
“Kamu sudah lama menjadi dokter? Apa motivasimu untuk menjadi dokter?” Rendra merutuki kebodohannya melontarkan pertanyaan tak berbobot itu.
Shita sedikit menoleh dan menatap wajah Rendra sekilas lalu kembali menatap jalan yang sudah mulai sepi. “Aku sama dengan adikmu namun beda spesialisasi, itu untuk pertanyaan pertamamu. Lalu untuk pertanyaanmu yang kedua maaf aku tidak bisa mengatakannya karena kita tidak sedekat itu.” ucap Shita dengan lembut namun terkesan dingin.
Tak berapa lama mereka berdua sudah berada di depan kost Shita.
“Terima kasih untuk tumpangannya.” ucap Shita tanpa menoleh ke arah Rendra berjalan menuju pintu dan masuk ke dalam kostnya.
Rendra menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sedingin itukah wanita yang mampu menggetarkan hatinya? Apa yang membuat wanita dengan tatapan teduh itu begitu dingin seperti ini? Apa ini karena trauma seperti yang dikatakan Nana?” gumamnya dalam hati.
Rendra masuk kembali dan melajukan dengan kencang mobilnya namun pikirannya masih berbayang – baying wajah wanita itu. Sesampainya dirumah Rendra pun mencari keberadaan adiknya untuk menanyakan apa kejadian yang menimpa wanita hangat sehingga bisa berubah menjadi dingin, wanita yang mampu menggetarkan hatinya yang keras itu.
“Kak dia hanya menceritakan padaku dan aku melihatnya disakiti oleh pacar pertamanya, dan laki – laki itu bukan cinta pertamanya. Dia menjalani hubungan dengan laki – laki brengsek selama 2 tahun. Hanya karena Shita tak memenuhi hasratnya, laki – laki itu mencari wanita lain dan terang – terangan memutuskan hubungan mereka di hadapan selingkuhan laki – laki itu. Dan parahnya lagi laki – laki itu tak hanya seminggu/sebulan menghianatinya tapi sudah setahun dan saat itu mereka masih menjalani hubungannya dengan baik.” ucap Nana menjelaskan keadaan sahabatnya. “Selain itu aku tak tahu lagi kak. Dia tak pernah mengenal cinta, namun sekalinya berpacaran dan memiliki hubungan dengan laki – laki brengsek. Dia sebelumnya juga memiliki trauma, aku tak tahu itu apa kak. Kakak bisa menanyakan atau mencari tahu sendiri. Lebih baik kakak keluar sekarang ya kak. Aku sangat lelah hari ini dan aku rindu dengan kekasihku.” ucap Nana kemudian mendorong Rendra untuk keluar dari kamarnya.
“Dasar adik nakal. Tapi terima kasih informasinya sayang. Kakak membutuhkannya.” ucap Rendra mengacak – acak rambut adiknya dan melangkahkan kakinya.
Namun beberapa langkah kemudian, pertanyaan yang dilontarkan Nana membuatnya berhenti sejenak. “Kak jika kakak benar – benar ingin bersamanya, seriuslah padanya. Begitu juga sebaliknya. Aku mendengar dari adiknya jika Shita dulunya adalah pribadi yang periang, cerewet dan hangat. Namun semua yang ia alami selama ini menjadikannya pribadi yang berbeda 180 derajat. Ku harap nantinya aku bisa melihat kembali sifat Shita kak, jangan menyakitinya atau kakak akan kehilangan adik perempuan yang kakak cintai.” tegas Nana kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Rendra yang sudah berbaring di ranjang king size hanya bisa merenungi setiap kata yang terlontar dari mulut adiknya. Benarkah dia menginginkan wanita itu disisinya? Benarkah perasaannya saat ini untuk wanita itu?
Kegagalannya dengan Tara membuat Rendra lebih hati – hati membuka diri dan hatinya. Namun tak disangka secepat ini dia merasakan perasaan yang tak pernah ia alami bersama dengan Tara dan mantan kekasihnya dulu. Perasaan kuat yang ingin dekat dan mengenal lebih jauh, perasaan senang hanya dengan mengingat nama dan mengucapkan namanya saja sudah membuat jantungnya berdetak 10 kali lebih cepat. Itu sudah menyimpang dari perasaannya yang biasa ia alami.
Rendra mengusap wajahnya yang frustasi dengan pikiran yang selalu sama memikirkan wajah wanita itu yang selalu mengganggunya. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur agar bisa berpikir lebih jernih besok.
Mentari pagi menyapa seorang laki – laki dengan kantung matanya yang begitu terlihat. Rendra keluar dari kamarnya untuk sarapan pagi bersama keluarganya dengan wajah ditekuk. Ia kesal karena baru tertidur tepat jam 4 pagi.
“Pagi anak mamah, kenapa pagi – pagi wajahmu sudah ditekuk begitu?” tanya Ratna yang sedang mengoles roti dengan selai coklat untuk suaminya dan menyiapkan roti selai coklat untuk Rendra.
“Pagi pah, mah. Rendra kurang tidur mah. Baru bisa tidur jam 4 pagi.” ucapnya lirih namun bisa terdengar oleh yang lain.
Semua orang yang ada dimeja makan dibuat terkejut dengan ucapan Rendra. Karena ia adalah orang yang selalu on time dalam melakukan sesuatu namun kemarin ia tidur jam 4 pagi tadi? Sungguh kesalahan tak terduga dalam keluarga Jaya.
“Apalagi kalau bukan wanita mah. Kakak lagi jatuh cinta tuh mah. Dulu kan kakak tak pernah jatuh cinta terlebih dahulu selain cinta pertama kakak dan ini kedua kalinya kakak seperti ini.” jawab Nana yang mendapat pelototan dari Rendra.
“Siapa wanita itu? Hingga bisa menaklukan pria es ini Nana? Setahu kakak dengan wanita yang kemarin saja kakakmu tak pernah seperti ini! Hampir setahun berpacaran baru mau memegang tangan kekasihnya. Tapi sekarang? Tak mungkin kak Rendra bisa berubah drastis begini” tanya Dharma dan kedua orang tuanya yang sudah penasaran sejak tadi hanya diam memperhatikan. Rendra menatap tajam ke arah Nana seolah mengisyaratkan untuk tak memberitahukan apapun pada keluarganya.
“Kakak ingat dokter bedah muda dan berbakat di Rumah Sakit kita? Sahabat Nana yang kemarin aku ceritakan, itulah orangnya. Yang bisa buat dag dig dug serr jantungnya kak Rendra, kak Dharma. Coba aja sekarang kak Dharma hubungi Shita, pasti laki – laki dewasa di depan kakak ini begitu marah” canda Nana lantang tanpa mempedulikan tatapan tajam Kakaknya.
“Hah? Dokter Shita? Dokter Akshita Lyla temanmu yang dari Bali itu? Kapan kalian ketemu kak? Jika kakak dengannya aku mendukung kakak. Aku tak asal mendukungmu karena aku sudah tahu orangnya seperti apa. Aku tak meragukan lagi kemampuannya, tapi tak ku sangka selain hebat di meja operasi dia juga bisa meluluhkan pria dingin ini, hahahha” ucap Dharma yang tertawa lepas dan mengacungkan 2 jempolnya pada Rendra.
“Dokter muda yang ikut operasi bedah jantung denganmu minggu lalu Dharma?” tanya Hendra yang diangguki kedua anaknya. “Bagus pilihanmu nak. Papah mendukungmu 100%. Papah juga mengagumi dr. Shita karena
kemampuannya.”
“Hei kalian bertiga mengetahui perempuan itu sedangkan mamah tidak. Nasib nasib. Kenalkan pada mamah Rendra. Mama kan juga pengen tahu calonmu itu, bukan begitu pa? ” bujuk Mama Rendra.
“Gimana Rendra bisa kenalin sama mamah? Dekat dengannya saja sudah bersyukur. Wanita itu begitu dingin padaku, bagaimana aku bisa jadikan dia menantu kalian jika ia sedingin itu padaku pah mah? Dia saja tak
mau menatapku.” Kata Rendra melemah. “Hufftt Baiklah aku akan berusaha
memenangkan hatinya” ucap Rendra dengan lantang dihadapan keluarganya.
“Sejak kapan Rendra jadi pengejar cinta? Katanya kak Rendra mau bawain kalian menantu pah, mah. Biasanya dia terus yang dikejar wanita. Hahaha bucin bucin.” ejek Nana.
“Kau juga bucin. Itu kemarin apa namanya Na?” ejek Rendra balik.
“Pah, Mah itu anak bungsu papa sudah dewasa. Gadis nakalku kini punya pacar, sampai kemarin aku dikacangin mereka pah. Untung ada Shita kemarin menema- ehh bukan apa – apa pah ma.” tambah Rendra dengan gugup.
Hendra dan Ratna hanya tersenyum melihat anak – anaknya yang dulu begitu bahagia mereka gendong kini sudah tumbuh menjadi laki – laki dan wanita dewasa yang mengagumkan.
“Sudah jangan bercanda lagi. Ohya nak, kalian tak lupa bukan dengan perayaan kita seminggu lagi? Perayaan anniversary pernikahan papah dan mamah. Kamu benar ingin mengungkapkan identitasmu Rendra? Papa rasa itu adalah moment yang tepat. Nanti kita undang teman bisnis papa dan semua kolega papa hingga media untuk meliput acara ini sekaligus mengungkapkan identitasmu pada semua orang. Dan kalian bertiga boleh mengundang teman kalian siapapun itu tanpa terkecuali.” jelas Hendra pada ketiga anaknya.