bibirnya. Begitu tak terawat tubuh laki – laki itu.
“Kamu dimana Shita, kamu dimana. Aku sudah mengatakannya padamu, aku tak bisa menjalani semua ini tanpa kamu. Shitaaaa” teriaknya memecah keheningan yang ada. Begitu pilu tangisnya, begitu kacau hatinya. Tanpa kabar, tanpa pesan ia di tinggalkan sendiri menyebabkan trauma yang ia alami kembali menghantuinya.
“Apa aku tak berarti di hidupmu hingga kamu meninggalkanku berkali – kali? Hahah kenapa kamu datang lagi, pergi menjauh pergi” ucapnya lirih kemudian tertawa terbahak – bahak.
Laki – laki itu masih tertawa namun air matanya tak berhenti keluar, masih berderai di kedua pipinya. Ia berjalan gontai mendekat ke lemari pakaian yang penuh dengan minuman. Tampak begitu banyak botol minuman keras berserakan yang hampir memenuhi semua sudut ruangan, laki – laki itu meneguk 2 botol wiskey secara bersamaan malam itu membuat matanya berkunang dan melihat bayangan wanitanya juga bayang masa lalunya secara bersamaan.
“Shita, kemari sayang peluk aku hahaha, aku begitu merindukanmu Shita. Aku begitu mencintaimu, mana janjimu yang takkan meninggalkan aku sampai nanti. Shita aku takut takkan bisa menjalani hariku seperti biasa tanpamu. Hiksss. Pergi kamu pergi jangan ganggu aku juga wanitaku, kalian hanya masa laluku” ucapnya menangis kemudian tertawa lagi dalam kondisi setengah sadar juga pengaruh alkohol dalam tubuhnya.
Sebenarnya Rendra bukanlah tipe laki - laki yang suka mabuk atau merokok karena didikan ayah juga saran dari kedua adiknya yang tak mengijinkan bagian dari keluarga Jaya ada yang menyentuh alkohol. Namun kali ini mereka membiarkan Rendra menegak minuman yang dari dulu mereka jauhi karena mereka percaya dengan sedikit alkohol laki - laki itu akan lupa dengan kekasihnya, namun mereka salah justru ia semakin ingat dan semakin sakit dengan kenyataan akan kepergian Shita.
“Maafkan aku hikss maafkan aku atas perilaku Rika tapi aku tak menyukainya Shita. Berulang kali aku katakan Aku janji akan berubah, benar – benar berjanji sayang. Jangan pergi lagi sayang” ucapnya lirih dengan mata yang masih sedikit terbuka.
Titititit
Trililili
“Rendra, kamu dimana?” tanya seseorang yang baru saja masuk ke dalam apartemen memanggil – manggil Rendra hingga akhirnya ia menemukan Rendra tergeletak di lantai kamar pribadinya.
“Akhirnya aku menemukanmu disini. Dengar aku selama ini menunggu saat yang tepat untuk menuntut balas atas perilakumu padaku, perlahan – lahan memberimu paket itu agar aku bisa menyiksamu. Ku kira akan sangat lama aku melihat efeknya tapi ternyata itu hanya berlangsung beberapa minggu. Selamat menderita Rendra sebenarnya aku ingin membunuhmu tapi aku tidak ingin mengotori tanganku karena dengan cara ini pun bisa membuatmu terbunuh perlahan” ucapnya sembari meyeret tubuh Rendra membawanya ke atas ranjang. “Lihat Rendra, lihat baik – baik siapa aku. Aku akan membalaskan semuanya padamu” setelah berucap, ia memperlihatkan apa yang sembunyikan selama ini.
“Nikmatilah hari – hari terakhirmu juga semua ini” kata Tara yang selama ini menyamar sebagai Desi sekretaris Rendra setelah membuka topeng yang ia kenakan sejak awal.
Ia melemparkan begitu banyak potret Rendra bersama dua orang di dalamnya, potret Rendra dengan Andika juga potret Rendra dengan Shita. "Kau tahu dari siapa aku mendapatkan semua ini? Apa kau pikir tidak ada orang yang akan membencimu jika kamu berkuasa? Haha kau sangat salah, kau keliru. Aku Tara wanita yang kau tinggalkan untuk wanita murahan itu, aku yang membencimu juga dia, Tomy Sanjaya. Apa kau ingat itu siapa? Ingatkah kamu dengan Andika Sanjaya temanmu yang berubah menjadi wanita? Aku belum puas jika belum melihatmu mati. Nikmati semuanya sekarang sebelum kematian menjemputmu" Setelah mengatakan itu ia melangkahkan kakinya keluar dari apartemen Rendra.
Keesokan harinya ketiga sahabat Rendra datang setelah meluangkan waktu mereka hanya untuk menemui sahabatnya yang kondisinya masih sama saja seperti kemarin – kemarin. Namun ia mereka begitu terkejut mendapati banyaknya potret masa lalu Rendra berserakan di kamar pribadi Rendra juga banyaknya botol minuman yang mereka lihat.
“Rendra, lu bangun dong. Minum aja kerjaan lu ayo bangun” Wisnu menggerak – gerakkan tubuh Rendra berharap laki – laki itu merespon apa yang dikatakan olehnya.
“Wisnu, bantuin gue buang ini biar Rendra gak liat nanti. Ayo cepet” kata Niko, sedari tadi ia dan Riko mengumpulkan semuanya namun seperti tiada habis, potret itu terlalu banyak.
Akhirnya Wisnu membantu kedua sahabatnya memunguti potret juga membuangnya.Tak berapa lama Rendra bangun dari tidurnya dan mendapati ketiga sahabatnya sudah berada di ruang tamu apartemen.
“Kalian datang?” kata Rendra yang kini membawa 5 botol wiskey di kedua tangannya.
“Ndra, udah lu minumnya. Lu udah berapa kali bolak balik rumah sakit, lu dulu bilang gak akan akan pernah biarin wanita siapapun itu buat lu mati. Tapi semakin hari lu kayak orang mati ndra. Menyendiri, minum, sendiri, minum lagi mana gak kerja gitu aja kerjaan lu, lu gak capek kayak gini cuma karena Shita? Gue ampe undurin bulan madu gue cuma buat lu. Gue gak mau bahagia diatas penderitaan lu Ndra.” Ucap Riko berkaca – kaca tak tega melihat keadaan sahabatnya yang kini air matanya sudah luruh, begitu sedih ia melihat keadaan Rendra sekarang.
Mereka tak menduga jika laki – laki yang mereka yakini begitu ceria dan banyak kata dibalik sifat dingin dan angkuhnya kini berubah menjadi laki – laki yang begitu rapuh hanya dengan menyebut satu nama seorang wanita. Wisnu yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya mengembalikan letak ponsel seperti semula.
“Apa salahku sama dia, Apa salahku padanya kalian bisa jawab? Kalian pernah rasain jadi aku seperti apa hah? Apa sebegitu membebaninya perasaanku terhadap wanita itu hingga ia melarikan diri seperti ini tanpa sepatah kata pun? Aku hanya ingin membahagiakannya tapi mengapa sesulit ini untuk bersama dengan wanita itu? Kalian tahu aku tak pernah seperti ini dengan wanita lain, namun hanya dengannya mengapa aku bisa seperti ini.” ucap Rendra berteriak diselingi tangis yang begitu memilukan dan menyesakkan disetiap kata yang ia ucapkan.
“Dulu gue mencintai orang yang salah tapi sekarang apa ini sebuah kesalahan lagi? Bagi gue rasa yang gue punya tidak hanya cuma, tapi sudah terlalu dalam. Gue tahu, gue salah sudah membohonginya berulang kali, tapi itu semua ada alasannya dan kalian tahu apa itu. Bunuh gue ko, bunuh gue. Gue gak sanggup tanpa dia” tambahnya namun kini ia memeluk Niko menangis sesegukan di pundaknya.
Ketiga sahabatnya tercegang dengan apa yang mereka dengar. Bagian terdalam laki – laki itu telah ditunjukkan pada ketiga sahabatnya. Niko, Wisnu, dan Riko hanya bisa menatap sahabatnya menangis sesegukan diselingi minuman yang terus masuk ke dalam mulutnya.
“Saat gue begitu dalam mencintai, kenapa rasanya sangat sakit. Sakit” ucap Rendra terbata bata menepuk dadanya begitu keras dengan tangan yang memegang potret Shita. “Ditambah banyak paket yang datang setiap hari membuatku tidak bisa menahan semuanya lagi”
“Lu mau kemana Ren?” tanya Niko ketika ia melihat Rendra beranjak dari tempat duduknya.
“Kamar mandi”
“Lu jangan keterlaluan Rik, gak liat tu ampe nangis kayak gitu tadi” kata Niko dengan nada sedikit meninggi.
Rendra melihat bayangan dirinya di cermin kamar mandi setelah menyelesaikan urusannya. Ia menatap lekat bayang dirinya hingga bayangan itu berubah dan penampilkan sosok dirinya sewaktu ia diculik dulu.
“Hai Rendra kita bertemu lagi” Rendra menatap bayang seorang wanita yang tak lain adalah Lita di pantulan cermin. “Kau ingin aku siksa lagi? Haha hidupmu sungguh tidak berguna. Kau tidak pantas bahagia, kemarilah akan aku buat hidupmu bahagia. Ambil pisau yang ada di dalam cermin itu kemudian mendekat ke sini”
Rendra melakukan apa yang ia dengar kemudian melangkah ke bath up dan menghidupkan keran air.
“Sekarang ikuti apa yang aku lakukan” Rendra yang pikirannya kosong sejak tadi hanya menuruti lagi dan lagi apa yang ia dengar sampai air dalam bathup tumpah hingga ke lantai kamar mandi.
Niko yang sedari tadi curiga mengapa Rendra tak kunjung kembali memilih untuk menyusul Rendra. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat Rendra yang berendam di bathup dengan kondisi tangan tersayat – sayat hingga membuat darah keluar dari tubuhnya begitu banyak.
“Riko, Wisnu panggil ambulance juga kabari om Hendra” teriak Niko dengan lantang. Ia mengambil handuk menutup sayatan di tangan kanan Rendra juga melihat wajah Rendra yang sudah pucat.
Sontak Riko dan Wisnu sahabatnya dengan apa yang ia lihat dalam kamar mandi. Begitu banyak darah Rendra menggenang bersama air di dalam bathup bahkan sampai melimpah dan keluar dari tempat yang semestinya.
“Tak ada waktu untuk menunggu lebih lama, kita bawa saja dia ke rumah sakit. Tutup rapat sayatan ditangannya, aku akan membantu membawa tubuh Rendra. Riko kamu kabari keluarga Rendra”
Dengan langkah cepat Wisnu dan Niko membawa Rendra yang telah mereka selimuti menuju rumah sakit diikuti Riko yang tengah menghubungi keluarga Rendra.
Krriinnggg
“Halo” sapa Mirna kepala asisten rumah tangga keluarga Jaya.
“Halo bik, beritahukan kepada om dan tante jika Rendra masuk rumah sakit karena melakukan upaya bunuh diri, saya sedang mengantarnya saat ini, sudah ya bik tolong disampaikan”
“Apa?” pekiknya kencang hingga terdengar oleh Nana yang sedang lewat dibelakangnya. Wanita itu berlari ke arah Mirna memastikan apa yang terjadi.
"Ada apa bi? Mengapa wajah bibi seperti itu tidak apa - apa ceritakan saja padaku siapa tahu aku bisa membantumu"
Mirna tampak berkaca – kaca, ia menceritakan semua yang ia dengar membuat Nana jatuh pingsan seketika.
Bruukkkkk
“Nanaaaaa” teriak Dharma dari arah tangga yang secara kebetulan ia turun dan berlarian ketika melihat adiknya terjatuh pingsan.
“Tuan, tuan muda maafkan saya. Tadi saya menerima telepon dari den Riko yang mengatakan Jika tuan muda Rendra sekarang berada dirumah sakit karena mencoba bunuh diri”
Tubuh Dharma bergetar hebat mendengar apa yang di katakan oleh Mirna asisten RT nya.
“Kasi tau papa mama bik, kasi tau cepaatt” teriak Dharma seketika menangis, ucapan Mirna terngiang di kedua telinga Dharma. Ia membopong tubuh adiknya menuju mobil dan membawanya ke JMC melihat keadaan kakaknya.
"Nana bertahanlah, jangan membuat kita semua khawatir sudah cukup hanya kak Rendra saja Na, kakak mohon"
Semua Staff JMC tak henti – hentinya dibuat heboh dengan kedatangan Rendra sebagai pasien setelah gossip juga pemberitaan yang beredar mengatakan menghilangnya dokter Shita karena ia telah dikalahkah oleh dokter Nita yang kini sudah menjalin hubungan dengan Andi.
Mereka sangat menyayangkan begitu besar rasa cinta Rendra pada teman mereka yang sampai saat ini tidak pernah lagi menampakkan bayangannya di rumah sakit itu. Rendra diberikan pertolongan pertama setelah ia sampai di JMC, namun ia kehilangan begitu banyak darah hingga membuat kondisinya terlalu lemah.
Andi dan Nita yang kebetulan sedang bertugas melihat bagaimana keras hati dan keteguhan rasa yang dimiliki laki – laki itu serta keadaan yang mungkin belum bisa diterima oleh Rendra atas kepergian Shita yang tak ada kabarnya. Mereka begitu terkejut melihat keadaan Rendra dengan tangan banyak sayatan. Setelah mendapat pertolongan Rendra sudah di bawa ke ruang rawat inap tipe VVIP.
“Tuan, bisakah kita bicara di luar? Ada yang ingin saya sampaikan” tutur dokter Agus yang menangani Rendra selama ini dan dibalas anggukan oleh Hendra juga Ratna.
“Tuan, maaf saya harus mengatakan ini. Kondisi tuan muda Rendra sekarang sangat lemah dia mengalami pendarahan yang cukup hebat dan degub jantungnya juga tidak beraturan serta-
kalimat dokter Agus menggantung, ia menghela nafasnya berkali – kali sebelum mengatakan kebenaran dari diagnosisnya.
“Apa lagi dokter? Katakan padaku”