
“Ternyata besar juga nyalinya ingin merebut kekasihku” ucap Rendra yang kini sudah berada disalah satu kamar hotel Ayana Nusa dua Bali bersama ketiga orang temannya.
Keempat laki – laki itu telah selesai mendengar rekaman percakapan Shita dengan laki – laki misterius yang selalu mengusik Shita selama ini.
“Ini maksudmu kemarin?” tanya Riko yang berada disebelah kanan Rendra.
“Bukan cuma ini, mungkin juga sahamku yang dibeli oleh seseorang yang tak dikenal pembelinya adalah laki – laki ini. Ah dia juga pernah ke hotel tempat keluarga Shita menginap selama di Jakarta” ucap Rendra dengan santainya.
“Apa?” teriak Riko. “Gak usah teriak - teriak ko, terus apa yang akan kamu lakukan selanjutnya, tak baik juga jika kamu terus – terusan menyadap ponsel kekasihmu Rendra” ujar Wisnu memberikan saran.
“Gak usah muncrat juga lu ko. Aku sudah menghapus perangkatnya, Aku ingin lihat seberapa berani ia menyentuh dan mengusik keluarga Jaya juga kekasihku. Dengan mudahnya aku bisa mengetahui identitasnya jika aku sudah meminta bantuan kakekku. Tapi aku masih ingin menghadapinya sendiri dengan bantuan kalian walaupun aku belum tahu identitas orang itu.” Tutur Rendra yang menatap satu persatu sahabatnya.
“Bisa kau ceritakan bagaimana rencanamu agar kita bisa membantumu?” tanya Niko yang semakin dibuat penasaran oleh ucapan Rendra.
“Begini” Rendra menyuruh ketiga sahabatnya untuk mendekatkan telinga mereka.
Ketiganya nampak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Rendra.
“Apa kau yakin untuk mengawali rencanamu dengan ini? Tapi apakah Shita setuju?” tanya Wisnu.
“Aku tak perlu persetujuannya karena ia akan menerima apapun keputusanku, itu yang aku yakini sejauh ini menjalin hubungan dengannya” tutur Rendra meyakinkan ketiga temannya.
“Baiklah jika itu keputusanmu, maka kami akan membantumu. Buatlah kunci yang hanya di ketahui olehmu dan Shita” ucap Riko mendukung apa yang dilakukan oleh sahabatnya.
“Terima kasih telah mempercayaiku” ucap Rendra menepuk – nepuk pundak sahabatnya yang kemudian menyusun rencana lagi dalam otaknya untuk menghadapi laki – laki itu.
Tok tok tok
Ceklek
“Tuan, ini ada kiriman paket tanpa nama pengirim yang ditujukan langsung untuk Tuan” kata Bimo dari ambang pintu dengan kotak sedang ditangannya.
“Bawa kemari Bimo” mendengar apa yang dikatakan tuannya, Bimo berjalan ke arah Rendra dan menyerahkan paket yang memang untuk Rendra. Setelah itu Bimo meminta izin untuk keluar.
‘Siapa yang mengirimkan ini untukku?’ lirih Rendra dalam hati kemudian bergegas membuka paket yang kini sudah ada ditangannya.
Betapa terkejutnya laki – laki itu melihat isi kotak yang ternyata adalah foto dirinya dengan orang yang masih ia ingat dengan jelas siapa itu, orang yang sama sepertinya namun nasibnya mungkin berbeda. Begitu banyaknya foto – foto dalam paket itu hingga membuat bayang masa lalu dan menimbulkan gejolak yang begitu besar di pikirannya.
“Hahh, pergii. Cepat buang semua ini cepatt” teriak Rendra histeris hingga mengangetkan ketiga sahabatnya yang sibuk dengan urusan mereka. “Tolong aku” teriaknya lagi yang kini sudah beralih ke ranjang dan menutup dirinya dibawah selimut.
Niko yang melihat kepanikan Rendra dengan cepat mengambil paket itu dan melihat isi di dalamnya hingga membuat laki – laki itu pun kaget begitupun Wisnu dan Riko yang ikut melihat isi kotak itu tak kalah kaget sama seperti Niko. Ketiganya mendekat ke arah Rendra yang terlihat di landa kepanikan hingga menyisakan keringat dingin di dahi Rendra.
“Gue udah berusaha, gue udah berusaha. Tolong buang jauh – jauh itu, cepat Niko” teriak Rendra masih dalam posisi duduk namun tangan dan kakinya terus saja bergetar.
“Kamu tenang Ndra, ada kita bertiga disini. Kamu yakin tak membutuhkan obat penenang saat ini?” tanya Wisnu memegang pundak Rendra yang tega melihat keadaan sahabatnya yang seperti itu.
“Tidak, tidak aku tidak mau mengkonsumsinya lagi, aku hanya ingin suasana yang tenang saja dan kalian tetap disini” sahut Rendra dengan mata yang melihat ke sana kemari.
“Aku sudah membuang kotak itu, kalian jaga disini aku akan menanyakan pada Bimo darimana dia mendapatkan paket itu dan memberitahukan pada om Hendra tentang kondisi Rendra” kata Niko kemudian berlalu dari kamar tersebut.
“Om Hendra akan datang sebentar lagi, dia masih dalam perjalanan” tambah Niko. Sedari tadi ia menatap lekat manik mata Rendra yang benar – benar merasakan ketakutan mendalam. Melihat Rendra yang seperti itu membuat hati Niko begitu terenyuh.
‘Tuhan tolong jangan jadikan sahabatku seperti dulu, hamba mohon’ gumamnya dalam hati dengan rahang mengeras dan tangan yang sudah mengepal dengan keras.
“Apa kamu ingin Shita datang kesini dan menemanimu?” tanya Riko pada Rendra yang masih saya bergetar tangan dan kakinya. Mereka memang menjalani persahabatan tanpa ada yang mereka tutupi, bahkan masa lalu dan apa yang mereka alami. Tak heran jika ketiga sahabat Rendra mengerti dengan apa yang dialami oleh Rendra saat ini.
“Jangan Riko, aku tak ingin Shita mengetahui apa yang aku alami saat ini. Biarkan aku yang mengatakannya nanti sekalipun itu setelah itu ia akan pergi meninggalkan aku tak apa. Aku hanya ingin lebih lama bersamanya hingga nanti aku bisa menyiapkan hatiku untuk melepaskannya pergi”
“Mengapa kau mengatakan seperti itu Rendra? Shita itu wanita yang baik, percayalah dia akan menerimamu” sahut Wisnu yang merasakan juga apa yang dirasakan oleh Rendra.
“Tidak, aku sudah mengetahui apa jawabannya aku juga sudah menanyakan itu semua padanya dan sekarang aku harus belajar untuk menata hatiku agar tak begitu rapuh walau aku tahu aku tidak akan sanggup jika tanpanya” ucap Rendra yang masih saja terlihat ketakutan juga kegelisahan di raut wajahnya saat itu.
---
Jakarta, 18.00
Tingtingting
Bunyi sebuah lonceng salah satu restoran tempat bertemunya Jodi dan Andi.
“Kau sudah lama? Maaf tadi jalanan sungguh macet” tanya Andi yang baru saja datang.
“Tidak, duduklah. Perkenalkan ini Nita adik sepupuku dan Nita ini teman kakak namaya Andi. Dia salah satu dokter terbaik ditempatmu bekerja nanti sekaligus seniormu di spesialis penyakit dalam” ucap Jodi memperkenalkan.
Wanita itu berdiri kemudian memperkenalkan dirinya. “Nita”
“Hai Nita senang bisa berkenalan denganmu, panggil saja aku Andi”
Mereka pun larut dalam perkenalan dan obrolan masing – masing. Nita yang sedari tadi memperhatikan Andi secara diam – diam refleks mengalihkan pandangannya ketika mata mereka bertemu beberapa kali. Jantungnya berdetak tak karuan jauh dari biasanya, wajahnya berubah memerah karena gugup dan malunya, namun wanita itu berusaha menutup apa yang ia rasakan saat itu.
"Mengapa rasanya begini? Sadarlah Nita, kau hanya menginginkan si tampan itu. Kau harus merebutnya dari wanita itu. Tapi laki - laki ini juga mengagumkan tidak mungkin kak Jodi memiliki teman orang biasa, pasti laki - laki ini setara dengan kak Jodi, ah bisa jadi lebih juga kan"
Ting
Sebuah email masuk ke ponsel Nita dan langsung dibaca olehnya. Ia mengernyitkan dahi melihat banyaknya foto – foto Shita dan Rendra yang sedang bersama di Bali, namun ia tak mengenal siapa pengirim email tersebut.
Ting
“Apa kau menginginkan laki – laki itu hingga kau menyuruh seseorang untuk mematai mereka NITA PURNAMA?” begitulah isi email tersebut hingga membuat wanita itu terkejut darimana si pengirim email mengetahui namanya.
"Siapa orang ini? Mengapa dia mengetahui apa yang aku perbuat? Terserahlah"
Tak ingin terlalu memikirkannya, Nita pun meletakkan ponsel itu lagi di tasnya dan ikut berbincang dengan Jodi dan Andi yang kini pembicaraan mereka mengarah tentang dirinya.
“Hahaha ternyata wanita ini tak benar – benar menginginkan Rendra\, jadi senjata andalanku hanya ada satu yaitu Tara. Aku penasaran bagaimana reaksi ba****an itu melihat paket yang aku kirim” ucapnya sendiri diselingi tawa setelahnya.
“Awalnya aku ingin mengajak wanita ini untuk bekerja sama denganku menghancurkan Rendra, tapi siapa sangka jika targetnya adalah wanitaku. Baguslah jika niatmu hanya sekecil itu untuk menyentuhnya, jika lebih dari apa yang aku pikirkan jangan salahkan aku jika semua yang kamu miliki hancur dalam sekejap tikus kecil” tambahnya namun matanya tak berhenti menatap lekat foto dan biodata Nita yang kini telah ia genggam.