
“Wanita ****** berani – beraninya kamu mendekati kekasihku\, aku yang berhak atas Rendra. Rendra mengapa kau
menghancurkan semua yang aku miliki, aku mengaku salah tapi kau tak seharusnya seperti ini padaku.” Teriak wanita itu yang tak lain adalah Tara menghampiri tempat Shita berdiri. Semua tamu berbisik – bisik setelah mendengar ucapan Tara.
“Jadi perempuan itu merebut tuan Rendra dari tunangannya?” tanya seorang wanita setengah berbisik pada teman wanitanya.
“Kasian juga mantan tunangannya menjadi seperti orang gila” ucap yang lain.
“Bukankah dia model itu? Dulu aku pernah dengar berita jika hubungan keduanya sudah berakhir sebelum ini
“Makanya kau harus menjaga penampilanmu saat sudah memiliki kekasih, takutnya akan di ambil seperti tuan Rendra”
“Bukankah model itu kepergok bersama laki – laki lain saat masih bersama tuan Rendra”
Masih banyak omongan orang lain yang mampu didengar oleh telinga Rendra begitupun dengan semua yang berada disana. Para awak media pun tak henti – hentinya mengambil potret. Merasa ada awan hitam menyelimuti wajah Rendra.
“Dengar Tara, aku tak merebut kekasihmu tapi kamulah yang menyianyiakan perasaannya padamu, kamulah yang berkhianat padanya dulu tapi mengapa kau malah mengatakan aku yang merebutnya darimu?” Bela Shita.
“Bawa dia keluar. Aku tak ingin ada serangga dan seekor semut pengganggu di acara pentingku ini” ucap Rendra dengan pandangan tajam dan terlihat kilatan marah dimatanya.
“Lepaskan\, lepaskan aku. Ingat ****** aku takkan membiarkanmu bahagia diatas penderitaanku. Cuhhh\, camkan itu. Matilah kau ******” teriak Tara yang kemudian ditarik paksa keluar dari pesta.
“Ahahaha, maaf bapak dan ibu – ibu karena ada insiden tak menyenangkan jadi pesta ini akan saya tutup. Terima kasih atas waktu dan perhatiannya” ucap sang pembawa acara setelah mengerti dengan instruksi yang diberikan oleh Rian.
“Bapak, ibu” gumam Shita melihat ke arah orang tuanya tampak khawatir dengan apa yang sedari tadi terjadi.Sorot mata keduanya terlihat seperti mengatakan ‘Kami mempercayaimu sayang’
Kepergian para tamu lagi - lagi membuat riuh tempat berlangsungnya acara, Hendra yang melihat kejadian itu segera menghubungi asistennya menekan awak media untuk tak memberitakan kejadian yang tak terduga saat pesta berlangsung agar tak mempengaruhi harga saham perusahaan.
Ratna yang menyadari situasi saat itu hanya bisa mengajak semua keluarga Shita menuju kamar deluxe dengan kapasitas 4 orang yang di siapkan khusus untuk mereka. Rendra bisa melihat betapa terkejutnya keluarga Shita atas kejadian barusan. Dengan cepat Shita dan Rendra menyusul keluarga mereka setelah sahabatnya menenangkan hati keduanya dan berpamitan untuk kembali ke rutinitas mereka.
Shita dan Rendra memasuki kamar yang ditempati oleh keluarga Shita, dengan penuh keberanian Rendra membuka pintu dan masuk berniat ingin menjelaskan tentang apa yang terjadi tadi. Rendra tak menyangka jika penjelasannya akan diterima baik oleh keluarga Shita hingga tak nampak lagi kekhawatiran dari raut wajahnya.
“Sudah kamu jelaskan pada keluarga Shita?” tanya Ratna was was ketika melihat Rendra sudah keluar dari kamar keluarga Shita. Rendra pun mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban jika ia bisa menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.
“Syukurlah, semoga takkan ada kedua kalinya hal seperti ini ya sayang”
Dengan cepat berita tentang Rendra dan Shita yang ditulis oleh media menjadi trending topik di sosial media. Bahkan banyak dari kaum hawa yang menyayangkan jika pebisnis muda dan tampan itu sudah memiliki calon istri hingga mereka berbondong – bonding mencari jejak akun sosial media dan mengikuti akun wanita yang menjadi tambatan hati sang pangeran bisnis.
---
“S***** Rendra br*****k”
Pyaarr
“Segera cari tahu di hotel mana sekarang keluarga Shita berada cari secara mendetail” teriak seorang laki – laki
terlihat guratan marah diwajahnya.
“Berani – beraninya laki – laki sepertimu mendampingi wanita itu\, mengapa kau tak belajar dari kesalahanmu dan masa lalumu hah\, s*****. Kita lihat sampai dimana kamu bisa mempertahankan semua ini” geramnya.
“Tuan, tuan, keluarga Shita berada dihotel pertama yang dibangun oleh keluarga Jaya. Mereka menginap disana selama 2 hari dan ada keributan saat pesta berlangsung yang dilakukan oleh wanita bernama Tara” ujar sang asisten dengan kepala menunduk.
“Kau boleh pergi dan cari tahu wanita itu, aku akan menyelesaikan sendiri urusanku” sahut laki – laki yang kembali duduk di kursinya.
“Bukankah kita akan menjalankan rencana A untuk mereka?”
“Rencana A sudah kita mulai saat kamu mengirim proposal kerja sama dengannya. Aku melakukan ini agar Shita mengingatku. Ingat kirimkan perkembangannya padaku”
“Baik tuan”
Tak terasa hari mulai malam, Shita sedari tadi berbincang dengan keluarganya menceritakan bagaimana ia bisa bertemu dengan laki – laki yang saat ini menjadi tunangannya dan menanyakan pada keluarganya kenapa ia bisa mengenal Rendra.
“Dia datang 2 hari yang lalu tapi hanya sebentar awalnya ibu tak percaya saat dia mengatakan jika dia anak pemilik tempatmu bekerja namun ia memperlihatkan foto keluarganya dan fotomu bersama rekan kerjamu. Ibu melihat dari sorot matanya begitu penuh cinta saat menyebut namamu ibu yakin jika laki – laki itu tulus padamu jadi ibu merestui siapapun pilihanmu, begitu kan pak?” ucap Widya melirik suaminya.
“Yang terbaik untukmu nak, itu berarti kamu sudah dewasa dan umurmu memang sudah siap untuk menikah jadi bapak tidak akan melarangmu. Ingat untuk selalu percaya dan menjaga, juga jujur dan saling menerima adalah kunci sebuah rumah rumah tangga yang utuh” tutur Fendra.
“Benar nak, tak peduli siapa kekasihmu itu karena yang terpenting ia mencintaimu tulus dan kamu juga mencintainya. Bukankah dua orang sama memiliki perasaan, yang benar saling mencintai begitu indah? Mengalah lebih baik dari apapun ketika kalian dalam masalah, saling terbuka juga ya sayang” ujar Widya yang membelai rambut panjang anaknya.
“Terima kasih ibu, bapak. Semoga pilihan Ita tidak salah. Terima kasih sudah menerima laki – laki pilihan Ita” sahut Shita memeluk kedua orang tua dan adiknya. Mereka larut dalam pelukan hangat itu hingga suara dering ponsel Shita menghentikannya.
“Halo”
“Selamat malam sayang, bersiaplah aku akan menjemputmu sebentar lagi. Waktumu hanya 30 menit”
Tuttt
“Cihh mengapa laki – laki itu selalu saja seenaknya sih” teriak Shita kesal kemudian beranjak dari ranjang menuju kamar mandi dan tentunya teriakan terdengar begitu keras di telinga orang tuanya. Mereka yang melihat hanya bisa menggeleng – gelengkan kepala dengan tingkah anak perempuannya.
Tingtong tingtong
“Nay, buka pintu sayang mungkin itu kakak iparmu” teriak Widya yang masih duduk bersama dengan Fendra. Mendengar teriakan ibunya Nayna beranjak dari ranjang dan membuka pintu.
Ceklek
“Kak Ren- Eh Siapa ya?” tanya Nayna sopan setelah melihat seorang laki – laki berada di depan pintu kamarnya.
“Aku teman jauhnya Shita, bisakah aku minta tolong padamu untuk memberikan ini padanya sebagai ucapan selamat ulang tahun dariku” ucap laki – laki itu dengan senyum manis.
“Teman? Ah baiklah, kau tunggu disini aku akan panggilkan kakakku. Dia baru saja mandi” sahut Nayna mengambil kotak yang diberikan oleh laki – laki itu. Nayna berlari kecil menuju tempat dimana Shita berada.
“Kak, ada yang mencari dan menunggumu cepatlah” teriak Nayna yang tentu saja didengar oleh Shita.
‘Jangan – jangan Rendra? Matilah aku, aku harus cepat - cepat’ gerutu Shita yang kemudian mengambil handuk kimono untuk menutupi tubuhnya dan handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.