
"Kita harus bergegas aku takut tuan muda datang cepat hari ini"
"Baiklah, kau boleh membantu temanmu tapi ingat dengan kondisi tubuhmu Rina"
"Tentu, terima kasih telah mengingatkanku" ucap Rina tersenyum menatap Deni suaminya,
Beberapa menit kemudian mereka sudah selesai dengan apa yang mereka lakukan lalu keluar menuju pintu belakang sesuai instruksi Wita. Tampak disana Wita dan Fredy sudah menunggu kedatangan ketiganya.
"Kalian sudah siap? Juga tidak tertangkap kamera dan tidak ada yang melihat kalian?”tanya Wita, “Tapi kenapa kamu tidak membersihkan sisa darah di kaki Shita Rina" tambahnya tepat setelah wanita itu menelisik dari atas tubuh Shita hingga bawah dan menemukan apa yang masih tersisa.
"Tidak ada waktu lagi ibu 2 jam lagi tuan muda akan datang untuk makan siang kita tidak tahu apakah dia akan pulang melihat kondisi Shita jika itu terjadi kita tidak akan bisa menyelamatkan dia. Lihatlah wajahnya sudah pucat sekarang kita harus bergegas atau Shita akan dalam bahaya ibu" ujar Rina cepat, ia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada sahabatnya itu.
"Baiklah ayo kita pergi Wita, Deni kamu bantu Rina membawa nona Shita" mereka membawa satu persatu apa yang sudah mereka persiapkan namun tepat ketika mereka melewati pertigaan jalan langkah mereka tercekat mendengar seorang laki - laki meneriakinya,
"Apa yang kalian lakukan? Mau kalian bawa kemana wanita itu" teriak seorang laki - laki tepat di belakang mereka.
Wita menelan kasar ludahnya mengapa hal baik yang ia lakukan selalu saja gagal untuk mereka selesaikan.
"Kalian jangan hiraukan laki - laki itu fokuskan pikiran kalian untuk menyelamatkan nona Shita biar aku yang menghadapi laki - laki itu. Sekarang pergilah kabari aku secepatnya dimana kalian membawa nona Shita" ucap Wita pada ketiganya, mereka menganggukkan kepala mantap. Mereka percaya jika Wita bisa mengatasi kehadiran laki - laki asing di belakang mereka.
"Kalian mau bawa kemana wanita itu, aku bertanya kenapa kalian tidak menjawabnya" teriaknya lagi.
"Tidak perlu berteriak lagi tuan, ini sama sekali bukan urusan anda jadi anda tidak perlu ikut campur. Jangan pernah mencampuri urusan orang lain" tegas Wita, ia meneriaki kembali laki - laki itu.
"Bagaimana aku tidak ikut campur hal ini berkaitan dengan hukum juga kejahatan dengan kau membawa seorang wanita berlumuran darah. Apa kalian ingin membunuhnya? Ah tidak jika ku lihat ada darah di kakinya apa kamu berniat menggugurkan bayi yang ada di kandungan wanita itu? Aku bisa saja melaporkan semuanya dan menuntut kalian yang membawanya pergi lalu membunuhnya, itu yang kamu inginkan? Orang lain pun akan berpikiran sama denganku" ucap laki - laki yang kini mendekatinya hingga membuat wajah Wita pucat pasi. Benar apa yang dikatakan olehnya, jika orang lain melihat pun pasti sepemikiran dengan apa yang di ucapkan laki - laki itu.
"Aku hanya berniat menolongnya" lirih Wita pelan sembari menundukkan kepala. "Aku ingin membantu wanita itu, menyelamatkannya dari bahaya dan juga wanita itu tidak sedang mengandung entah apa yang di berikan oleh majikanku hingga membuat darah segar mengalir begitu saja. Wanita itu calon istri majikanku namun sayangnya ia telah memiliki kekasih dan ia ingin kembali pulang ke Indonesia. Wanita itu ingin terbebas dari jerat majikanku yang kejam memaksa dan menemui keluarganya yang juga sedang sakit aku ingin membebaskan keluargaku juga dari majikanku. Aku tak ingin mati sia – sia"
"Indonesia? Aku orang Indonesia jadi aku menawarkan diri untuk membantu kalian kalau ucapanmu sungguh - sungguh. Mendengar dari apa yang kamu katakan bisa aku pastikan jika kondisi wanita itu sangat lemah bisa saja ia mengalami perdarahan dalam dan hanya sebagian kecil merembes keluar" terka laki - laki itu lagi.
Wita menatap lekat laki - laki di hadapannya,menerka dari ujung kepala sampai ujung kaki namun apa yang ia lakukan justru membuat laki - laki di hadapannya mengerutkan dahi.
"Aku adalah seorang dokter jika pertanyaan itu yang berada di pikiranmu. Aku tahu apa yang wanita itu alami walaupun bukan spesialisasiku di bidang kandungan. Ini kartu namaku jika kamu memang ragu dengan identitasku, mari kita bergegas sebelum sesuatu yang buruk terjadi padanya kita bawa dia ke rumah sakit milikku" ucapnya lagi setelah ia menyerahkan kartu identitas pada Wita. Sekilas Wita melihat entah mengapa ia percaya dengan apa yang di ucapkan laki - laki yang sudah melenggang jauh mengambil mobilnya.
"Baiklah kita susul mereka sepertinya mereka belum pergi terlalu jauh"
Laki - laki itu berlarian menuju mobil dan bergegas mengajak Wita mengejar Rina, Fredy juga Deni yang sudah tak nampak lagi bayangnya. Wita mengambil ponsel mencari kontak Fredy dan segera meneleponnya.
"Sayang kamu sudah sampai mana? Aku mengejarmu tapi aku tak menemukanmu" ucap Wita setelah panggilan
tersambung.
"Tunggu aku sebentar lagi jaga nona baik - baik"
Tuutt
"Apa yang di katakannya?" tanya Prayoga, laki - laki yang kini tengah sibuk mengemudi tepat berada di sebelah Wita.
"Kondisinya memburuk kita cari mereka di depan ruko putih dekat persimpangan utama jalan" ucap Wita, “Aku ingin bertanya mengapa kamu mau membantu orang lain yang sama sekali tidak kamu kenal. Bukankah kamu terlalu baik jika sekedar melakukan hal ini”
“Menolong orang tidak di lihat dari seberapa ringan dan berat apa yang di alami oleh orang lain tapi dari apa yang ia lihat pada orang itu. Aku sudah di sumpah untuk tidak mempedulikan bagaimana status, ras dan dari golongan mana orang yang aku temui dan benar – benar membutuhkan bantuan. Yang aku tahu aku hanya ingin menolong dan menolong lagi, itu pula yang di ajarkan oleh sahabatku di Indonesia dulu.” Ucapnya pelan namun apa yang ia katakan bisa di dengar jelas oleh Wita. “Pakai sabuk pengamanmu”
Tanpa menunggu lagi, laki - laki yang bernama Prayoga itu menancap gas dengan cepat, menghalau semua mobil yang menghalangi jalannya. Tak berapa lama mobil putih berhenti di depan empat manusia yang berada di tepi jalan.
"Masuklah dokter prayoga akan membantu kita membawa nona Shita menuju ke rumah sakit dan membantu kita pergi juga cepatlah" teriak Wita dari dalam mobil. Prayoga yang mendengar teriakan Wita dengan jelas menelan ludahnya kasar. Tanpa menunggu lagi Deni dan Fredy memapah tubuh Shita memasuki mobil putih itu bersama Rina.
"Kau bilang apa, katakan sekali lagi siapa nama wanita itu" ucap Prayoga lirih. Ia menepis segala kemungkinan yang ada di pikirannya mengingat kalimat yang terlontar dari bibir Wita.
"Nama wanita yang di bawa suami dan menantuku adalah Shita, lebih tepatnya Akshita dari Indonesia" tegas Wita. Ia merapikan baju serta rambut Shita yang nampak berantakan di belakang tempat duduknya.
Jdeeerrrr
Hati dan pikiran Prayoga yang tidak sinkron membuatnya menancap pedal gas mobil miliknya dengan kecepatan di atas rata - rata hingga membuat Wita juga Rina berteriak kencang bahkan kecepatan mobilnya sampai 100km/jam.
"Kau bilang namanya Akshita apa dia Akshita yang sama dengan wanita yang ada di foto dalam box di depanmu" teriak Prayoga. Wita yang mengerti dengan maksud laki - laki yang ada di sampingnya segera membuka box yang di maksud terlihat banyak foto - foto yang di dalam sana, "Ya dia adalah wanita yang sama. Wanita yang ada di foto dengan wanita yang ada di belakangmu saat ini" tegas Wita.
Kata - kata tegas Wita membuat Prayoga semakin kalang kabut. Ia menancap pedal gasnya lagi dan lagi membuat mobil itu melaju sangat kencang hingga tak berapa lama mobil itu sampai di depan emergency unit rumah sakit besar yang ada di kota London.
Prayoga bergegas turun dan memapah tubuh Shita memasuki ruang emergency di susul keempat yang lainnya.
"Berikan yang terbaik untuk wanita ini panggil dokter Edwin katakan padanya aku membutuhkan bantuannya kali ini cepatlah bertindak jika kalian tidak ingin pekerjaan kalian menjadi taruhannya aku ingin dia segera di diagnosis dan di beri perawatan dalam waktu 5 menit" teriaknya memecah keramaian yang ada disana. Beberapa perawat juga dokter yang menyadari kehadiran Prayoga segera menghampiri dan memeriksa wanita yang tengah di gendongnya.
"Kami akan melakukan yang terbaik" ucap dokter obgyn bernama Edwin yang baru saja datang, "Tuan bisa menunggu di luar" ucapnya lagi. "Aku tak bisa menunggu lebih lama Edwin, segera berikan pertolongan padanya” Edwin menganggukkan kepala berlalu menuju dimana Shita di letakkan.
Terlihat kekhawatiran di wajah lima orang yang tengah menunggu kepastian keadaan Shita di dalam sana, Prayoga yang sedari tadi tak tenang pun tak luput dari perhatian Wita juga Rina.
"Apa kalian saling kenal?" tanya Rina basa basi. Ia melihat kekhawatiran teramat jelas di wajahnya namun pertanyaan asalnya berhasil membuat langkah Prayoga terhenti namun tak membuatnya menjawab apa yang ditangakan Rina.
"Aku bertanya padamu tuan apa kamu mengenal sahabatku Shita jika kamu tak mengenalnya mengapa kamu terlihat sangat khawatir pada sahabatku"
"Hubunganku dengannya lebih dari apa yang kalian bayangkan"