Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 102



Setelah hari yang ditentukan tiba, pagi itu Shita menunggu seseorang yang akan membawa ke bandara Soekarno-Hatta. Hatinya membeku, masih terasa begitu teriris sembilu namun ia tetap harus terlihat tegar. Dengan mantap ia langkahkan kakinya menaiki pesawat yang akan membawanya.


Kriingg kriingg


“Halo bos”


“Bawa dia secepatnya ke bandara jika dia memberontak kalian lakukan apa saja untuk menenangkannya, bawa dia ke rumahku jika sudah sampai dan kurung dia di kamar yang sudah aku persiapkan. Aku sedang tidak di London jadi awasi dia terus jangan sampai dia kabur sampai aku kembali”


“Baik bos”


Tuuutt


Tingtong


Shita membuka pintu apartemen dengan perasaan gelisah juga cemas.


“Selamat siang nona, kami diminta untuk menjemput anda ke tempat bos kami. Saya harap anda tetap tenang dan menuruti apa yang kami katakana jika tidak ingin terjadi hal yang tidak anda harapkan”


Mendengar apa yang dikatakan pengawal itu, Shita hanya mengangguk pasrah. Bisa apa lagi dia jika sudah disana. 1 jam perjalanan yang ia tempuh dari apartemen menuju Bandara. ‘Aku tidak boleh meninggalkan Rendra seperti ini, jika aku meninggalkannya maka ia pasti akan merasa kehilangan. Bapak maafkan aku jika aku bersikap egois, tapi aku akan meminta Rendra agar ia membantumu nanti’


Secepat kilat Shita membalikkan tubuhnya dan lari dari kepungan beberapa pengawal yang tadi menjemputnya, namun ia kalah cepat dengan pengawal yang jumlahnya mencapai 15 orang.


“Nona, tolong diam bukankah kami sudah memperingatkan tadi mengapa nona sangat nekat” ucap salah satu pengawal yang mencengkram lengan Shita. “Tolong, tol” para pengawal bergegas menutup mulut Shita dengan sapu tangan yang sudah di berikan obat bius.


‘Maaf Rendra, aku bertindak gegabah dan tidak mengatakan padamu semua yang aku alami. Aku berjanji ini yang pertama dan terakhir aku meninggalkanmu seorang diri. Aku berjanji akan segera kembali dan bersamamu bagaimana pun keadaanku nantinya. Maafkan aku Rendra’


Sementara di pintu kedatangan luar negeri terlihat sosok laki – laki tampan yang baru saja masuk ke bandara menuju mobil yang sudah di persiapkan Rian. Seperti sebuah sebuah takdir, Rendra tak sengaja mendengar teriakan wanita yang suaranya mirip seperti Shita hingga ia menolehkan kepalanya sekilas di pintu keberangkatan namun ternyata ia tidak melihat apa – apa disana.


“Desi kamu mendengar suara teriakan?” Desi yang sedari tadi fokus dengan ponselnya kini menghadap Rendra.


“Tidak tuan, saya tidak mendengar apa – apa. Tuan mobilnya ada disebelah kanan di pintu keluar. Saya akan ke perusahaan hari ini untuk bekerja” ucap Desi sedikit tergagap.


“Tidak, aku seperti mendengar suara kekasihku. Aku akan mengeceknya sebentar”


“Tuan, tuan jangan ke sana tuan. Untuk apa nona Shita disini jika dia saja tidak tahu kedatangan tuan hari ini. Bagaimana jika tuan pulang saja sekarang biarkan saya mengurus perusahaan sebentar lalu pulang untuk beristirahat” cegah Desi yang sudah memegang lengan Rendra.


“Kau benar – benar tidak mendengar apapun? Baiklah jika memang seperti itu,


Perjalanan 30 menit Rendra tempuh barulah ia


sampai di apartemen.


Titititit


Trilili


“Sayang, aku pulang” panggil Rendra dengan semangatnya setelah pintu terbuka. terlihat sangat sepi juga gelap disana. Ia menghidupkan lampu apartemen yang berada di sebelah kirinya. “Sayang, aku sudah pulang, jangan marah lagi. Aku begitu sibuk dengan pekerjaanku sayang mengertilah”


“Sayang apa kau benar - benar marah padaku?”


Namun nampaknya apa yang ia harapkan justru berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada di depan matanya. Apartemen itu begitu sunyi, pengap dan seperti tak berpenghuni beberapa hari karena wangi yang biasanya ia hirup selama ini saat Shita disana tak bisa ia rasakan


Ia tak mau berpikir negatif Rendra pun masuk ke dalam kamar Shita berharap ia akan menemukan kekasihnya sedang tertidur namun lagi ia juga tak melihat sesuatu yang biasanya ia lihat sebelum kepergiannya.


Tak ada wajah kekasihnya disana, tak ada lagi bayangnya disana. Ia beralih memasuki kamar pribadinya berharap Shita ada disana namun hanya kekecewaan yang ia dapat. Sama sekali tak ada jejak kekasihnya disana.


Dreeett dreett


Rendra yang tampak gusar segera mengangkat panggilan pada ponselnya yang berada di dalam saku yang ternyata panggilan itu dari Nana.


“Hal-


“Kakak kemana saja selama beberapa hari ini ponsel selalu sibuk tak bisa dihubungi, apa kakak tahu bapak Shita masuk rumah sakit beberapa hari yang lalu?” cerca Nana tanpa jeda. Rendra begitu terkejut mendengar ocehan Nana.


“Apa? Lalu bagaimana keadaannya?” tanya Rendra memperlihatkan wajah khawatirnya.


“Dia hanya mengatakan jika ayahnya baik – baik saja, tapi aku ragu dengan dia kak. Aku bertemu dengannya kemarin bersama Anna, setelah itu aku tak bisa menghubunginya lagi kak.” Jawab Nana cepat.


Tuuttt


‘Maaf kak, aku pun sama sekali tidak mengetahui kemana perginya Shita hari ini,’ gumam Nana sembari menatap wallpaper ponselnya yang menampakkan poto dirinya dengan kedua sahabatnya. ‘Semoga kamu selalu sehat dan baik – baik saja dimana pun kamu berada’


Rendra kalang kabut mendengar ocehan adiknya, bagaimana tidak seperti itu setelah ia melihat kekasihnya tidak ada, sekarang orang yang ia jaga juga terbaring dirumah sakit tanpa ia ketahui kabarnya.


tuuuttt


“Hal-


“Bagaimana kau mempertanggung jawabkan apa yang terjadi pada keluarga Shita hah?” teriak Rendra saat panggilan sudah tersambung.


“Maaf tuan, saya lupa memberitahukannya saat itu. Saya lupa tuan saya benar – benar minta maaf tuan” ucap Rian terdengar begitu pelan dseberang telepon


“Cepat cari tahu sekarang juga minta Desi mempersiapkan jet untuk keberangkatanku ke Bali” teriak Rendra.


Beberapa menit berlalu, dengan cepat Rendra mengambil ponselnya yang tadi ia lemparkan kemudian menghubungi nomor ayahnya.


“Papa, Rendra minta tolong carikan keberadaan Shita”


“Rendra kau bisa tenang lebih dulu, katakan apa yang sebenarnya terjadi” ujar Hendra dari balik telepon.


“Papa, Shita tidak ada disini lagi juga ayah Shita masuk rumah sakit tapi Rendra malah tidak tahu papa, pasti Shita sangat terpukul dengan kejadian itu. Tolong Rendra papa, begitu sakit hati Rendra jika melihatnya khawatir sedikit saja. Bantu Rendra” rengeknya dengan suara yang semakin melemah di sertai tangisan yang begitu memilukan. Hatinya menjadi kecil, pikirannya begitu kalut menyadari sebuah kenyataan yang harus ia hadapi.


“Kamu tenang, papa akan coba cari tahu keberadaan Shita juga kondisi orang tua Shita. Jangan sampai sakitmu kambuh disaat seperti ini Rendra. Papa yakin Shita membutuhkan sandaran dan kekuatanmu. Nanti akan papa kabari lagi, ayah pikir mungkin Shita sekarang ada di Bali mengingat ayahnya sekarang sakit.” sahut Hendra namun terlihat suaranya terdengar cemas.


“Semoga saja papa, aku tutup panggilannya”


Ting


“Tuan, ayah Nona Shita sekarang berada di rumah sakit S di Bali tuan, Desi sudah saya suruh menyiapkan jetnya. Tuan harus bergegas ke bandara sekarang'


Begitulah pesan yang masuk diponsel Rendra dan membuatnya hampir terjungkal karena terburu – buru ingin segera menemui calon mertuanya itu. Baru saja ia kembali dari perjalanan yang begitu melelahkan kini ia harus pergi lagi, karena Shita lah obat penawar letih yang sangat efektif untuk Rendra sejak dulu. Benar kata ayahnya ia harus bertahan dan kuat agar bisa bertemu dengan Shita dan memberi kekuatan pada kekasihnya.


‘Semoga kamu sekarang benar – benar ada di Bali sayang’


Sementara di tempat lain.


Dreeett drreett


“Desi persiapkan jet pribadi Tuan Rendra menuju ke Bali dan ku harap kamu cepat melakukannya”


“Baik pak Rian”


Tuutt


“Siapa yang menghubungimu?” tanya Tomy yang baru saja menghempaskan tubuhnya setelah mendapat pelepasan


“Hanya orang tidak penting. Aku harus mempersiapkan jet pribadi Rendra dan ini adalah bagian dari pekerjaan sementaraku sampai aku melihatnya mati perlahan barulah aku akan mengatakan padanya siapa aku”


“Hahaha, kau begitu licik sayang. Segera persiapkan semuanya sayang, kita percepat rencana kita mulai sekarang” ucap Tomy masih dengan nafas yang ia hirup dengan cepat setelah melakukan hal yang biasa ia lakukan diatas ranjang bersama wanita itu.


“Aku sudah menyiapkan semuanya\, kamu tenang saja sayang. Terima kasih atas permainan indahmu biarkan aku seperti ini sebentar sembari aku menghubungi ba****an itu.” ucap Tara kini sudah menempelkan kembali kepalanya di dada bidang Tomy yang masih saja mengeluarkan keringat bahkan setelah 5 menit berlalu saat mereka selesai.


Ting


"Jetnya sudah siap tuan" pesan yang masuk di ponsel Rendra tak lama setelah ia membawa mobil menuju bandara yang ternyata dari Desi.


---


Perjalanan cukup lama di tempuh Shita yang masih saja dalam keadaan tidak sadarkan diri sampai akhirnya ia sampai di negara tujuan.


Sang kepala asisten rumah tangga dan juga pelayan lain yang sudah mendapat kabar dari Arya asisten Tomy jika hari ini akan ada seorang wanita yang datang dan harus dilayani dengan sangat baik. Shita begitu tercengang melihat pemandangan yang begitu indah di depan matanya, namun ia tak bisa memungkiri jika hatinya masih tertinggal di Indonesia.


“Selamat datang di rumah tuan muda kami nona” ucap Wita sang kepala asisten menundukkan kepalanya memberi hormat. Wita sedikit terkejut melihat seorang wanita cantik turun dari mobil dan berjalan menuju tempatnya berdiri.


Ia tidak pernah menyangka jika tamu yang dimaksud asisten tuan mudanya adalah seorang wanita. Wita yang sudah mengabdikan dirinya begitu lama di keluarga Sanjaya, baru pertama kali ia melihat rumah tempatnya bekerja di datangi oleh seorang wanita dan juga tuan mudanya sendiri yang meminta.


“Kau tentu sudah di beritahu oleh tuan muda sebelumnya, jadi bawa dan jaga dia baik – baik” Tegas salah satu pengawal tengah berdiri disamping Shita dan membawa barang milik Shita.


“Kalian tenang saja, aku akan melaksanakan perintah tuan muda. Silakan masuk Nona, aku akan mengantarmu ke kamar untuk beristirahat” ucap Wita dan dibalas anggukan oleh Shita. Wita menyuruh salah satu pelayan yang bernama Rina untuk membawa barang milik Shita.


Ceklek


“Ini adalah kamar Nona, silakan masuk”


Shita begitu tercengang melihat sebuah kamar mewah bahkan terkesan sangat mewah untuk Shita. Kamar itu dua kali lipat lebih besar dari apartemen Rendra.


“Silakan beristirahat nona, semua barang dan keperluan anda sudah tersedia di ruangan yang ada disebelah kiri anda Nona. Maaf jika saya lancang, boleh saya tahu nama anda siapa Nona?” ucap Wita yang kini tersenyum manis ke arah Shita.


“Panggil saja aku Shita bu, tidak usah memanggil saya dengan nona karena saya tidak terbiasa”


“Perkenalkan nama saya Wita dan ini anak saya Rina. Tidak nona Shita, saya tidak ingin membuat tuan muda marah. Saya sudah bekerja disini selama 35 tahun jadi saya tahu apa yang disuka dan tidak disuka tuan muda kami. Silakan nona beristirahat, saya akan menyiapkan makan siang dan jika sudah siap saya akan memanggil nona untuk makan siang”


Wita keluar dari kamar bersama dengan Rina membiarkan Shita menikmati waktu istirahatnya.


“Ibu, mengapa tuan muda membawa seorang wanita kesini? Bukankah tuan muda mengatakan hanya akan membawa calon istrinya saja untuk menginjakkan kaki disini dan tinggal bersama disini?” tanya Rina, ia memang


seorang yang begitu cerewet dan sangat ingin tahu mengenai keluarga Sanjaya apalagi tuan mudanya sekarang.


“Kamu tidak usah ikut campur urusan tuan muda, biarlah semua ini menjadi urusan tuan muda. Jangan sampai kamu membuat kesalahan yang bisa membuat tuan muda marah” jawab Wita yang kini sudah berada di dapur dan mendengar banyaknya pelayan yang menggosipkan wanita yang baru saja ia tinggalkan.


“Kalian urus urusan kalian saja, selesaikan pekerjaan kalian jika tak ingin aku laporkan pada tuan muda” ujar Wita hingga membuat pelayan yang tadinya bergosip melenggang pergi karena mereka memang takut dengan Wita.


“Rina kamu bantu ibu menyiapkan makan siang untuk nona muda itu”


Rina menganggukkan kepalanya tanda setuju kemudian menyiapkan bahan – bahan untuk mereka masak.