Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 95



Ketiga wanita itu menghabiskan waktu mereka untuk sekedar berfoto – foto ria atau menceritakan keseharian mereka.


“Coba ceritakan masalahmu dengan wanita itu Shita, aku jadi penasaran” tanya Anna tiba – tiba].


“Yahh udah lupa sekarang disuruh inget – inget, emang gimana gitu kamu ya. Aku bener – bener gak tau apa dan dimana salahku merasa mengusik pun sepertinya tidak. Sebelum aku berpacaran dengan mantanku yang kemarin dia selalu saja mengusikku. Aku saja sampai lelah dengan tingkahnya. Bahkan dia juga mengacaukan pekerjaanku” jelas Shita dengan santai meneguk minuman yang ada dihadapannya.


Ting ting


Tak tak tak


Seorang wanita baru saja memasuki sebuah restoran, Nana yang melihatnya pun diam seketika karena pintu masuk berada di hadapannya menampilkan seorang wanita yang baru saja mereka bicarakan. Nana menepuk tangan Anna berharap wanita itu mengerti dengan apa yang ia lihat saat ini.


Anna yang memang peka seketika mengikuti arah pandang Nana dan melihat seorang wanita yang ternyata adalah Nita yang sedang berdiri di depan kasir.


“Noh tu orangnya”


“Cantik sih, tapi cantikkan juga temen kita. Ya gak Na?” tanya Anna.


“So pasti dong.”


Uhukk uhukkkk


“Kalian itu ngomongin apa sih, lebih cantikan apa sih maksudnya”


“Ya ampun Shitaa, ni anak kebiasaan banget kalo udah kaget dikit aja sampe batuk – batuk. Noh liat depan kasir” cicit Anna sejurus kemudian Shita mengalihkan pandangan.


“Kalian berdua ya, gak usah banding – bandingin gitu aku sadar kok aku kan hanya sebatas upil tapi upilnya malah disukai gitu oleh pangeran yang sangat tampan, terus upilnya berubah jadi putri deh” ujar Shita hingga mengundang gelak tawa kedua sahabatnya.


“What? Mana ada upil berubah jadi Ratu, hahaha”


Tawa mereka bertiga sangat kencang hingga mengusik telinga Nita yang memang duduk tak jauh dari meja mereka.


“Dasar pelakor, udah pelakor gak usah sok baik deh. Tampangnya aja yang sok polos begitu ternyata diem – diem merayap ngambil pacar orang sembarangan” teriak Nita dari tempat duduknya hingga membuat semua pengunjung restoran menatap ke arah dimana ketiga wanita yang masih tertawa.


Sadar dengan apa yang dikatakan oleh Nita yang mengatai sahabatnya Nana beranjak dari duduknya dan menghampiri wanita yang sedang asyik mengunyah sandwich.


“Siapa yang lu sebut pelakor? Emang lu udah nikah ampe lu katain sahabat gue pelakor juga ngerebut pacar lu? Ngaca dong lu” teriak Nana hingga membuat riuh suasana restoran.


“Hei udah dong, daripada ngeributin hal gak jelas dari mulut ni orang gak bakalan habis. Mungkin dia nya yang memang pelakor lalu limpahin ke aku, jadinya gini. Yuk pergi aja”


Srraassshh


Nita yang tak terima dengan apa yang dikatakan Shita melemparkan milkshake yang ada dalam gelas dihadapannya namun dengan sigap wanita itu menghindar hingga membuat rambut dan pakaian yang di kenakan oleh pelayan yang sedang lewat di belakang Shita basah seketika. Nana dan Anna yang melihatnya begitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Nita.


“Kau cari masalah dengan sahabatku, itu sama saja berurusan denganku” geram Nana menatap tajam Nita.


“Aku tidak takut padamu” jawab Nita santai.


Baju Shita hanya terkena sedikit minuman yang dilempar oleh Nita namun bisa membuat lengan kanannya sedikit lengket.


“Kamu nyiram aku? Lalu sekarang aku tanya masalahmu denganku kenapa kamu sampai segininya padaku?” tanya Shita yang masih bisa bicara baik – baik jika bukan karena perkataan Rendra mungkin saja ia sudah menarik rambut juga merobek baju wanita itu.


“Lu gak sadar lu udah ngerebut gebetan gue dulu juga sekarang? Pake nanya lagi lu, sok polos sok baik gitu mukanya ternyata busuk”


Tak terima dengan hinaan Nita, mata Shita yang sedari tadi menatap pelayan yang lain membawa bekas es krim dan minuman yang masih penuh mengambil keduanya dan melempar semuanya tepat di hadapan Nita.


“Upss maaf sengaja. Tu minum dikit yang seger – seger biar otaknya gak panas kalo ngomong, inget ya kalo makan cabenya gak usah banyak – banyak biar gak kayak cabe – cabean depan kompleks kostku dulu marah –


marah gak jelas sampai nuduh orang tanpa bukti” celetuk Shita hingga membuat semua orang tertawa dengan apa yang dia ucapkan.


“Denger ya cabe kompleks, jangan kamu ngomong kesana kesini gak jelas. Aku tidak pernah merasa mengusik hidupmu, jangankan merebut gebetanmu sejak aku mulai kuliah aku tak pernah mengenalmu. Atau mungkin kamu yang suka diam – diam sama pria itu? Ciiee yang diam – diam suka, tapi aku tidak mau tahu tentangmu dan apapun masalahmu. Kalau sampai kamu terlalu mengusik hidupku aku juga tidak akan tinggal diam, paham? Ayo pergi Na,” terang Shita yang sukses membuat Nita terdiam dengan apa yang dikatakan Shita karena memang benar begitu adanya.


“Eh bentar Shita aku lupa sesuatu, tutup gih tubuhmu keliatan tuh semuanya. Malu dong” ejek Nana lagi saat ia sudah hampir dekat dengan meja tempat Anna menyaksikan perdebatan mereka diselingi tawa khasnya.


Nita segera meraih blazernya kemudian pergi dari restoran itu dengan perasaan yang tidak menentu, marah benci dan malu jadi satu.


“Belajar darimana berantem kayak gitu lembek banget kayak siput” ujar Anna yang masih saja tertawa dengan apa yang baru saja terjadi.


“Bener – bener gaya berantemnya gak kayak kita – kita Na, liat deh masih aja santai” timpal Nana melirik Shita yang ekspresinya tak berubah sejak tadi.


“Gini ya guys, kalo kita lawan dengan marah yang ada kan bener apa yang dia bilang ke kita, kalo ladenin wanita kayak gitu dan kita gak ngerasa salah buat apa pake urat gede – gede. Kalian pada tau gak gimana cabe – cabean marah yang gebetannya suka sama orang lain dan gak merhatiin dia? Ya gitu kayak wanita tadi, aku sering liatin kok. Nanti kalo ada lagi aku rekamin deh biar kalian pada nonton” ucap Shita yang membuat kedua sahabatnya menganga tak percaya dengan apa yang terlontar dari bibirnya.


“Udah ya, aku pulang dulu udah sore ini tubuhku juga jadi lengket gara – gara tu milkshake, eh mangap kali ya ampun, byee girls” tambah Shita seraya pergi dari hadapan keduanya.


Tutt tutt


“Sayang, aku sedih masa aku ditinggal oleh kedua sahabatku itu, aku ingin kamu peluk. Jemput aku sekarang, hiksss” tutur Nana saat panggilan sudah tersambung dengan sedikit drama ketika menghubungi Niko kekasihnya. Niko yang tak bisa melihat kekasihnya sedih menghentikan meetingnya dikantor hanya untuk menjemput kekasihnya itu.


Beberapa menit kemudian..


Tingting


Seorang laki – laki masuk dengan tergesa – gesa mengedarkan pandangan matanya ke seluruh penjuru restoran, menemukan hal yang ia cari dengan cepat mendatangi meja yang berada di pojok Restoran.


“Ya ampun sayang, kamu ini tadi di telepon menangis sekarang apa coba yang aku lihat, kamu sedang makan dan juga tidak membaginya denganku, keterlaluan” rajuk Niko yang kini sudah berada di depan kekasihnya.


“Kakak mau?” tanya Nana singkat dibalas anggukan yang cepat oleh Niko.


“Pesan sana, hweee”


Niko mendengus kesal dengan apa yang dikatakan Nana namun laki – laki itu sama sekali tak menampakkan wajah kesalnya melainkan wajah dengan binar bahagia.


“Makanlah yang banyak agar badanmu lebih berisi jadi aku bisa memelukmu dengan nyaman, bila perlu aku akan memesankan yang banyak untukmu” ucap Niko seraya mengelus puncak kepala Nana dan membuat rambutnya berantakan. Nana hanya membiakan apa yang kekasihnya itu lakukan karena ia pun menyukainya.


Kantor CEO Jaya Corps.


“Rian, untuk keberangkatan kita nanti apakah sudah siap semuanya?” tanya Rendra pada sang asisten.


“Sudah tuan, kita akan berangkat tepat jam 10 malam jika tak ada halangan nantinya” ucap Rian yang kini berada di hadapan tuannya.


“Bagaimana dengan kerja sama kita yang kemarin dengan perusahaan TSanjaya Grup? Suruh Desi untuk memberikan aku berkas mengenai perusahaan, selidiki lebih dalam lagi, ah ya selidiki dokter wanita yang baru saja diangkat oleh ayahku. Berikan itu secara bersamaan” tegas Rendra yang belum sepenuhnya percaya dengan orang yang waktu ini dia temui adalah perwakilan dari TSanjaya Grup juga apa yang telah diberikan oleh ayahnya itu.


“Akan saya berikan nanti saat kita sudah di tempat tujuan, saya perlu waktu untuk menyelidikinya lagi” sahut Rian menundukkan kepala.


“Gunakan akses jaringan luar negeriku, juga jangan lupa dengan para penjaga” singkat Rendra yang kemudian mengibaskan tangannya pada asistennya lalu menyenderkan tubuh lelahnya ke bagian belakang tempat duduknya.


Dreett drreett


“Halo sayang”


Wajah tegangnya beralih menjadi sangat manis saat melihat siapa yang menghubunginya.


“Kamu masih sibuk Rendra? Bisakah kamu pulang lebih cepat aku akan membuatkanmu makan malam sebelum kamu pergi” ucap Shita yang kini sedang berada dalam taxi menuju apartemen Rendra.


“Anything for you honey, aku akan pulang sekarang” sahut Rendra mematikan panggilannya dan beranjak dari kursi kebesarannya.


Rendra keluar dari perusahaan dengan memakai mobil sport warna putih kesukaannya, ia menyempatkan diri ke toko bunga membelikan hadiah untuk kekasihnya itu. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, ia melajukan kembali mobil yang ia bawa menuju apartemen. Dengan cepat ia keluar dari mobil setelah ia sampai dan menuju lift yang berada dilobby apartemen.


“Hei tampan kita bertemu lagi” ucap lirih seorang wanita yang melihat Rendra berada di lobby. “Keberuntungan memang berpihak kepadaku, aku akan membalas apa yang kamu lakukan padaku tadi” tambahnya yang kini melangkah menuju ke arah yang sama dengan Rendra.


Rendra dan wanita itu menaiki lift yang sama. Beberapa saat kemudian..


“Aduhh” teriak wanita yang berada disamping kiri Rendra memegang betis kirinya.


Rendra yang mendengar teriakan tersebut hanya menoleh ke arah dimana wanita itu berdiri. “Kau kenapa Nona?”


“Kakiku sedikit sakit, aku tak bisa berdiri dengan benar bisa kau bantu aku?” tanya wanita itu yang ternyata adalah Nita, dengan sengaja ia menyentuh lengan Rendra. Dengan cepat Rendra memegang tangan wanita itu hingga membuat Nita tersenyum penuh kemenangan.


‘Kau begitu mengagumkan tapi sayang aku hanya ingin mendekatimu untuk membalas sakit hatiku’ ucapnya dalam hati.


“Mari saya bantu Nona” ucap Rendra kemudian meletakkan tangan Nita yang sedari tadi ia pegang di tumpuan tangan yang berada di lift, “Tapi jangan memegang lengan saya seperti itu, saya tidak suka Nona dan tangan anda sepertinya sangat kotor untuk menyentuh saya” ucapnya dengan tatapan tajam penuh penegasan ketika melihat baju yang digunakan Nita nampak basah hingga pakaian dalam yang ia kenakan terlihat jelas oleh Rendra namun ekspresi laki – laki itu tidak berubah sama sekali sejak tadi. Rendra mengambil ponsel yang berada di saku celana dan memanggil pihak kesehatan yang berada di apartemen itu.


Nita begitu geram dengan tingkah laku Rendra namun tak menyurutkan semangatnya mendekati laki – laki itu.


Ting


Lift yang mereka naiki telah sampai di lantai paling atas.


“Anda bisa menunggu pihak kesehatan disini saya juga sudah menghubunginya” ucapnya kemudian berlalu tanpa melihat ke arah Nita. Wanita itu semakin kesal karena Rendra tak melihat padanya sama sekali. Dari kejauhan Nita melihat Rendra berdiri di depan sebuah apartemen tak lama pintu apartemen itu dibuka menampakkan sosok wanita yang ia benci.


“Shita\, mengapa ia bisa tinggal di apartemen ini? Atau jangan – jangan laki – laki itu yang memilikinya? Wahh sungguh lelaki yang sempurna\, jika saja ia juga merupakan CEO pemilik perusahaan besar aku takkan melepaskannya begitu saja. Aku takkan peduli lagi dengan perasaanku pada Andi\, ah si***n aku lupa berkenalan dengan laki – laki itu dan menggodanya lebih lama” ucap Nita dengan tangan yang sudah mengepal.


Tampak beberapa pria datang menghampiri Nita yang masih memegang kaki kiri yang sama sekali tak dirasa sakit, “Permisi apakah anda nona yang sakit itu, mari saya bantu” ucap seorang laki – laki tinggi di atas Nita sedikit.


“Aku tak apa, jangan pegang dan hiraukan aku” teriak Nita kemudian pergi dari hadapan pria itu. Mereka yang melihat wanita itu berjalan baik – baik saja saling bertatapan dan menggidikkan bahunya.