
Malam pun tiba, kak Marvin sudah berada di depan pintu kostku dengan mobil silvernya.
Aku yang sejak sore panik dengan apa yang harus aku kenakan sampai aku mengobrak abrik lemariku untuk menemukan pakaian yang cocok untuk ku gunakan saat makan malam bersama dengan kak Marvin.
Terdengar ketukan pintu kost ku yang ku yakini kak Marvin lah yang datang. Aku pun membuka
pintu kostku dan melihat kak Marvin yang berbeda dari biasanya. Dengan kemeja hitam yang ditutup dengan jas hitam meningkatkan level tampannya walau tidak dipungkiri kak Marvin sebenarnya memang terlihat tampan 😁😁
"Kamu cantik dengan dress merah itu Shita. Sebenarnya kamu selalu cantik tapi malam
ini kamu lebih cantik dari biasanya" puji Marvin yang tak berhenti melihat Shita dari atas hingga bawah.
Aku yang baru pertama kali berada disituasi dan dipuji seperti itu hanya bisa
menunduk agar kak Marvin tak melihat wajahku yang sudah seperti kepiting rebus karena ulahnya.
"Mari Shita, kita berangkat sekarang sebelum hari semakin malam"
Akupun mengikutinya dari belakang dengan dia menggandeng tanganku. Akupun tak mengerti mengapa aku merasa seperti panas dingin padahal aku merasa sehat sejak tadi.
Kak marvin pun melajukan mobilnya ke restoran xx dengan menu seafood. Aku hanya bisa menahan rindu terhadap keluargaku dikampung karena melihat segala menu yang disediakan oleh restoran itu. Cukup lama kami menunggu dan makanan pun datang.
"Silakan dimakan Shita aku traktir kamu hari ini sebagai hadiah kamu telah menyelesaikan ujian akhirmu dengan baik" jelas Marvin dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.
Setelah selesai makan, kak Marvin menggandengku dan mengajakku ke sisi pinggir restoran untuk melihat pemandangan malam.
"Shita, terima kasih untuk malam ini. Boleh aku jujur padamu Shita? Aku ingin mengatakan yang sejujurnya padamu. Aku menyukaimu Shita dari awal kita bertemu saat pesta Jodi kamu ingat itu Shita? Maaf jika aku menanyakan semua hal tentangmu pada Jodi. Sungguh aku hanya berniat untuk dekat denganmu. Semakin dekat denganmu semakin pula aku menyukaimu Shita, Maukah kamu menjadi kekasihku?” ucap kak Marvin yang berada dihadapanku dengan seingat bunga mawar putih yang entah ia dapatkan darimana.
Aku terkejut dan terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Kak Malvin. Dengan cepat aku mengembalikan ekspresi wajahnya seperti semula. Aku yang tak pernah berpacaran sebelumnya dengan jujur mengatakan pada kak Marvin tentang perasaanku.
"Tak apa Shita, dengan baru memulai perasaanmu untukku saja itu menunjukkan jika kamu mau memulai denganku. Aku berharap dengan bergantinya waktu rasamu akan semakin bertumbuh untukku. Kejarlah impianmu Shita, aku takkan melarang segala hal yang ingin kamu lakukan. Terima kasih Shita, terima kasih sudah mau menerimaku" Ucap Marvin sembari memeluk Shita dengan eratnya.
Aku sedikit bingung dengan apa yang harus aku lakukan bahkan saat kak Marvin memelukku. Aku hanya terdiam sembari menunggu pelukan kak Marvin meleraikan pelukannya padaku.
"Maaf Shita aku tak sengaja melakukannya, aku terlalu senang karena kamu mau menerimaku" Jelas Marvin dengan wajah yang berbinar. “Karena kita sudah berpacaran bolehkan aku memanggilmu ‘sayang’?” tambahnya.
"Tak apa kak. Boleh aku minta suatu hal kak? Aku ingin saat kita menjalani hubungan ini dengan biasa - biasa saja kak dengan hal yang normal - normal saja. Hanya boleh berpelukan cium kening dan pipi saja. Apakah kakak mau menuruti keinginanku?" Tanya Shita tegas.
"Baiklah Shita, aku akan menuruti keinginanmu. Karena aku begitu mencintaimu. Namun jika aku ingin mencium bibirmu bagaimana Shita?" canda Malvin pada seorang gadis yang ada dihadapannya yang kini sudah menjadi kekasihnya.
Shita hanya menghela nafas panjang dengan pertanyaan yang dilontarkan lelaki yang kini berstatus sebagai kekasihnya.
Tak terasa 2 tahun sudah perjalanan hubunganku dengan kak Marvin. Kini aku bisa menyayanginya tapi belum terlalu mencintainya karena aku akan menyerahkan sepenuh hatiku padanya jika nanti kita sudah menikah. Dia begitu baik namun belakangan ini kami jarang berkomunikasi entah apa yang membuatnya begitu karena setiap aku tanyakan mengapa dia hanya menjawab sedang sibuk bekerja dan aku mencoba untuk percaya itu.
Tepat diperayaan hari jadi kami yang kedua kak marvin mengajakku makan malam ditempat pertama kali ia mengutarakan perasaannya untuk menebus rasa bersalahnya karena mengabaikanku sekaligus merayakan hari jadi kami.
Setelah selesai makan ia mengajakku ke apartemennya dengan alasan mengambil hadiah yang akan diberikannya padaku namun yang tertinggal disana.
Sesampainya di apartemen yang berada dikawasan Kuningan Jakarta Selatan kak Marvin menggandeng tanganku dan mengajakku untuk ikut masuk ke dalam apartemennya.
Aku yang percaya padanya tak menaruh rasa curiga sedikitpun terhadap tindakannya saat itu. Aku duduk di single sofa sana. Dia mulai membuka percakapan sembari berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil apa yang ia maksud dengan hadiah.
Aku sedikit melirik ke arah jam tangan yang melingkar di tangan kiriku. Sudah menunjukkan set 10 malam pikirku. Mengapa kak Marvin begitu lama jika hanya mengambil hadiah.
Kemudian ku lihat kak marvin keluar dengan pakaian yang sudah diganti menjadi pakaian yg biasa digunakan dirumah menurutku.