
Tak terasa hari berganti begitu cepat, keluarga Jaya dan semua sahabat Rendra sudah kembali 3 hari yang lalu setelah pernikahan RikoXAnna selesai.
3 hari yang lalu Shita dan Rendra sudah kembali dari Bali. Perjalanan bisnis Rendra jadwalnya dimundurkan karena Rendra ingin mengetahui sendiri bagaimana kondisinya. Selama 3 hari setelah mereka kembali keduanya memutuskan untuk tinggal di tempat terpisah seperti dulu sebelum mereka berpacaran namun setelah Rendra mengetahui kondisinya ia ingin sekali Shita tinggal bersamanya tentu dengan kamar yang berbeda dan memungkinkan setiap saat Shita ada dalam pengawasannya. Kondisi Rendra yang berada disamping Shita sejak 3 hari yang lalu perlahan – lahan mulai membaik walau ia tidak memungkiri perasaan takutnya masih begitu jelas ketika ada kiriman paket yang ia terima seperti sebelumnya.
Flashback On.
2 hari yang lalu.
Seorang laki – laki kini berada diruang dokter yang sebelumnya sudah membuat janji temu, ya dokter itu adalah dokter Agus, salah satu kenalan papanya yang memang dari dulu membantu Hendra merawat Rendra tentunya dokter Agus sudah begitu paham dan mengerti tentang kondisi Rendra yang sebelumnya.
“Jadi bagaimana dok? Apa kemungkinan yang terjadi?” tanya Rendra yang sudah tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan yang sudah ia jalani selama 2 jam yang lalu.
Dokter Agus hanya diam, ia hanya menyerahkan hasil pemeriksaan Rendra yang tentunya hasil pemeriksaannya itu bisa di mengerti oleh Rendra. Laki – laki itu mengurut pelan keningnya setelah melihat apa yang ada di dalam berkas tadi.
“Apakah seburuk ini kemungkinannya? Apa ada opsi lain selain perawatan intensif dan perawatan seperti yang ditulis disini?” tanya Rendra dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak.
“Saya tidak bisa memastikannya Tuan muda ada banyak hal yang harus saya perhatikan juga perkembangan tuan muda sendiri. Bukankah tuan mengatakan jika pemicunya itu adalah foto dan berita yang dikirimkan pada tuan dan penenangnya adalah dokter Shita? Jadi selama saya merawat tuan dulu cara yang saya gunakan efektif untuk tuan, tapi jika pemicunya semakin berat seperti ini saya juga tidak bisa menjaminnya” terang dokter Agus begitu terlihat sekali wajah kecewanya, entah pada dirinya sendiri atau dengan keadaan Rendra saat ini.
“Baiklah dokter, saya tidak akan memaksa. Tolong persiapkan berkas – berkas yang sama minta pada dokter jika memang kondisi terburuk dari keadaan saya seperti hasil itu. Saya minta jangan sampai keluarga saya tahu tentang kondisi saya ini, keadaan pasien itu adalah rahasia sekalipun keluarga saya ingin mengetahuinya. Terima kasih dokter telah menjaga saya” ucap Rendra pasrah kemudian berlalu dari ruangan dokter Agus.
Dokter Agus hanya melihat kepergian Rendra tanpa tahu harus berbuat apa.
Rendra yang kini sudah berada di parkiran dengan cepat masuk ke dalam mobil yang didalamnya sudah ada Rian yang menunggu. Rian melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang.
“Kita kemana tuan?” tanya Rian yang berada dibalik kemudi.
“Kita ke perusahaan saja Rian. Tolong bantu aku menghandle semua pekerjaanku”
“Baik tuan”
Kriingg kriingg
“Halo Desi, ada apa?”
“Maaf pak, saya hanya ingin tahu dimana bapak sekarang?”
“Saya sedang menuju ke perusahaan, katakan apa yang terjadi?” tanya Rendra dengan wajah yang sudah tidak sabar mendengar apa yang terjadi di perusahaan.
“Tidak ada apa pak, ini ada paket untuk bapak. 2 sekaligus” ucap Desi terbata – bata.
“Simpan itu untukku dan berikan jika aku sudah berada disana” ucap Rendra kemudian menutup panggilannya.
Rendra memijit perlahan pelipisnya, seketika otak pintarnya sangat rumit untuk sekedar memikirkan apa yang terjadi hari ini.
“Ada apa tuan?” tanya Rian yang tak sengaja melihat betapa kalutnya wajah Rendra di balik kaca.
“Bagaimana dengan penyelidikan yang aku minta sama kamu Rian?”
“Maaf tuan, hasilnya masih nihil. Maafkan saya” sahut Rian tergagap karena ia tidak berhasil mendapatkan apa yang diminta oleh bosnya.
“Naikkan laju mobilnya, aku ingin menyelesaikan pekerjaanku disini sebelum kita melakukan perjalanan bisnis nanti”
“Baik tuan”
Beberapa menit kemudan mobil Rendra sudah terparkir rapi di depan lobby perusahaan miliknya. Langkah tegas Rendra lakoni guna menutup perasaan dan pikiran kacaunya, tak butuh waktu lama akhirnya ia telah berada di dalam kantornya.
Tok tok tok
“Permisi pak, ini paket yang saya beritahu tadi di telepon” ucap wanita yang ternyata sekretarisnya Desi.
“Letakkan saja disana, kau boleh kembali” Desi pun meletakkan kedua paket yang memang di kirim untuk Rendra.
Rendra perlahan mendekati paket yang berada di atas mejanya dan membawa semua itu ke dalam kamar khusus miliknya. Perlahan – lahan di buka paket yang pertama yang seperti dugaannya, isi paket pertama ternyata sama seperti yang telah dikirim sebelumnya. laki – laki itu nampak tenang namun sedetik kemudian wajahnya berubah tegang, menampakkan ketakutan sekaligus kebencian.
“Arrrggg” teriak Rendra sekencang – kencangnya perlahan bulir – bulir bening keluar dari dahi setelah melihat isi paket dan mengingat semua isi berkas pemeriksaan miliknya. Ia berlari ke pojok ruangan dengan badan sedikit bergetar.
“Siapa, siapa yang mengirimkan aku semua ini?” perlahan Rendra meraih ponselnya dan melihat foto kekasihnya. “Mampukah kamu menerima masa laluku yang begitu kelam? Aku hanya tidak ingin kamu seperti cinta pertamaku yang lebih memilih meninggalkanku” Rendra menangis tersedu – sedu. Ia bingung bagaimana ia akan mengatakan semua itu pada kekasihnya.
Flashback on.
8 tahun yang lalu.
“Rendra, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan aku akhirnya bisa perlahan keluar dari masa laluku sejak ada Carla disisiku, tapi aku tidak ingin membohonginya dan mengatakan semuanya. Disatu sisi aku masih ingin dekat denganmu seperti kita sebelum mengenal Carla, aku masih menginginkan kamu untuk membantuku” Ucap Andika yang saat itu memakai baju wanita dan wig membuat penampilannya seperti wanita di luar sana.
“Aku mohon bertahan sedikit saja bersamaku walaupun tidak dalam hubungan yang seperti dulu tapi kita bisa berteman bukan, perlahan aku akan mencoba sepertimu, arahkan aku dan ajari aku” Rendra menganggukkan kepalanya seraya memeluk Andika namun yang tersirat disana bukanlah lagi rasa saling memiliki melainkan rasa persahabatan.
Braakkk
Kedua laki – laki itu terkejut mendengar pintu tertutup dengan kencang.
“Itu pasti Carla Rendra, bantu aku pergilah temui dia dan jelaskan pada Carla aku tidak bisa mengejarnya dengan pakaian seperti ini”
Rendra mengiyakan permintaan Andika dan mulai mengejar Carla yang tampak sudah jauh.
“Carla, Carla dengarkan penjelasanku dulu aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa – apa dengan Andika. Dan dia juga mencintaimu Carla, aku membiarkan kalian saling mendekat agar dia bisa terbebas dari belenggu masa lalunya. Tolong mengertilah” ucap Rendra.
“Mengorbankan aku seperti ini? Apa kau tahu betapa sakit hatiku melihat kalian tadi berpelukan layaknya sepasang kekasih. Aku tahu jika dia juga bernama Silvi bukan seseorang yang selalu kamu perhatikan. Aku memang menyukai Andika tapi jika masa lalunya seperti itu aku tidak bisa menerimanya. Lebih baik aku tidak kenal kalian lagi, jangan pernah datang lagi menemuiku” jawab Carla, perlahan ia melangkahkan kakinya dengan pikiran yang masih saja kalut dan penampilan menyedihkan.
“Aku juga cinta sama kamu Carla tapi aku ingin temanku itu kembali seperti dulu lagi. Dia mengatakan jika ia bisa berubah jika bersamamu, apa aku salah seperti itu?”
“Kamu salah jika mengorbankan orang lain juga perasaanmu untuk kesembuhan teman tercintamu itu. Selamat tinggal”
“Kamu mencintainya dan itu alasanmu tidak ingin bersama denganku lagi?” kata Andika yang saat ini sudah mengganti penampilannya dan menyusul keduanya. “Ternyata kamu sudah berubah seperti ini karena dia juga kan, pergilah aku sudah tidak membutuhkanmu lagi”
Flashback Off.
“Shitaa, hikss Shita jangan tinggalkan aku” tangis Rendra pecah sesaat
Tok tok tok
“Permisi tuan, ada berkas yang harus anda lihat” ucap Rian namun ia begitu kaget melihat bosnya tidak ada di ruangan, seingatnya ia tidak melihat Rendra keluar dari ruangan. ‘Apa bos dalam masalah? Apa ini mengenai paket yang di terima tuan muda akhir – akhir ini? Mungkin dia sedang menenangkan diri, aku juga harus mencari tahu semuanya’ gumamnya yang kemudian membalikkan tubuhnya berlalu dari ruangan Rendra.
“Ada apa pak Rian? Apa urusannya sudah selesai, mengapa berkas itu masih ada ditangan bapak?” ucap Desi yang memang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Rian.
“Ah sudah selesai kok Desi, kamu kembali bekerja saja” sahut Rian yang kemudian berlalu dari hadapan wanita itu.
Desi menggidikkan bahu tak ingin ikut campur dengan apa yang terjadi. ‘Mengapa aku tidak mendengar percakapan mereka? Sudahlah aku lanjut bekerja saja’
Jam makan siang pun tiba, Rendra keluar dari kamar setelah ia puas menumpahkan kesedihan yang ia rasakan. Walau tangisnya hanya sebentar tapi tak ada yang tahu bagaimana hancurnya perasaan laki – laki itu.
“Desi aku akan makan siang, jika tidak ada yang penting jangan hubungi aku. Rian rubah gudang dalam apartemenku siang ini juga, jadikan sebagai ruang kerjaku”
“Baik pak” sahut keduanya.
Rendra melangkahkan kakinya keluar dari perusahaan menuju ke tempat Shita bekerja tanpa memberitahu wanita itu perihal kedatangannya.
Beberapa puluh menit terlewat kini ia sampai di Gedung tinggi yang menjulang dengan tulisan JMC terpasang sangat besar di atas kepalanya.
Penampilan gusar laki – laki itu tak luput dari perhatian semua orang yang berada di lobby rumah sakit. Ia berjalan dengan cepat menuju sebuah ruangan yang menjadi tujuan awalnya.
Tok tok tok
“Masuk” ucap seorang wanita yang masih berkutat dengan tumpukan kertas juga mata yang tak pernah lepas dari layar monitor.
“Sayang” kata Rendra lembut sembari mendekati kekasihnya yang masih saja tidak bergeming dari tempat duduknya bahkan ketika ia sudah berada di dalam ruangan.
“Apa kau sibuk?” tanyanya yang kini sudah berada dibelakang Shita dan memijat kedua pundak wanita itu.
“Tidak, aku hanya sedang melihat video operasi.” Ucap Shita yang menghentikan segera apa yang dilakukan kekasihnya. “Kau luang? Bagaimana kalau kita makan siang sekarang?” tanya Shita kemudian.
“Baiklah, tapi kita makan disini saja bagaimana? Kita delivery makanan, aku tak ingin kemana – mana, hanya ingin berdua” sahut Rendra. Memang itulah keinginannya saat ini, berdua bersama kekasihnya juga menenangkan hati juga perasaannya.
“Mengapa kau jadi manja begini padaku? Katakan ada apa?”
Rendra tak terkejut ketika kekasihnya itu menanyakan perihal keadaannya namun masih saja laki – laki itu menampilkan topeng senyum di balik wajah sedihnya. Ia meletakkan kepalanya dipundak Shita yang masih sibuk memesan makanan untuk mereka.
“Apa aku tidak boleh berdua denganmu? Aku hanya sedang merindukanmu saja tidak lebih” ucap Rendra menaikturunkan alisnya sengaja menggoda Shita, “Tentunya aku juga menginginkan hal yang lebih dari ini”
“Itu hanya dalam mimpimu tuan muda Jaya” Shita mendengus kesal mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari bibir Rendra kemudian beranjak dari kursi putarnya kemudian duduk di sofa sembari menunggu datangnya pesanan makanan yang sudah ia order sebelumnya.
“Mengapa pikiranmu sedangkal itu sih? Aku tahu pasti pikiranmu menjurus kesana, sangat fatal” ucap Rendra yang kini menemani Shita duduk di sofa ruangan miliknya, “Sayang, sekarang tinggal di apartemenku ya? Aku tidak akan menyentuhmu jika kau tak mengijinkannya. Kita tidurnya juga di kamar berbeda seperti sebelum kita ke Bali 4 hari yang lalu. Nanti aku akan suruh Rian buat rubah gudang di apartemen untuk ku jadikan ruang kerjaku. Bagaimana sayang?” tanya Rendra lembut dengan wajah memelasnya.
Shita menyipitkan matanya melirik ke arah Rendra yang kini berada di sampingnya “Ya sudah aku mau, tapi janji ya kamu jangan macem – macem sama aku”
“Iya janji sayang, aku akan terus jaga kamu aku takkan melakukannya sebelum kita sudah sah di mata hukum dan Tuhan kita. Terima kasih untuk semuanya, terima kasih” sahut Rendra membelai rambut panjang kekasihnya yang kini menyandarkan kepalanya di bahu Rendra. Perasaannya begitu menghangat dan nyaman jika Shita berada di dekatnya.