
Kriingg kriingg
Suara ponselnya sedari tadi diatas tempat tidur membuyarkan ingatan masa lalunya. Helaan nafas terdengar dari mulutnya seakan ia lega dengan apa yang ia lihat pada layar ponselnya ‘terima kasih telah menarikku dari ingatan itu’ gumamnya sebelum ia menjawab panggilan dari Shita.
“Halo sayang, mengapa kau menghubungiku? Bukankah ini adalah panggilan internasional, aku sudah mengatakan padamu biar aku saja yang menghubungimu bukan, apa kau begitu rindu denganku?” ucap Rendra begitu semangat menutupi apa yang sebenarnya terjadi padanya saat itu.
“Hiks, kau jahat Rendra” sahutnya dengan suara serak karena tangisnya.
“Hei kamu kenapa? Mengapa kamu menangis sayang?” Hening tak ada jawaban apapun dari seberang sana, “Ayolah jangan membuatku khawatir atau aku akan kembali hari ini menemuimu” tegas Rendra lagi yang kini nampak mengepalkan tangannya begitu kuat hingga terlihat urat di lengannya.
“Jangan gila sayang, aku hanya merindukanmu. Sangat merindukanmu, tapi mengapa kau tidak jujur padaku tentangmu?” tanya Shita yang saat ini sudah berada di kamar apartemen Rendra dan menemukan apa yang seharusnya Rendra sembunyikan.
“Jujur tentang apa sayang? Aku sudah mengatakan semuanya padamu, aku begitu mencintaimu aku begitu takut kehilanganmu jadi jangan membuatku takut sayang” ujar Rendra dengan nada memelas. Ia tahu jika apa yang ia sembunyikan pasti akan diketahui oleh Shita karena ia tidak sempat membuang paket yang ada di kamarnya atau mungkin kekasihnya itu mendapatkan paket yang sama sepertinya.
“Hei kamu yang kenapa sayang, aku hanya bercanda. Aku hanya sedikit marah ketika kamu bilang kamu akan sibuk terus dan tak bisa mengangkat panggilanku saat pekerjaanmu begitu banyak tapi lihat kau bisa mengangkat panggilan dariku, apa kau berbohong padaku? Apa kau akan bersenang - senang disana tanpaku?” tanya Shita berusaha menahan gejolak dalam dirinya dan setenang mungkin menjawab pertanyaan Rendra, tapi sungguh hatinya sangat sakit berkali – kali ia di bohongi seperti ini oleh orang yang sangat ia percaya bahkan saat ia sudah sangat terbuka dengan kekasihnya.
Tangannya tak berhenti menepuk – nepuk dada untuk meredam seluruh sakit dan sesak yang hinggap di tubuhnya.
“Astaga sayang” Rendra menghela nafas lega karena apa yang ia pikirkan tidak sama dengan kenyataan yang dialami Shita. “Aku tak bersenang – senang, sebentar lagi aku ada meeting dengan klienku jika kau ragu maka kau boleh menghubungi asistenku sayang. Ini kebetulan saja aku sedang senggang sedikit ya sudah aku tutup teleponnya dulu ya, nanti kita ngobrol lagi. I love you sayangku” ucap Rendra setelah ia mendengar ketukan di pintu kamarnya beberapa kali.
Tuuttt
“Hikss, hikss mengapa kau menyembunyikan semua ini dariku sementara kamu selalu tersenyum manis ke arahku seolah tidak ada yang terjadi. Apa ini yang membuatmu selama beberapa waktu selalu melamun? Mengapa kau tak mau membaginya bersamaku, apa kepergianmu ini berhubungan dengan saham itu? Maaf aku tak pernah tahu, aku tak pernah bertanya. Tapi jika aku memiliki waktu yang lebih bersamamu pasti aku akan menanyakan semuanya tentangmmu Rendra. Aku berjanji akan menyelesaikan semuanya dalam waktu singkat ini” ucap Shita dalam hati kemudian melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
---
Setelah ia menutup panggilan dari Shita, Rendra begitu disibukkan dengan banyaknya pertemuan yang harus ia lakukan hingga tak memiliki waktu sedikitpun untuk menghubungi kekasihnya bahkan hanya untuk sekedar bertukar kabar dengan Shita. Kesibukannya juga membuat pikiran tentang bayang masa lalunya sedikit teralihkan, namun sesekali bayang itu terus saja menghantui.
“Rian persiapkan keberangkatanku pulang lusa pagi dan Desi juga harus ikut bersamaku” ucap Rendra setelah ia menyelesaikan meetingnya dan keluar bersama Rian juga Desi.
“Tapi tuan agenda kita masih banyak dan masih harus bertemu dengan klien yang lain lagi tuan” ucap Desi yang sedari tadi mengecek pertemuan yang akan dilakukan bosnya.
‘Gawat, jika Rendra pulang lusa bukankah ia akan bertemu dengan Shita di bandara. Aku harus memberitahu Tomy tentang hal ini’
“Ya tuan, benar apa kata Desi masih banyak pertemuan dengan klient kita yang lain” timpal Rian.
“Apa kalian berniat mengaturku? Siapa bosnya disini. Ikuti saya perintahku dan kamu Rian ambil alih semuanya dan jangan sampai terlewat sedikit pun”
“Baik tuan” ucap pasrah Rian. ‘Dia memberiku banyak sekali pekerjaan, lalu bagaimana dengan urusanku’ batin laki – laki itu yang kini sudah berada di dalam kamar hotel.
Sementara Rendra juga sudah berada di kamar hotel tempat ia menginap kamar khusus kedap suara hingga ia bisa berteriak ketika serangan panik dan cemasnya datang.
“Tunggu aku pulang Shita, aku tidak akan membiarkanmu sendiri lagi” ucap Rendra setelah beberapa kali meneguk Wine yang ada di hadapannya. Namun ketika ia hendak beranjak dari duduknya sekelebat bayangan wanita yang dulu meracuni pikirannya datang.
“Apa maumu, apa maumu sekarang? Kamu sudah mati”
“Rendraa, tolong aku. Sakit Rendra sakit sekali”
Ia melihat bayang sahabatnya persis seperti masa lalunya berada di hadapan seorang wanita sedang disiksa tepat berada di sebelah Rendra duduk.
“Tidak Andika, kamu harus lari sekarang ayo pegang tanganku kita lari dari sini sekarang juga” kata Rendra yang sudah mengeluarkan keringat dingin disertai ketakutan yang kini menyelimuti pikirannya.
“Tidak Rendra, aku tidak bisa lari kakiku terikat juga kakimu lihatlah. Aku sakit sekali Rendra, aku sudah tidak bisa menahannya lagi kamu harus bertahan dan beritahu orang tua kita siapa wanita ini sebenarnya”
Namun sedetik kemudian bayangan juga teriakan Andika begitu nyata dan semakin sering ia lihat seiring ia dilanda ketakutan.
Rendra mengerang begitu keras, pandangannya begitu kabur bahkan bukan karena pengaruh alcohol. Ia naik ke atas Ranjang meringkukkan tubuhnya di bawah selimut sepanjang malam hingga terdengar suara isakan yang semakin keras juga pilu.
---
2 hari sebelum kepergian Shita ke London,
Shita kembali ke Jakarta untuk mempersiapkan segala keperluan keberangkatannya, ia menatap lekat setiap sudut ruangan yang begitu banyak memiliki kenangan bersama Rendra.
Menangis..
Hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini, ia harus pergi meninggalkan laki – laki yang sudah menemaninya selama ini juga mengingkari janji diantara keduanya. Setiap sudut ruangan yang ia datangi memiliki cerita tersendiri dan bayangan tawa mereka bersama.
Dengan derasnya air mata itu keluar saat ia menyadari takkan bisa memeluk tubuh kekar dan mencium wangi maskulin tubuh pria itu lagi, tak ada lagi yang menggodanya, tak ada lagi yang mengangetkannya. Bahkan tak ada lagi yang memegang tangan dan mengecup keningnya diam – diam.
“Rendra, aku begitu sakit disaat aku baru saja merasakan apa itu bahagia dengan terpaksa aku harus mengubur kebahagiaanku itu. Jika bukan karena ancamannya aku takkan meninggalkanmu seperti ini Rendra. Maafkan aku, maafkan aku sayang. Sungguh aku minta maaf” ucapnya lirih memegang potret bersama keduanya saat hari ulang tahun Shita yang berada di atas nakas kamar Shita, memegang buket bunga yang nampak layu di samping potret itu.
“Aku akan meninggalkan semua ini disini jika kamu merindukanku kamu bisa melihat semua tentang kita dari album ini, aku hanya ingin kamu bahagia dan tenang menjalani harimu Rendra jika memang itu tanpaku, Aku begitu merindukanmu Rendra, sangat rindu.”
Shita memukul dadanya yang terasa sangat sesak karena tangis pilunya, membuat wanita itu juga sulit bernafas. Matanya menjadi semakin membengkak sejak ia menginjakkan kaki kembali ke Jakarta ia tak pernah berhenti menangis.
“Rendra, peluk aku untuk yang terakhir kalinya. Aku ingin menyimpan hangatnya pelukankmu dalam ingatanku” ucap wanita itu merangkak keluar dari kamar menuju kamar Rendra. Sorot matanya melihat ke arah tumpukan baju kotor milik Rendra, Shita mengambil dan kini memeluk baju Rendra yang masih berada di tempatnya, masih menyisakan aroma dan wangi dari tubuh prianya.
Wanita itu luruh dengan tangisan yang terdengar pilu, masih bertahan memeluk pakaian yang pernah Rendra gunakan. Perlahan wanita itu bangkit untuk mengambil pakaian Rendra yang ingin ia bawa bersama namun matanya tidak sengaja menangkap sesuatu di dalam lemari Rendra.
Tangisannya terdengar pilu ketika ia mengetahui apa isi dari sesuatu yang ia temukan. Siang itu ia gunakan waktu untuk merenung, tidur di ranjang Rendra dan memeluk kemeja Rendra yang masih terasa wangi laki – laki itu, menangis memikirkan apa yang akan terjadi pada Rendra jika ia meninggalkan semuanya dan pergi seorang diri.
Keesokan harinya Shita mengajak Nita bertemu untuk membahas masalah yang terjadi di antara mereka. Ia tak mau menambah masalah dan beban untuk dirinya juga kekasihnya nanti.
“Nita aku minta maaf untuk waktu itu tapi bisakah kita bicarakan baik – baik apa sebenarnya masalahmu padaku?” tanya Shita yang saat itu sudah duduk berhadapan dengan Nita di café sweet home.
“Apa kau memang tidak tahu? Kau merebut kak Marvin dariku dengan keganjenanmu itu juga Andi”
Shita dibuat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Nita ternyata semuanya karena Marvin, laki – laki yang sudah ia benar – benar lupakan.
“Aku minta maaf jika aku salah padamu, tapi asal kamu tahu aku dulu tidak pernah benar – benar menyukainya bahkan dia yang datang sendiri padaku. Beruntung kamu tidak bersamanya, dia hanya laki – laki pemaksa dan jahat yang hanya ingin hasratnya terpenuhi dan aku putus gara – gara itu semua. Jika kamu tak percaya silakan kamu cek sendiri, aku tidak mau ada masalah lagi denganmu.” jelas Shita panjang lebar.
“Kau benar – benar. Dan untuk masalah Marvin aku memaafkanmu tapi kita tidak akan bisa jadi teman karena aku sudah memiliki perasaan untuk orang lain” ucap Nita meneguk minuman yang ada di depannya.
“Baik terserah kamu saja, aku harus segera pergi. Ah iya aku lupa apa kau juga menyukai dokter Andi? Aku sarankan pertahankan perasaanmu pada satu laki – laki yang ada dihatimu, juga tidak susah untuk menaklukan dokter Andi karena ia pribadi yang penyayang.”
Shita pun melangkahkan kakinya keluar dari restoran menuju ke apartemen milik Rendra untuk mengisi memori dan mengingat dengan baik kenangan mereka. Ia terus menangis sepanjang malam di kamar Rendra.
Sehari sebelum kepergian Shita.
Semilir angin yang begitu sejuk membangunkan Shita dari lelap dan lelahnya karena menangis semalam. Dengan cepat
“Halo Nana, kamu dimana? Bisakah kamu menemuiku di apartemen Rendra sekarang kau juga bisa mengajak Anna. Aku sedang rindu kalian” ucap Shita setelah sahabatnya itu mengangkat panggilannya.
“Bukankah kamu sedang di Bali, hei tunggu sebentar apa kamu sudah kembali? Lalu bagaimana keadaan om sekarang?” cerca Nana.
“Kemarilah jika kau ingin tahu, aku akan menceritakan semuanya. Jangan lupa bawa makanan karena aku sangat sangat lapar dan malas untuk membuat makanan” ucap Shita seraya mematikan panggilannya.
“Aku harus mandi dan membasuh wajahku agar dua orang itu tak melihat wajahku yang seperti ini”