Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 53



Tok tok tok


Ceklek


"dokter Shita bolehkah aku masuk?" sapa laki - laki yang tadi mengetuk pintu dan masuk ke ruangan Shita.


"Kamu siapa?" tambahnya.


"Aku Rendra, dan kamu siapa? Untuk apa memanggil dr. Shita?” tanya Rendra pada laki - laki yang masih setia berada di antara pintu.


"Bukankah ini ruangan dokter Shita? Kau yang ada urusan apa datang kemari. Aku dokter Andi. Calon pacarnya dokter Shita." jawab laki - laki itu dengan penuh penegasan.


‘Apa laki - laki ini menyukai wanita ku? Tapi maaf bung, sudah ku pepet duluan. Dan sekarang dia adalah wanitaku, memang sekarang masih pacaran atas permintaan wanitaku, tapi kami akan segera bertunangan dan menikah. Kita lihat siapa yang akan dipilihnya nanti ketika wanitaku sudah datang kemari’ gumam Rendra dalam hati yang diiringi senyum miringnya.


"Oh calon pacar dokter Shita. Kau tidak tahu siapa aku? Kamu mencari dokter Shita? Dia bilang kepadaku jika dia sedang ada jadwal mengoperasi pasien. Jika kau tak keberatan kau boleh menunggunya disini, karena aku juga sedang menunggunya." ucap Rendra dengan santai sembari duduk kembali disofa setelah kedatangan dr. Andi.


‘Memangnya kamu siapa, sok kenal dengan dokter Shita. Mungkin laki – laki ini hanya pegawai kantoran biasa jika dilihat dari pakaiannya. Tidak sadar juga laki - laki ini, dilihat dari segi apapun aku yang paling layak untuk dokter Shita’ gumam dokter Andi menatap sengit Rendra.


Dokter Andi mendekat dan duduk ditepian sofa. Ia berusaha sangat keras untuk menetralkan debaran jantungnya sebelum menemui dr. Shita dan mengungkapkan isi hatinya.


Tak berselang lama, dr. Shita kembali ke ruangannya setelah operasi, mengganti baju dan mengenakan jas dokter sebagai tanda pengenal. Shita teringat dengan kata - kata Rendra yang ingin menunggu diruangannya.


Dengan langkah cepat ia meninggalkan ruang operasi menuju ruangannya berharap Rendra masih menunggunya disana.


Ceklek


2 pasang mata yang berada didalam ruangan itu seketika menoleh ke arah pintu yang dibuka dari luar. Terlihat hanya satu kaki Shita yang menginjak ke dalam ruangan itu menyusul kemudian suara khas Shita yang terdengar di telinga kedua laki - laki itu.


"Rendra, kamu masi-


"dr. Andi?” Shita tampak bingung dengan kehadiran dokter laki - laki itu, dokter Andi yg notabene tak pernah menemuinya secara langsung kini berada di ruangan dokter Shita.


dr. Andi terdiam kala dr. Shita menyapanya. Rendra yang mengetahui gelagat dan niat dr. Andi berdehem menetralkan situasi diruangan itu.


“Ehhmm”


"Hai dr. Shita. Bagaimana operasinya tadi?" Tanya dr. Andi menahan gugupnya pada wanita yang baru saja duduk


dikursi belakang meja.


"Lancar dan sukses dr. Andi. Oh ya ada urusan apa kemari?" Tanya Shita pada laki - laki yang kini berdiri di depan mejanya.


Dengan gugup dan terus memperhatikan laki - laki yang sedari tadi mengawasinya, dr. Andi merasa enggan untuk membicarakan maksud dan tujuan keberadaannya diruangan itu pada dr. Shita.


Wanita yang tengah meneguk minuman yang berada diatas meja dan melirik gelagat laki – laki yang sedari tadi berdiri di depan mejanya tampak begitu gugup dan mengawasi tingkah kekasihnya yang menatap tajam pada dokter Andi dan sedang duduk di sofa ruangan itu.


“Ah ya dr. Andi ingin membicarakan apa? Setahu saya tak ada masalah dengan pasien yang kita tangani bersama. Jika kehadiran laki – laki itu mengganggu, Anggap saja dia yang duduk disofa itu tidak ada. Dia memang terbiasa untuk tak terlihat, seperti jailangkung datang dan pergi sesukanya.  Jadi dr. Andi bisa dengan santai mengutarakan apa maksud dan tujuan datang kesini. Saya juga tak memiliki banyak waktu luang hari ini.” ucap Shita dengan lembut namun terdengar begitu dingin ditelinga kedua laki – laki itu.


“Maafkan saya dr. Andi, tapi hari ini jadwal saya sangat padat dan tidak tahu kapan luangnya. Anda juga tahu kan seperti apa jadwal saya. Karena saya sekarang sangat lelah bisakah saya beristirahat?” ucap Shita sembari memegang lehernya dengan wajah yang tampak kelelahan.


‘benarkan perkiraanku, wanitaku memang begitu cantik dan pintar’ gumam Rendra menyeringai tersenyum puas mendengar ucapan Shita.


“Baiklah dokter Shita, saya harap dokter mau mempertimbangkan ajakan saya lain kali.


Saya permisi.”


Mendengar ucapan Shita, dr. Andi memutuskan untuk keluar dan membiarkan wanita itu beristirahat setelah melakukan operasi yang begitu berat. Setelah kepergian dr. Andi, Shita mulai bangun dari kursinya melangkah menuju sofa dan duduk disamping laki – laki yang sejak tadi menunggunya.


“Kau sudah lama disini sayang?” tanya Shita dengan menyandarkan kepalanya di pundak Rendra.


“Sebelum makan siang aku sudah disini. Kau tampak lelah, apa operasi tadi menghabiskan tenagamu? Operasi macam apa yang kamu lakukan sayang, Mau aku pijat?” tanya Rendra melirik kekasihnya dengan ujung mata. Shita hanya mengangguk menanggapi pertanyaan kekasihnya.


Rendra terkekeh kala melihat Shita menganggukkan kepala dengan mata terpejam. ‘Sungguh manis dan cantik.’gumamnya.


Dengan sedikit memutarkan bahunya dan menyampingkan kepala Shita dan meletakkan kepala Shita pada dada bidangnya, Rendra meraih kedua pundak wanitanya dan mulai memijat secara perlahan. Ia benar – benar bukan Rendra yang biasa. Ia benar – benar berubah begitu drastis jika mengenai wanita yang kini menyandarkan kepala di dada bidangnya.


“Shita sayang, kau tak lapar? Jangan tertidur seperti ini dengan perut kosong, kau bisa sakit perut nanti. Aku membawakan makanan kesukaanmu. Tadinya aku ingin makan siang bersamamu dan ku kira operasimu tak banyak memakan waktu. Makan sekarang ya sayang.” ucap Rendra pada wanitanya sambil mengangkat 2 kantung berisi makanan yang ia beli tadi.


“Aku sudah bilang ada operasi kan, mengapa kamu bersikeras datang kesini. Jangan salahkan aku jika kamu menunggu terlalu lama.” jawab Shita dengan kesal.


“Aku hanya ingin melihatmu Shita, aku rindu padamu. Apa kau tak rindu padaku? Aku juga ingin makan siang denganmu, aku sudah mengatakannya sebelum kamu operasi bukan?” tanya Rendra yang kini menatap wajah Shita.


Mata Shita terbuka perlahan, mata yang sedari tadi begitu lelah kini menatap dengan lekat manik mata laki – laki


dihadapannya. Dengan cepat laki – laki itu mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu ditelinga wanita itu, “Bolehkah aku menciummu Shita? Aku begitu rindu padamu.” tanya Rendra lembut terdengar lirih ditelinga wanitanya.


Blussshh


Wanita itu begitu terpana dengan laki – laki yang menjadi sandarannya, ‘tampan’ gumam Shita. Tanpa ia sadari ia


menganggukkan kepala mendengar pernyataan laki – laki yang begitu dekat ditelinga hingga bisa ia rasakan hembusan nafasnya yang begitu hangat.


Mendapat respon positif dari wanitanya, Rendra kini mendekatkan wajah dan mengecup bibir wanita itu. Tak hanya mengecup, ia juga ******* dengan lembut bibir yang terasa begitu manis dan belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Shita hanya terdiam tak merespon ciuman Rendra namun begitu Rendra menaikkan dengan intens ciumannya wanita itu akhirnya membuka mulutnya hingga Rendra bisa dengan leluasa menyesap dan mengabsen seluruh komponen yang ada dibibir wanita itu.


Laki – laki itu meraih leher belakang wanita itu dan sedikit mendorong agar leluasa membuatnya bisa menikmati ciuman mereka.


‘Apa ini, aku tak bisa mengikuti gerakan yang sangat cepat, ini pertama untukku namun aku begitu menyukainya’ ucapnya dalam hati.


Kini Shita bisa merasakan bagaimana rasanya berciuman dengan laki – laki tanpa pemaksaan. Yang ada hanya kelembutan dan dan segala hal yang telah diyakini olehnya. Dirasa pasokan udara kedua insan itu hampir habis mereka melepas ******* pada bibir masing – masing.