
Kriinnggg
Alarm yang ada diponsel Shita berbunyi hingga membuat pemiliknya terbangun. Wanita itu mengucek kedua matanya dan meraih ponsel untuk mematikan alarmnya.
‘Ah sudah jam 6, aku harus cepat’
Wanita itu bergegas turun dari ranjang dan membuka pintu kamar sebelahnya memastikan keadaan laki – laki yang sedari kemarin sibuk dengan berkas – berkas yang dibawa oleh asistennya setelah pulang dari kediaman keluarga Jaya. Nampaknya laki – laki itu masih nyaman dalam tidurnya dan membalut tubuhnya dengan selimut tebal.
Shita mengingat apa yang terjadi semalam dan berusaha menerima apa yang dimiliki oleh kekasihnya itu. Ia melangkahkan kakinya menuju dapur mempersiapkan sarapan pagi sebelum keberangkatan mereka menuju
Bali. 2 jam sudah Shita berkutat dengan peralatan masak membuat sarapan sederhana dan tanpa disadarinya seorang laki - laki sudah berdiri dalam jarak yang lumayan jauh. Rendra berjalan mendekat dan memeluk Shita dari belakang.
“Meong terbanggg. Auh auhh Rendra kau mengejutkanku lagi” Teriak Shita terkejut kala menyadari adanya tangan kekar dan besar yang melingkar dipinggangnya. Rendra yang mendengar teriakan Shita hanya terkekeh kecil.
“Hahha maafkan aku sayang aku hanya ingin memelukmu pagi ini, kemarin malam aku sangat lelah dan baru tidur jam 1 pagi tapi setelah memelukmu rasanya semangatku kembali lagi. Aku juga bahagia 2 hari ini bisa bersama denganmu bukankah kita sudah seperti pasangan suami istri bukan?” goda Rendra sengaja berucap lirih tepat ditelinga kiri Shita.
“Jangan nakal sayang, lihatlah sudah jam berapa. Aku tak mau kita telat sayang.”
Cup
“Cukup bukan? Sekarang lepaskan aku mari kita sarapan dan bersiap” ujar Shita setelah berhasil mengecup singkat bibir laki – laki yang tengah memeluknya tadi, mungkin hanya itu satu – satunya cara agar kekasihnya mau melepaskan pelukan pada tubuhnya.
Dan benar saja perlahan – lahan pelukan tangan kekar itu melemah, Rendra hanya terdiam kemudian melepaskan lilitan tangannya berjalan menuju meja makan dengan garis bibir melengkung dengan bebasnya.
“Kau tahu apa mauku pagi ini, bersiaplah aku menginginkan yang lebih karena kamu barusan menggodaku. Berikan itu setelah kita sarapan, morning kiss” terang Rendra melihat Shita mengambilkan makanan untuknya.
“Ta-ta-
“Tak ada bantahan sayang” sahut Rendra penuh penekanan memotong kalimat yang akan terlontar dari bibir Shita namun hal itu justru membuat wanita itu mengerucutkan bibir.
“Ckk” decak Shita kesal mendengar apa yang dikatakan oleh Rendra.
Mereka sarapan bersama setelah itu bersiap2 ke bandara untuk terbang ke Bali memenuhi undangan RikoxAnna sahabat mereka. Rendra sudah meminta asistennya Rian menyiapkan jet pribadi miliknya.
2 jam kemudian..
"Sayang cepatlah keluar aku sudah tak sabar dengan apa yang aku inginkan sedari tadi. Tak usah bawa banyak barang nanti kita bisa beli disana semua keperluanmu" teriak Rendra dari luar menunggu Shita yang masih bersiap di dalam kamar.
"Aku tak membawa apapun sayang, barang yang ku butuhkan sudah ada dirumah dan yang terpenting aku tak mau merepotkanmu apalagi menggunakan uangmu" teriak Shita dari dalam kamarnya.
"Mengapa bisa begitu sayang, mmm? Apa benar kamu akan meninggalkan aku makanya kamu tidak mau menggunakan uangku?" tanya Rendra menatap lekat manik mata wanitanya yang baru saja keluar dari kamar dan mengelus lembut rambut panjang Shita. Terlalu jelas pancaran kasih sayang dan cinta yang diperlihatkan oleh Rendra ketika menatap Shita.
"Itu kan uangmu, aku tak ingin memakainya. Jika memang ada keperluan aku bisa membelinya sendiri sayang dan ini tidak ada hubungannya dengan perihal obrolan kita kemarin" ucap Shita tersenyum meraih dagu Rendra dan mengelusnya perlahan.
Rendra yang diperlakukan seperti itu oleh Shita mendekatkan wajahnya mencium dan ******* bibir wanita itu dengan semangat dan sedikit tergesa – gesa. Rendra begitu senang dan bahagia diperlakukan seperti itu oleh Shita sampai hal yang mengganggu pikirannya sejak kemarin perlahan teralihkan walau hanya sebentar.
Rendra melepas ciumannya saat mereka kehabisan stok oksigen dalam paru – parunya. Rendra mengusap bibirnya juga bibir Shita ketika melihat lipstik yang digunakan kekasihnya blepotan kemana – mana.
‘Bagaimana aku bisa sekasar itu pada wanitaku sampai lipstiknya berantakan begini padahal aku hanya ********** sedikit saja’ gumamnya lalu tersenyum pada kekasihnya.
“Kau membuatku berantakan lagi Rendra, lihatlah. Ini yang membuatku tidak ingin menggunakan uangmu itu, kau hanya akan merusaknya lagi dan lagi sekalipun kamu ingin membelikan yang seperti ini lagi untukku” keluh Shita bersidekap dada dan mengerucutkan bibirnya membuat Rendra tersenyum dengan tingkahnya.
"Hei kau itu akan jadi istriku tak apa bukan jika aku merusaknya sedikit saja. Apapun yang aku miliki itu juga milikmu maka kau harus terbiasa untuk ke depannya sayang, mengerti?" terang Rendra sambil mengecup kening dan pipi Shita bergantian.
"Itu akan terjadi setelah aku menjadi istrimu yang sah sayang, itu pun setelah pernikahan kita. Bukankah kau bilang kita berangkat jam 10? Ini sudah jam 9 sayang, cepatlah atau kita akan terlambat" ucap Shita terkejut setengah berlari setelah melihat jam menunjukkan pukul 08.50 dan segera mengambil tas tangan yang masih ia letakkan di atas meja riasnya.
"Hei kau yang begitu lama sayang. Kita takkan terlambat, percaya padaku. Ayo kita jalan" ucap Rendra menjulurkan tangannya agar diraih oleh Shita yang sudah keluar dari kamarnya.
30 menit perjalanan yang mereka tempuh untuk sampai di Bandara. Langkah demi langkah sepasang kekasih itu berjalan ke dalam bandara tampaknya semua mata tertuju pada penampilan menarik Rendra.
Bagaimana tidak laki - laki itu sangat tampan dan di usianya yang masih muda sudah mampu mengembangkan dan memiliki kerajaan bisnis besar serta menjadi orang kaya nomor 1 di Indonesia, menjadi yang ke 5 di Asia tentu saja data itu tidak dipublikasikan menjadi laki - laki idaman semua wanita terlihat bersama seorang wanita dengan penampilan sederhana.
Banyak yang melihat ke arah Rendra seakan ingin ******* habis mangsa empuk yang ada didepan mereka, menatap iri dan Rendah ke arah Shita hingga membuat dada Shita begitu tergagah menatap bergantian wajah – wajah wanita lapar itu. Rendra yang tak peduli dengan keadaan di sekitar hanya acuh namun lain halnya dengan wanita yang tengah berjalan disampingnya wajah Shita yang ditekuk sedari tadi masuk bandara terlihat jelas oleh Rendra.
"Hei mengapa wajahmu seperti itu dari tadi?" tanya Rendra menghentikan langkahnya kemudian menghadapkan ke samping badan Shita hingga mereka saling bertatapan.
“Aku tidak apa – apa” jawab Shita mengalihkan pandangannya ke arah lain. Rendra tak mengerti mengapa kekasihnya mendadak bersikap seperti itu.
“Ku mohon katakanlah aku tidak ingin kita pergi dengan keadaan seperti ini, apa yang sedang kau pikirkan sayang mmm?”
‘Dasar laki – laki tidak peka’ gerutu Shita dalam hati. Ia sangat kesal namun ia tidak mudah untuk mengatakan semuanya di hadapan umum seperti itu. "Kau tahu kau terlalu berlebihan hari ini hanya untuk keberangkatan kita saja tuan"
"Berlebihan? Tidak, ini terlalu santai sayang" tunjuk Rendra akan penampilannya yang hanya mengenakan kemeja panjang dengan lengan terlipat tercetak jelas dada bidangnya, celana coklat selutut serta snikers putih dan kacamata hitam bertengger dihidungnya sangat santai memang namun dimata semua wanita itu adalah pemandangan yang paling indah tiada tara.
"Apa kau tak melihat semua mata wanita yang ada disini memandangmu dengan tatapan lapar? Apa kau ingin dilihat oleh semua wanita seperti itu huh? Kau sangat berlebihan sedangkan aku lihatlah penampilanku ini" Ketus Shita berjalan dengan cepat tanpa menghiraukan Rendra yang masih bingung dengan sikap yang ditunjukkan Shita.