
Pagi itu tampak cerah dengan langit berwarna biru, tak ada awan hitam menyelimuti pagi yang cerah. Sosok laki – laki keluar dari mobil sport hitam kesukaannya mengenakan kacamata hitam menambah kesan tampan dan cool penampilannya. Laki – laki itu memasuki sebuah restoran bersama asistennya
Didalam restoran laki – laki itu mengedarkan pandangannya menatap satu persatu pengunjung yang berada disana, hingga tatapan tajamnya melihat seorang laki – laki paruh baya lengkap dengan jas rapi dan seorang asisten yang berdiri disampingnya. Laki – laki itu mendekat ke meja yang ditempati laki – laki paruh baya tersebut.
“Selamat pagi pak Wisnu, perkenalkan nama saya Guna, dan ini bos saya pak Richard.”
“Selamat pagi, Saya Wisnu Wardana dan ini asisten saya Jack. Senang berkenalan denganmu pak Richard.” Ucap Wisnu sopan pada clientnya.
Setelah membahas semua hal tentang kerjasama dan menandatangani kesepakatan kerja sama, Richard dan Guna meninggalkan Wisnu dan asistennya untuk meneruskan perjalanan ke Jerman.
“Senang bekerja sama denganmu Tuan Wisnu. Aku harap kerjasama kita terjalnin dengan baik hingga nanti”
“Senang juga bekerja sama denganmu Tuan Richard. Semoga selamat sampai ditujuanmu.”
Wisnu kemudian meminta pada asistennya untuk memesankan menu sarapan untuk mereka. Jack adalah teman Wisnu yang sudah bekerja dengannya selama 7 tahun.
Tak berapa lama makanan yang dipesan Wisnu sudah diantar ke mejanya. Seketika pandangan Wisnu beralih ke arah pintu masuk ketika mendengar tawa seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam restoran. Pandangannya begitu tajam, bibirnya tercekat saat melihat wanita yang begitu mirip dengan kekasih kecilnya saat dulu ia bersekolah di Bandung berada didepan matanya.
Orang tua Wisnu meninggal dalam kecelakaan saat ia masih duduk di Bangku SMA dan saat itu Wisnu sudah berteman dengan Riko, Niko dan Rendra. Ketiga tak menyangka dengan apa yang menimpa orang tua Wisnu. Pribadi yang dulu sangat terbuka menjadi tertutup setelah kematian orang tuanya.
Tak heran jika Wisnu saat ini masih meminta bantuan Rendra atau Riko mengenai perusahaannya. Setelah kematian orang tuanya, Wisnu berharap bisa bertemu lagi dengan kekasih kecilnya yang dulu ia kenal walaupun hanya mengikat janji seperti anak kecil pada umumnya. Seperti mencari jarum ditumpukan jerami.
Namun kini saat ia sudah menyerah dengan apa yang selama ini ia lakukan, ternyata takdir menemukannya kembali dengan kekasih kecilnya. Dengan sengaja Wisnu mencuri dengar apa yang dikatakan oleh wanita itu dengan seseorang diseberang telepon.
“Aku sedang membutuhkan pekerjaan sekarang, aku baru saja dipecat diperusahaan. Bagaimana aku bisa menghidupi diriku sendiri sekarang jika tak punya pekerjaan.
“…………….”
“Baiklah, aku akan menunggu kabarmu. Terima kasih ya.”
Wisnu tersenyum menyeringai dan itu terlihat oleh Jack asistennya, Jack yang tak pernah melihat senyuman itu hanya terdiam.
“Jack segera buka lowongan pekerjaan diperusahaan, untuk posisinya nanti aku sendiri yang memberitahu saat interview. Aku sendiri yang akan menyeleksinya.” Tegas Wisnu.
“Baik Tuan”
Jack hanya menuruti perintah tuannya karena tak ingin mendapat amukan dari bosnya itu. sesuai dengan arahan Wisnu, Jack pun memasang berita lowongan kerja diperusahaannya yaitu W Corps yang bisnisnya sudah terkenal dengan dalam bidang elektronik, tekstil dan entertainmen, W corps memiliki Agensi yang menaungi para model dan artis top papan atas Indonesia.
Setelah 2 minggu lowongan itu dibuka banyak para pelamar yang telah mendaftarkan dirinya namun tidak ada yang diterima oleh Wisnu sang CEO W Corps. Suatu hari seorang wanita bernama Nisa berdiri di depan perusahaan W corps dan melanjutkan langkahnya untuk mengikuti interview lowongan pekerjaan yang ia lihat beberapa hari di Sosial medianya.
‘Apakah penampilanku sudah rapi?’ gumam wanita cantik itu
‘Bagaimana dengan interviewnya, mungkinkah aku bisa menjawab semua pertanyaan mereka. Belum apa – apa mengapa aku begitu gugup’ tambahnya.
Ia ingin memastikan lagi penampilannya sebelum melakukan interview. Tibalah giliran wanita itu dipanggil sang sekretaris CEO untuk masuk ke ruangan interview.
“Aku bisa, Semangat Nisa’
Setelah masuk ke ruangan itu, entah mengapa perasaan Nisa kini menjadi sesak dan gelisah. Dengan cepat ia menetralkan perasaannya itu, sedetik kemudian perasaan yang sedari tadi ditahannya kini luruh seketika melihat wajah sang CEO yang berada didepannya. Perasaan wanita itu membuncah seketika, menahan sekuat tenaga namun tak mampu ia lakukan.
Wanita itu bingung mengapa perasaannya menjadi seperti ini saat berhadapan dengan calon bosnya. Wisnu ingin sekali memeluk wanita yang kini terduduk dihadapannya. Semua data dan informasi yang dikirimkan wanita itu melalui email sangat sama dengan kekasih kecilnya. Wisnu berdehem seketika menetralkan perasaan dan suasana penuh rasa yang terjadi di dalam ruangan itu.
“Ceritakan tentang dirimu.” Titah Wisnu
“Saya dari Bandung, Saya hanya lulusan SMA, pengalaman kerja sudah ada di CV saya. Dedikasi saya bekerja disini adalah akan bekerja dengan giat dan berusaha dengan keras.” Ucap Nisa dengan lantang.
“Kamu bisa masak?” tanya Wisnu yang kemudian diangguki oleh Nisa. “Sekarang masak makan siang untuk saya, terserah kamu mau buat apa. Yang penting kamu yang memasaknya. Jika kamu bisa memuaskan rasa perut saya, kamu diterima.” Tambah Wisnu kemudian ia berdiri dari kursi duduknya dan melangkah menjauhi Nisa.
Wanita itu hanya terdiam dan menatap punggung laki – laki itu sampai hilang dari pandangannya.
‘Masak? Belum apa – apa sudah nyebelin begitu. Haihh aku harus tahan, tahan sebentar lagi’
Nisa bingung apa yang harus ia buat untuk makan siang calon bosnya itu. Jack yang menyadari kebingungan yang dialami Nisa segera menuntun wanita itu menuju dapur khusus yang berada diperusahaannya dan mulai memberitahu tata letak semua yang ia butuhkan di dapur.
“Disana letak piring untuk tempat makanannya, bahan – bahan ada di frezer disamping dapur. Jika ingin masak nasi gunakan rice cooker yang berwarna biru karena itu khusus untuk presdir. Bumbu yang lain bisa kamu cari di rak yang ada di atas sana. Sejauh ini kamu mengerti? Ada yang ingin kamu tanyakan sebelum memulai ini?” tanya Jack dan dijawab gelengan kepala oleh Nisa.
“Ingat, baru sekali ini Presdir minta karyawan yang belum diterima disini untuk memasak makanannya. Jadi jangan sampai mengecewakan atau aku akan membuatmu menanggung akibatnya.” Ucap Jack dengan tatapan tajam ke arah Nisa.
Glekkk.. Nisa menelan ludahnya dengan kasar.
Ketika semua dirasa jelas, Nisa mulai memasak dengan bahan seadanya disana. Entah mengapa saat itu ia hanya terpikir untuk memasak Ayam pedas manis dan telur goring kecap. Setelah selesai dengan masakannya, ia mulai menaruhnya diatas troli yang akan digunakan untuk membawa masakan itu menuju ruang calon bosnya saat jam makan siang.
‘Aku tak tahu apa yang dia suka, tapi gak ada salahnya aku membuat makanan sederhana yang dulu aku makan dengan Wardana dulu. Bagaimana dia sekarang ya? Aku begitu ingin bertemu dengannya’ lirih Nisa yang kini menatap gelang yang ia temukan ditanah terlepas begitu saja dari tangan teman kecil yang ternyata ia sukai.
Flashback On
“Hei laki – laki penunggu pohon” ucap anak kecil yang kini berdiri disamping bangku taman
“Aku bukan penunggu pohon, kau mengapa selalu menggangguku”
“Aku bermain disekitar sini dan sering melihatmu duduk disini. Apa kau mau main bersamaku? Ku lihat kau selalu sendiri, ini aku memiliki sebuah bola” ucap anak perempuan menyodorkan bola ke arah laki – laki yang duduk dibangku taman.
“Benarkah? Ayo kita main”
“Boleh kamu beritahu namamu siapa maka aku akan ikut bermain bersamamu.”
“Dasar anak cerewet, namaku Wisnu Wardana namamu siapa?” tanya anak laki – laki itu tanpa sengaja gelang ditangannya terjatuh.
Bruuumm tin tin suara klakson mobil begitu kencang.
Gadis kecil itu berpikir kemudian menjawab dengan cepat “Namaku Nisa Suwindri, panggil Nisa”
“Bukankah kita sudah berkenalan kita akan bermain bukan?” tanya laki – laki itu yang sekarang memegang bola dan diangguki oleh gadis manis dihadapannya dengan tanpa sengaja matanya melihat gelang terjatuh di samping laki – laki itu.
Flashback Off.
“Tunggu aku di sana Wardana, aku tak begitu jelas mendengar namanya dulu tapi ku yakin namanya Wardana.” Ucap wanita itu dengan gemas dan mencium – cium gelang yang ada ditangannya.