
Kantor pusat TSanjaya Grup, London.
Kriingg kriingg
“Halo Tuan, paketnya sudah sampai di kediaman keluarga Jaya. Saya juga melihat pak Rendra dan nona Shita keluar dari kediaman Jaya tuan” lapor seorang laki – laki utusan Arya pada Tomy.
“Hahahaha kerja bagus, biarkan mereka melihat apa yang ada disana. Terus awasi Shita juga keluarga Jaya” Ucap laki – laki yang masih sibuk menggoyangkan segelas wine ditangannya.
“Baik tuan”
Tuutt
“Rendra setelah ini hidupmu akan hancur, kita lihat saja apa yang akan terjadi sekarang nikmati dulu apa yang aku berikan padamu sekarang. Perlahan – lahan aku akan menghabisimu”
Laki-laki itu memegang sebuah map coklat yang berada diatas meja.
Flashback on
“Tom, tomy maafkan kakak. Sungguh kakak tidak sanggup jika harus seperti ini, aku hanya ingin sembuh seperti Rendra tapi kenapa sangat sulit rasanya. Dan jangan salahkan perempuan itu juga Tomy, dia tak bersalah, Rendra juga tidak bersalah. Kita bertiga adalah korban dari keegoisan hati masing – masing Tomy. Jaga papa dan mama juga perusahaan kakak, uhukk uhukkk”
“Kakak jangan pergi bertahanlah. Mereka yang salah jangan membelanya lagi aku sudah tahu semuanya kak” ucap seorang remaja dewasa sedang menggenggam tangan seorang laki – laki dewasa dengan buih di mulutnya.
“Kamu tidak tahu ceritanya Tomy, ingat ucapan kakak. Uhuukk uhuukk jaga dirimu baik – baik”
Setelah mengucapkan semua itu terdengar sebuah tarikan nafas pendek dan cepat menandakan jika laki - laki itu membutuhkan oksigen.
“Kakak, kakak bangun. Kenapa kakak bisa seperti ini? Kenapa kakak meninggalkan aku dan semuanya kak? Aku takkan tinggal diam, tunggu saja Rendra. Lihat apa yang akan aku lakukan padamu”
Teriakan laki – laki itu begitu menggema di dalam apartemen milik kakak laki – lakinya yang bernama Andika alias Silvi
“Dokter, dokter tolong kakak saya dokter jika kalian tidak bisa menolongnya saya hancurkan rumah sakit ini” teriakan Tomy begitu menggelegar hingga membuat riuh rumah sakit yang ia datangi setelah berhasil membawa tubuh laki – laki itu keluar dari apartemen.
Flashback Off.
“Aku takkan membiarkanmu bahagia apalagi memiliki seseorang yang aku cintai. Sampai kapanpun Shita hanya akan menjadi milikku” kata Tomy sebelum meneguk wine yangsedari tadi berada ditangannya.
---
Setelah kepergian dua manusia itu, Mirna kepala asisten rumah tangga yang bekerja dirumah Hendra selama 30th datang menghampiri keluarga Jaya yang berada di ruang tamu.
“Maaf tuan besar nyonya, saya hanya ingin menyerahkan titipan dari pak Indra, tadi map ini ditemukan di pos satpam namun pak Indra tidak tahu siapa pengirimnya tuan, silakan” kata Mirna seraya meletakkan map itu di atas meja dan pamit untuk kembali. Indra adalah satpam yang bekerja di kediaman keluarga Jaya.
Hendra yang sama sekali tak menaruh rasa curiga membuka map itu dengan santainya. Mata Hendra terbelalak tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Ratna dan yang lainnya pun penasaran apa yang dilihat oleh Hendra sampai ia kaget seperti itu.
“Oh Tuhan, apa maksudnya ini perbuatan siapa ini?” kata Ratna yang sama kagetnya seperti Hendra. Nana penasaran dengan apa yang ada di map itu hingga ia merampas map yang ada ditangan Hendra dengan cepat.
“Apa itu ma? Apa maksudnya?” tanya Nana yang memang tak mengerti isi map itu.
“Ini semua masa lalu kak Rendra dik masa lalu kakakmu yang tak kita diceritakan padamu sejak dulu” kata Dharma tertunduk lesu. Bagaimana bisa semua itu datang lagi dalam kehidupannya setelah 18 tahun hidup mereka begitu nyaman.
“Apa? Mengapa kalian tidak menceritakan semuanya padak dan siapa ini?” tanya Nana bertubi – tubi.
Ratna memberanikan diri menceritakan masalalu Rendra pelan – pelan agar wanita itu tak syok dengan apa yang akan dikatakannya. Tetes demi tetes air mata Nana jatuh kala mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang di katakan oleh Ratna ibunya.
“Kak Dharma, bagaimana ini? Cari tahu kak siapa yang ngirim ini jika Shita tau dan ninggalin kak Rendra gimana kak. Aku gak mau kak Rendra balik seperti dulu, aku gak mau kak. Aku gak mau” cicit Nana yang kini sudah menangis dipelukan Dharma.
“Bagaimana kaka-
“Mama, mama jangan sedih dulu. Doakan Rendra agar dia tidak seperti dulu ma. Cuma mama yang bisa menenangkan Rendra jika ia kembali seperti itu lagi, jadi mama harus kuat ma. Kuat demi kita juga ma” tambah Hendra yang kini memeluk istrinya yang sedang menangis.
Suasana hangat dan ceria dalam keluarga hilang begitu saja dalam sekejap mata, hanya ada keheningan dan kesedihan di dalamnya.
Mobil Rendra baru saja lobby apartemennya. Mereka berdua turun dan menaiki lift menuju ke lantai paling atas tempat dimana apartemen Rendra berada.
“Sayang, kamu istirahatlah aku masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan jadi selama di Bali kita bisa bersenang – senang tanpa memikirkan pekerjaanku” kata Rendra setelah mereka berada di dalam apartemen.
“Baiklah, aku akan beristirahat setelah aku membuatkan minuman hangat untukmu. Kamu ke kamarmu saja terlebih dulu aku akan menyiapkannya sekarang” ucap Shita yang kemudian berlalu dari hadapan Rendra menuju ke dapur.
Di dalam kamar Rendra yang sudah mengganti bajunya duduk di sofa kecil yang ada di sana dengan laptop yang sudah di hidupkan dan setumpuk map juga berkas yang harus ia periksa. Masih saja ia memikirkan apa yang dikatakan oleh papa nya tadi.
‘Haruskah aku memberitahu yang sebenarnya pada Shita, kejujuranku yang tadi saja sudah membuatnya merasa di khianati seperti itu lalu bagaimana jika aku mengatakan semuanya, akan seperti apa reaksi Shita nantinya?’ ucapnya dalam hati sampai ia tak menyadari air matanya menetes membasahi kedua pipinya.
Begitu berat hatinya, begitu sakit perasaannya mengingat apa yang dialami oleh Shita karena kebenaran yang ia tutupi dari kekasihnya.
Tok tok tok
Rendra begitu terkejut dengan suara ketukan pada pintu ia menepis air matanya dengan kasar agar tidak dilihat oleh kekasihnya dan menetralkan kembali perasaannya sebelum membuka pintu.
Ceklek
“Masuklah sayang” katanya pada Shita yang tengah berdiri di depan pintu membawa nampan dengan secangkir kopi kesukaannya.
Shita melangkah masuk ke dalam kamar Rendra diikuti oleh laki – laki itu di belakangnya. Ia melihat laptop dan tumpukan map di meja sofa dekat ranjang Rendra.
“Kopinya aku letakkan disini ya sayang” ucap Shita yang telah selesai meletakkan apa yang ia bawa di atas nakas ranjang yang memang bersebelahan dengan sofa. “Kamu jangan terlalu larut ya tidurnya, jaga kondisi juga besok kita masih ada perjalanan dan kegiatan selama 3 hari ke depan” tambah Shita yang kini duduk tepi ranjang menghadap Rendra.
“Iya sayang, terima kasih untuk kopi juga perhatiannya. Shita bolehkah aku bertanya padamu?” tanya Rendra yang kini beralih menatap wajah kekasihnya setelah beberapa lama melihat berkas yang ada ditangannya.
“Tanyakan apa yang mengganggu pikiranmu sayang” ucap Shita dengan senyuman manisnya hingga Rendra yang melihat itu membalasnya juga dengan senyuman.
“Apa kamu akan meninggalkan aku nantinya jika seandainya aku bukan lelaki sempurna seperti yang dikatakan oleh orang – orang?” kata Rendra sesekali mengalihkan pandangannya ke arah jendela setelah melontarkan kalimat itu dan kembali melihat wajah Shita.
Shita sedikit terkejut dengan apa yang ditanyakan Rendra karena ia tak pernah melihat Rendra seserius itu bahkan saat hari dimana Rendra melamarnya pun wajahnya tak seserius malam ini.
“Apa yang coba kamu tanyakan sayang? Bukankah kamu bertanya dan aku harus menjawabnya jadi mengapa tak kamu cari jawabannya di mataku. Apa selama ini kamu tidak pernah merasakan semua tindakan yang aku lakukan padamu tapi jika kamu mengecewakanku dan mendengar yang aneh tentangmu sudah pasti aku akan meninggalkanmu saat itu juga” ucap Shita seraya beranjak dari ranjang dan pergi dari kamar Rendra.
Rendra yang mendengarkan apa jawaban Shita semakin meredam keinginannya untuk mengatakan masa lalunya yang begitu menyakitkan. Ia mengusap dengan gusar kepalanya, prustasi dengan apa yang dialami saat ini ingin rasanya ia berteriak namun ia takut membuat Shita ketakutan seperti tadi di rumah orang tuanya.
Dikamar berbeda Shita merenungi apa yang ditanyakan tadi oleh Rendra merutuki kebodohannya mengapa ia berkata seperti itu atas pertanyaan Rendra. Namun tak bisa ia pungkiri juga jika hatinya sedikit sakit karena kebohongan yang di perbuat oleh Rendra. Ia pun membaringkan tubuhnya diatas kasur king size yang ada dikamar yang memang Rendra buat khusus untuknya dengan segala perlengkapan yang Shita butuhkan.
Cukup lama Shita tidak bisa memejamkan matanya teringat pertanyaan Rendra dan kata – kata Nana hingga ia memilih untuk memainkan cincin yang melekat di jari manisnya pemberian Rendra saat hari dimana laki – laki itu melamarnya dan membuat Shita bisa tertidur dengan nyaman setelahnya.
Maaf untuk keterlambatan Up nya.
Karena sebelumnya episode kemarin ada unsur dewasanya dan itu menjadi pertimbangan dari pihak MT untuk menerbitkan episode barunya jadi sudah saya ganti secepatnya.
Maaf sekali lagi ya teman - teman.
Jangan lupa untuk terus dukung karya saya ya.
terima kasih :)